Monday, December 2, 2019

Download Al Quran Terjemah Bahasa Jawa Al Huda
Download Al Quran Terjemah Bahasa Jawa Al Huda. Senin (2/12/2019) berkesempatan silaturahim ke Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah di Jl. KH. Ahmad Dahlan. Bertemu dengan 'penunggu' markas MPI, Mas Adhim. Selain mendapat secangkir kopi, dapat pula oleh-oleh beberapa buku dan yang fenomenal scan Al Quran Terjemah Bahasa Jawa Al Huda.



Bagi Anda yang membutuhkan, silakan Download Al Quran Terjemah Bahasa Jawa Al Huda. Download

Wednesday, November 27, 2019

Cara Menampilkan Menu Toolbar MS Word yang Hilang

Cara menampilkan menu toolbar MS Word yang hilang atau menyembunyikannya. Tanpa sengaja terkadang menu toolbar pada bagian atas MS Word hilang atau tersembunyi. Akan muncul lagi ketika diklik, namun akan hilang lagi.

Ini tentu merepotkan. Berikut cara menampilkan menu toolbar di bagian atas MS Word yang hilang.

1.     Arahkan cursor ke bagian menu toolbar.
2.     Pastikan berada di bagian atas atau bawah (lihat gambar)

3.     Klik kanan
4.     Pilih Minimize the Ribbon

Jika ada tanda centang, berarti menu toolbar tersembunyi.
Jika tanda centang hilang berarti menu toolbar terlihat


Semoga bermanfaat.


Tuesday, November 26, 2019

Gagasan Memerdekakan Pikiran untuk Kaum Perempuan

“Bocah-bocah dimerdekakke pikire” (Anak-anak dimerdekakan pikirannya). Sepenggal kalimat itu dilontarkan tokoh Muhammadiyah dalam sebuah kongres pada tahun 1925. Demikian menurut tulisan Mitsuo Nakamura, profesor asal Jepang yang banyak mengulas gerakan Islam modern di Indonesia. Gagasan tersebut diejawantahkan dalam sistem pendidikan di Sekolah Muhammadiyah pada tahun 1930-an sehingga mampu melahirkan kader-kader bangsa yang melek huruf, nasionalis, teguh beriman, dapat berdaptasi dengan kemajuan dan mahir dalam organisasi.


Tidak terbatas menyasar kaum laki-laki, Muhammadiyah sejak awal juga memperhatikan pendidikan untuk perempuan. Pada 1918 berdiri Standard School Muhammadiyah setingkat dengan sekolah dasar lima tahun. Setahun kemudian dengan dorongan Somodirdjo, seorang aktifis Muhammadiyah, sebagian siswi sekolah tersebut membentuk kelompok Siswa Praya Wanita (SPW) yang pada akhirnya mengilhami berdirinya Nasyiatul Aisyiah, satu di antara organisasi otonom Muhammadiyah. Sebelumnya, pada 1914 dengan dukungan Kiai Ahmad Dahlan dan Siti Walidah terbentuk Sapa Tresna, yang lingkup gerakannya tidak terbatas kepada para siswi, melainkan untuk perempuan umum.

Diilhami oleh Surat An Nahl ayat 97, yang menyuratkan setiap diri memiliki tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya, tidak peduli ia lelaki maupun perempuan. Kiai Ahmad Dahlan memandang perlunya memberi pendidikan agama kepada kaum perempuan.

Langkah awal yang dilakukannya bersama istri, ialah mengundang keluarga dan tetangga dekat mengajak diskusi tentang ayat tersebut. Setelah ada pemahaman yang sama, Muhammadiyah secara terbuka mengimbau kepada warganya untuk memberi kesempatan para istri dan anak perempuan mengakses pendidikan agama.

Baca Juga : Umat Islam Bangkit, Darimana Harus Memulai?

Dalam literatur Jawa, yang kemudian menjadi panduan sebagian masyarakat seperti Serat Baratayuda, Gatholoco, Wedatama, Pantisastra, Candrarini dan Centhini, menyebutkan perempuan lebih diarahkan kepada peran domestik melayani suami, mengurus rumah dan anak-anak. Bahkan dalam pepatah Jawa dikatakan, ‘Wadon iku suwarga nunut, neraka katut’ dengan makna seorang perempuan dapat masuk surga atau terjerumus ke neraka tergantung perbuatan suaminya. Kepatuhan terhadap suami menjadi ajaran pokok yang harus dijalankan seorang perempuan.

Gerakan memerdekakan pikiran yang dilakukan Muhammadiyah berhasil memberikan ruang bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan dan melakukan peran kemasyarakatan. Termasuk aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan. Ketika Gunung Kelud meletus pada 1918 yanng menyebabkan jatuhnya banyak korban dan mengakibatkan penderitaan banyak orang. Perempuan Muhammadiyah ikut terlibat dalam inisiatif pembentukan lembaga Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang memberikan bantuan kepada para korban.

Baca Juga : Kemakmuran yang Mewujud dalam Dua Tahun Lima Bulan

Anggota Sapa Tresna dan Sapa Priya Wanita (SPW) aktif mengurusi dan merawat anak yatim-piatu, atau berorang tua tunggal. Mereka diberi makan, tempat tinggal, dan pendidikan. Sapa Tresna dan SPW jugar merangkul kelompok perempuan lain untuk bersama-sama menjalankan misi kemanusiaan. Hingga kini, kiprah memerdekakan pikiran yang dilakukan Sapa Tresna (‘Aisyiah) dan SPW (Nasyiatul ‘Aisyiah) terus dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.

Deliar Noer mencatat, pada 1925 Muhammadiyah telah berhasil mendirikan 32 standard school, sekolah dasar lima tahun untuk bumiputra, 14 madrasah, 1 schakelschool, sekolah lanjutan lima tahun, bagi lulusan standard school, 1 kweekschool, sekolah tinggi guru, dan 8 Hollands-Inlandse school (HIS), sekolah dasar tujuh tahun dengan mengadopsi kurikulum Belanda.

Tidak berlebihan jika Mendikbud Nadiem Makarim menaruh hormat kepada Muhammadiyah, “Inilah satu hal yang saya hormati mengenai organisasi ini, banyak sekali pemimpin-pemimpin yang hanya berbicara mengenai berbagai macam impian dan berbagai macam isi, tetapi  Muhammadiyah telah menujukkan bahwa dengan kelakuan dengan tindakan yang riil dia berhasil menciptakan bakti sosial.” (Mendikbud Nadiem Makarim, dalam Resepsi Milad Muhammadiyah 107, 18 November 2019 di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). [e]

Referensi :
Pergolakan Putri Islam, Perkembangan Wacana Jender dalam Nasyiatul ‘Aisyiah 1965-2005; Siti Syamsiyatun, M.A. Ph.D., Yogyakarta, Suara Muhammadiyah, Cetakan I, Agustus 2016;
Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta, Pustaka LP3ES, Cetakan kedelapan, Mei 1996)

Friday, November 22, 2019

Sekjen Kementerian Agama Lantik 83 Pranata Humas Se-Indonesia
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama M. Nur Kholis Setiawan, Jumat (22/11) pagi, melantik 83 Pranata Humas Kemenag se-Indonesia. Prosesi pelantikan digelar di Skyline Ballroom, Swissbell-Hotel Bogor. Hadir sebagai saksi pelantikan Plt. Kabiro Humas, Data dan Informasi Ali Rokhmad dan Kabag Humas Ubaidillah.




Menurut Sekjen, Pranata Humas memiliki fungsi sangat penting terkait diseminasi informasi khususnya pembangunan bidang agama. Sekjen mengisahkan cerita hoax yang menerpa kaum Anshor. “Dalam kitab Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Asyfiya’, dikabarkan bahwa setelah peristiwa Fathul Makkah, terjadi hoax atau kesalahpahaman terutama di kalangan Anshor. Mereka cemburu dengan Suku Quraisy yang karena merasa dekat dengan Rasulullah, meminta apa saja seperti surban, onta, kambing dan sebagainya,” urai Sekjen.

Rupanya salah satu sahabat Anshor, Sa’ad bin Ubadah, mengadu kepada Rasulullah yang lantas memintanya untuk mengumpulkan seluruh sahabat Anshor. “Dihadapan kaum Anshor, Rasulullah menegaskan, ‘Kaum Quraisy hanya butuh hartaku, sementara kalian akan membawa aku seutuhnya nanti ke Madinah.’ Statement inilah yang meruntuhkan hoax,” tandas Sekjen.

Baca Juga : Kisah Hibah Setengah Milyar

“Dalam kisah ini Sa’ad bin Ubadah sebenarnya memiliki fungsi kehumasan. Punya point signifikan meneruskan informasi,” sambung pria kelahiran Kebumen 10 November 1969 itu.


Untuk itu, Sekjen meminta dengan sangat bahwa Pranata Humas mampu tampil sebagai ujung tombak terdepan untuk amplifikasi pemberitaan yang mencerahkan dan mampu mengeliminasir potensi konflik.

Di samping itu, Sekjen juga mengingatkan bahwa tidaklah baik seseorang kecuali Allah mampu membuat orang ini memiliki pengaruh kebaikan. “Peran sebagai humas harus dilakukan dengan baik, benar dan tepat. Agar kebaikan mampu tersebar dan memengaruhi kebaikan-kebaikan lain,” imbuhnya. “Humas dituntut mampu meresonansi energi positif di lingkungan sekitarnya,” pungkas Sekjen.

Acara pelantikan yang dikemas dengan Bimbingan Teknis Jabatan Pranata Humas ini digelar hingga Sabtu (23/11). Seusai pengarahan Sekjen, dilanjutkan dengan pemaparan dari Plt. Kabiro HDI Ali Rokhmad dengan moderator Kabag Humas Ubaidillah. [bap/e]

Thursday, November 14, 2019

Download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)
Download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) - Bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat sebagai dampak kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Penggunaannya pun semakin luas dalam beragam ranah pemakaian, baik secara lisan maupun tulis. 


Oleh karena itu, kita memerlukan buku rujukan yang dapat dijadikan pedoman dan acuan berbagai kalangan pengguna bahasa Indonesia, terutama dalam pemakaian bahasa tulis, secara baik dan benar. Sehubungan dengan itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. 

Pedoman ini disusun untuk menyempurnakan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD). Pedoman ini diharapkan dapat mengakomodasi perkembangan bahasa Indonesia yang makin pesat. Semoga penerbitan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia secara langsung atau tidak langsung akan mempercepat proses tertib berbahasa Indonesia sehingga memantapkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.

Sumer : http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/


Silakan bisa didownload : Download PUEBI

Sunday, November 10, 2019

Madrasah Perempuan di New Delhi India
Mareike Winkelmann meneliti tentang madrasah untuk perempuan di New Delhi India. Selama ini banyak literature yang mengulas madrasah untuk laki-laki. Ada sebagian meneliti madrasah perempuan namun berfokus pada madrasah yang mengadopsi gaya pengajaran tradisional. Siswa belajar di rumah dengan seorang guru, penekanan pembelajaran kepada adab, dan tidak mempelajari ilmu umum.



Dengan meneliti Jamiat Al Niswan, Mareike Winkelmann berusaha mengungkap bahwa madrasah selain mengajarkan adab juga mengajarkan ilmu umum, perempuan diberi hak untuk berbicara dan mengakses budaya barat meski terbatas serti setelah lulus bisa terjun ke ranah professional.

Berikut review bebas dari, hasil penelitian Mareike Winkelmann.

      A.  Pendahuluan
     
     Penelitian yang di lakukan oleh Mareike Winkelman adalah penelitian terkait keberadaan perempuan di dalam madrasah maupun di luar madrasah. Melalui penelitian yang ada ini akan menjadi jawaban atas pertanyaan bagaimana keberadaan perempuan di tinjau dari dalam madrasah dan di luar madrasah. Selain itu dapat menjawab problem-problem yang kemudian menjadi hambatan atau tantangan bagi perempuan islam dan terlebih lagi bagi madrasah yang menampung perempuan dalam mengajarkan Pendidikan islam dimana penduduknya lebih didominasi agama Hindu.
     
     B.  Gambaran umum
  
   Penelitian ini di lakukan di New Delhi India. Dilakukan di salah satu madrasah yang mengampu perempuan-perempuan islam yang berada di India dan sekitarnya. Nama madrasah tersebut ialah jami’at al-Niswan yang didirikan tahun 1996. Madrasa ini berada di bawah perlinduangan Nadwat Al-Ulama di Lucknow (salah satu kota yang berada di India, kota yang dikenal sebagai kota toleransi, dimana umat Hindu dan Muslim menjalani hidup dengan harmonis). Dalam penelitian tersebut terdapat 180 siswa yang memiliki usia rata-rata 12-17 tahun masih tergolong remaja awal, dan semuannya berada di  madrasah tersebut.

Terdapat beberapa poin penting yang menjadi dasar dari penelitian ini antara lain :
1.     Transmisi pengetahuan islam pada anak-anak perempuan madrasah.
2.     Kurikulum informal.
3.     Peran jemaat tabligh dalam pelaksanaan sehari-hari di madrasah.

C.  Metode pembelajaran

Penting dicatat perjalanan para pria juga sebagai strategi rekrutmen Jamiªat al-Niswan. Pendiri dan manajer secara teratur melakukan perjalanan ke seluruh negeri untuk mengumpulkan dana untuk madrasah. Banyak siswa dari tempat-tempat di luar Delhi mendengar tentang Jamiªat al-Niswan dari para pengelana yang terkait dengan madrasah ini. Selain merekrut siswa baru - yang dalam kasus Jamiªat al-Niswan. Gadis-gadis dari keluarga inti yang terkait dengan Jamiªat al-Niswan menikahi anak laki-laki yang orang tuanya menetap di luar India, di Arab Saudi dan Afrika Selatan, misalnya.

Baik Jamaat Tabligh dan Jamiªat al-Niswan mewakili institusi yang sangat berbeda dari yang ada di sekitarnya. Sebagai contoh, mereka berbeda dalam inversi peran gender mereka (sementara dan terbatas). Dalam pengabaian mereka atas kemewahan yang terkait dengan ritual rumah tangga seperti pernikahan.

Berkenaan dengan inversi peran gender, perlu dicatat bahwa dalam Jamiªat al-Niswan adalah laki-laki yang menyiapkan makanan untuk siswa dan guru, sementara yang terakhir pada gilirannya harus mengurus pekerjaan laki-laki yang biasanya membersihkan sekolah. Bangunan serta pencucian, karena laki-laki tidak diizinkan memasuki gedung sekolah. Beberapa pengamat telah menyarankan bahwa bentuk-bentuk inversi peran gender (terbatas dan sementara) ini adalah tipikal dari Jamaat Tabligh juga, karena orang-orang yang 'bepergian di jalan Tuhan' dibiarkan menggunakan alat mereka sendiri dalam hal menjaga kebutuhan sehari-hari mereka selama perjalanan mereka.

D.  Materi Ajar

Meskipun pelajaran dalam adab atau 'pendidikan moral' hanya mengambil porsi yang relatif kecil dari jadwal, yaitu delapan jam seminggu, pengamatan mengonfirmasi bahwa adab meresapi urusan sehari-hari dan suasana keseluruhan Jamiªat al-Niswan. Selain itu, memperkenalkan dan merawat siswa dengan aturan yang ditetapkan oleh pemahaman masyarakat tentang adab tampaknya sangat penting ketika datang ke tujuan eksplisit madrasah untuk mewujudkan 'islah (reformasi) akhlaq (moralitas) dan ªamal (tindakan), seperti yang dikatakan brosur madrasah. Akhirnya, makalah penerimaan juga menyatakan bahwa 'siswa harus sepenuhnya menghormati para guru, pendiri, dan ulama di belakang Jamiªa'. Pertanyaannya adalah bagaimana tujuan ini dapat ditetapkan dan dipraktikkan.

Pelajaran pertama yang siswa pelajari tentang adab adalah bahwa mereka harus menunjukkan rasa hormat kepada guru mereka. Salah satu buku yang digunakan untuk kelas adab, berjudul Qira'at ur-Rashida, memuat kisah-kisah tentang kehidupan Nabi, para sahabatnya, dan para khalifah pertama. Kisah-kisahnya berhubungan dengan etika sosial, dan mengajarkan pembaca cara makan dan minum dengan benar, bagaimana menghadiri dan mengatur pernikahan, atau bagaimana menjalankan rumah tangga dengan pandangan untuk menyenangkan Allah.

Meskipun para gadis mengetahui bahwa, menurut Islam, mereka memiliki hak untuk memperoleh pengetahuan dan bahwa mereka juga memiliki hak, misalnya, untuk mengabaikan tugas-tugas rumah tangga tertentu yang dianggap 'tidak Islami', seperti persiapan ekstensif untuk pernikahan mewah, tingkat baru penegasan diri terhadap para remaja putri terpelajar ini juga memiliki potensi untuk menciptakan ketegangan di bidang domestik.

Berkenaan dengan kurikulum madrasah, kurikulum resmi tidak mengungkapkan bahwa dalam banyak kasus, buku-buku yang disebutkan tidak dipelajari sepenuhnya. Sebagai contoh, saya mengamati bahwa dalam kasus Hidaya, teks standar tentang yurisprudensi Hanafi, bab-bab yang diwajibkan untuk dipelajari oleh para gadis menunjukkan bahwa kurikulum ambisius sering dipersempit agar sesuai dengan batasan kursus lima tahun (seperti bertentangan dengan enam belas yang asli dan kemudian delapan tahun belajar untuk anak laki-laki).

Lebih penting lagi, perubahan-perubahan ini tampaknya telah dibuat dengan tujuan memperkuat tujuan pendidikan madrasah. Dengan kata lain, pendiri dan administrator Jamiªat al-Niswan menetapkan kurikulum, sehingga cita-cita pendidikan mereka yang mendasar menentukan apa yang akan menjadi fokus studi bagi para gadis. Akibatnya, pada saat mereka lulus mereka hanya dapat secara sah mengklaim mendapat informasi dalam hukum Hanafi dalam mata pelajaran yang berkaitan dengan perempuan, seperti pernikahan, perceraian, warisan, dan hak asuh anak, atau mata pelajaran yang dianggap layak untuk dipelajari dalam tempat pertama.

Secara keseluruhan, kurikulum tampak ambisius untuk kursus lima tahun. Dibandingkan dengan daftar kurikulum standar madrasah Malik menurut dars-i nizami, Malik juga menunjukkan bahwa banyak karya yang ditinggalkan (terutama yang berkaitan dengan fiqh, usul al-fiqh, logika, filsafat, ilmu matematika, astronomi, dan retorika).


E.  Peserta didik

Berdasarkan penelitian lapangan etnografis di madrasah perempuan di New Delhi, yang menampung sekitar 180 siswa berusia antara dua belas dan tujuh belas tahun. Madrasah yang selanjutnya akan saya sebut Jamiªat al-Niswan didirikan pada tahun 1996 di bawah perlindungan Nadwat al-Ulama di Lucknow dan merekrut siswa dari Delhi dan kota-kota lain serta desa-desa dari seluruh India.

Hubungan antara Jami’at al -Niswan dan Jama'at Tabligh secara resmi dimulai melalui madrasah Nadwat al-Ulama di Lucknow, ketika para pendiri madrasah anak perempuan mengadopsi kurikulumnya dengan penekanan kuat pada bahasa Arab. Selain itu, para pendiri laki-laki dari madrasah dan para anggota laki-laki dari keluarga inti aktif dalam gerakan pengkhotbah awam yang dikenal sebagai Jemaat Tabligh.

F. Kesimpulan

Ide reformis Muslim pada akhir abad ke-19 memengaruhi pendirian sekolah umum untuk perempuan Muslim. Sebelumnya pendidikan untuk perempuan khususnya dalam bidang agama menjadi urusan pribadi, tetapi akhirnya menjadi wacana publik, yang membentuk hubungan antara ranah domestik dan publik.

Hubungan antara Jami’at al -Niswan dan Jama'at Tabligh secara resmi dimulai melalui madrasah Nadwat al-Ulama di Lucknow, ketika para pendiri madrasah anak perempuan mengadopsi kurikulumnya dengan penekanan kuat pada bahasa Arab. Selain itu, para pendiri laki-laki dari madrasah dan para anggota laki-laki dari keluarga inti aktif dalam gerakan pengkhotbah awam yang dikenal sebagai Jemaat Tabligh.

Mengapa madrasah untuk anak perempuan didirikan pada awal 1950-an. Pertama, para pelindung pendidikan sebelumnya telah pergi; dan kedua, minoritas Muslim di India harus menemukan cara-cara baru untuk melestarikan warisan Islam mereka dan di sini wanita memainkan peran penting.

-------
Untuk mata kuliah disusun untuk tugas mata kuliah Kajian Teks Arab dan Inggris

Friday, November 1, 2019

Kisah Hibah Setengah Milyar
Di sela istirahat siang, mencoba membuka kembali percakapan di Whatsapp. Ini kisah lain dari beberapa pewakaf yang menakjubkan. Sulit dinalar. Setelah saya ceritakan ada seorang yang membawa puluhan gram emas warisan dari mertua dengan total nilai lebih dari empat puluh juta, seorang yang dengan ringan menyerahkan dua puluh juta hingga hamba Allah yang mewakafkan satu rumah berikut isinya.



Pekan kemarin, sebuah pesan WA masuk mengabarkan niat seorang muslim menyumbang pesantren wirausaha yang sedang kami rintis. Bentuknya bukan berupa uang melainkan dua bidang tanah, ditaksir oleh beliau nilainya Rp 670 juta alias setengah milyar lebih 170 juta! Subhanallah. Maha Suci Allah yang menggerakan hati setiap insan.
----
Singkat cerita, kami berembug untuk 'menguangkan' dua bidang tanah tersebut. Jumlah sekian tentu bukan sedikit menurut ukuran kami, butuh waktu untuk mencari pembeli. Maka energi syirkah kami terapkan, patungan membeli tanah tersebut dan hasilnya diserahkan untuk pembangunan pesantren.
Dengan energi Syirkah, ternyata tidak butuh waktu lama. Bahkan mampu mengundang muslim lainnya untuk bersama dalam bersyirkah. Mereka dengan senang bergabung ke dalam Lembaga Pengembangan Wakaf dan Property yang kami rintis.
----
Lantas, apakah tanah tersebut akan kami manfaatkan sendiri? Tentu tidak, menurut rencana akan dibuat talud dan dipecah menjadi beberapa kavling. Sebelum dipasarkan kepada pembeli. Taksiran awal, setidaknya bisa laku di atas Rp700 juta!
Demikianlah, perpaduan antara kedermawanan dan syirkah. Membuat sesuatu yang sebelumnya mustahil dan sulit, bisa diselesaikan dengan cepat.
Sekali lagi saya percaya, banyak muslim yang kaya lagi dermawan. Saya juga percaya, menjadi pengusaha itu banyak manfaatnya.
Harta sesungguhnya adalah apa yang dimakan hingga habis, digunakan hingga usang dan disedekahkan. “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim)"

Barat || 25 Oktober 2019
Kemakmuran yang Mewujud dalam Dua Tahun Lima Bulan

Itu adalah waktu Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah. Jangka masa yang sama dengan kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shidiq. Imam As-Suyuthi menulis, Umar bin Abdul Aziz dibaiat pada Bulan Shafar tahun 99 Hijriyah. Menggantikan Sulaiman bin Abdul Aziz, sesuai wasiat yang tertulis sebelum Sulaiman wafat.


"Demi Allah, sesungguhnya saya tidak pernah sekalipun memohon perkara ini kepada Allah." Kata yang terucap sebagai cermin kekagetan. Meskipun beberapa orang pernah mengatakan kepada Umar tentang kejadian yang mereka lihat dalam mimpi maupun perkataan dalam riawayat terdahulu. Bahwa Umar akan menjadi seorang pemimpin yang memerintah dengan adil dan membawa kemakmuran bagi rakyatnya.

Seusai dilantik, kendaraan khusus untuk khalifah telah disiapkan berikut para petugas yang mengawalnya. Umar lantas berucap, "Bawalah kendaraan itu ke pasar, juallah dan simpan uangnya ke Baitul Mal. Saya cukup dengan kendaraanku saja."

Umar mengumpulkan keluarganya dari Bani Marwan, dan menjelaskan semasa Rasulullah SAW. terdapat sebidang tanah Fadak yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan Bani Hasyim dan membantu menikahkan perempuan-perempuan di kalangan mereka. Saat Fatimah, putri Rasulullah bermaksud meminta sebagian hasil dari tanah Fadak Rasulullah menolaknya. Demikian pula dilakukan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Maka Umar bin Abdul Aziz mengungkapkan kepada keluarganya, agar tidak mengambil bagian dari hasil tanah itu.

Umar bin Abdul Aziz berusaha membersihkan keluarganya dari mengambil harta yang bukan menjadi hak mereka. Kepada istrinya, Umar bin Abdul Aziz memberikan pilihan: kembalikan perhiasan (mutiara) ke Baitul Mal atau izinkan untuk meninggalkan dirinya untuk selamanya. Fathimah binti Abdul Malik pun memilih menyerahkan perhiasannya ke Baitul Mal.

Lantas apa kunci kesuksesan Umar bin Abdul Aziz yang dalam tempo singkat, sekitar 2,5 tahun mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya?

Tampaknya keadilan dan kesederhanaan menjadi kunci dari keberhasilan itu. Sebagai seorang pemimpin Umar bin Abdul Aziz berusaha untuk berlaku adil kepada siapapun, termasuk kepada keluarganya. Ia kembalikan harta benda yang sebelumnya diperoleh secara zalim. Dengan keadilan itu, membawa kemanfaatan bagi semua.

Malik bin Dinar menceritakan tentang penggembala yang tidak mengenal Umar bin Abdul Aziz namun merasa heran karena domba-domba mereka tidak dimakan Serigala. "Siapa orang saleh yang kini menjadi khalifah? Keadilannya telah mencegah serigala-serigala memakan domba-domba kami."

Kepada rakyat yang mengadukan kerusakan wilayahnya, Umar bin Abdul Aziz memberikan jawaban surat. "Jagalah kota dengan berlaku adil dan bersihkan jalan-jalan dari kezaliman. Karena itulah sebenar-benar perbaikan."

Selain itu, secara khusus, Umar bin Abdul Aziz meminta kepada Salim bin Abdullah untuk menuliskan riwayat hidup Umar bin Khattab dalam masalah sedekah, zakat dan infak. Nampaknya, Umar bin Abdul Aziz ingin mengetahui secara detail pelaksanaan sedekah, zakat dan infak pada masa Khalifah Umar bin Khattab memimpin.

Demikianlah, Umar bin Abdul Aziz yang dalam waktu relatif singkat dapat menghadirkan kemakmuran bagi rakyatnya. Membawa bangsa arab dan wilayah gurun sahara yang tandus dalam kecukupan. Terbaca dari berbagai kisah bagaimana pada masa itu harus mencari orang yang berhak untuk menerima zakat dan sedekah dari Baitul Mal.

"Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi dia tidak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai " (HR. Muslim).

Barat || 1 November 2019

Referensi :
Imam As-Suyuthi; Tarikh Khulafa’ Sejarah Para Penguasa Islam; Terj. Samson Rahman; Jakarta; Pustaka Al Kautsar; Cet 8 April 2011

Wednesday, October 23, 2019

Setengah Kuliah
Ada siasat yang biasa saya gunakan sewaktu kuliah. Dari lima atau enam hari efektif, dua atau tiga di antaranya saya manfaatkan untuk jualan. Menjadi sales kerupuk keliling. Ini adalah konsekuensi dari sebuah pilihan. Opsi menjadi 'alumni banyubiru' saya tepikan. Padahal jalan ke sana terbuka lebar, dari empat serangkai yang bersama-sama maju hanya saya yang akhirnya mandeg. Sebetulnya, beragam usaha bisa ditempuh untuk mewujudkan keinginan ibu-bapak.


Masih terngiang, sewaktu pertama pengecekan fisik dan nilai akademik. Petugas langsung nyeletuk "Nah ini calon bintara" Lalu memberikan serentetan pertanyaan, sampai akhirnya tahu seorang di antara punggawa Panitia Seleksi merupakan tetangga.
--------
Beberapa tawaran datang, namun tidak kami terima.
--------
Pilihan jatuh untuk melanjutkan pendidikan, ibu-bapak mewanti, jika ingin kuliah silakan cari biaya, ibu-bapak tidak kuasa. Sebuah restu yang saya sambut dengan gembira. Setahun, saya gunakan untuk menempa diri. Menjadi buruh pabrik di Bekasi, kemudian menjadi buruh Pabrik di selatan Merapi sambil mengikuti serangkaian seleksi masuk perguruan tinggi.
--------
UGM menjadi lokasi pertama untuk ikut ujian. Hanya saja ketika melihat antrian orang mendaftarkan diri, saya tidak cukup bersabar. Saya abaikan dan memilih pulang. Ketika waktu pendaftaran terakhir, berangkat pagi berharap tidak mengantri. Karena terlalu pagi, Oom saya mengajak untuk melihat perguruan tinggi keagamaan.
Sepi karena hari masih pagi. Alhamdulillah beberapa mahasiswa senior cukup responsif karena langsung menghampiri dan menjelaskan banyak hal. Pikiran lantas berubah, 'Kuliah bisa di mana saja, yang penting bisa belajar mencari ilmu' Jadilah, selama enam tahun menjadi mahasiswa perguruan berjas almamater hijau daun, yang sampai lulus saya tidak pernah membelinya dan memilikinya.
--------
Sesuai restu ibu-bapak, sebelum kuliah efektif saya harus punya penghasilan. Peluang datang, menjadi sales kerupuk keliling. Tetangga ada yang usaha pengemasan makanan kerupuk singkong. Maka dalam sepekan saya atur jadwal, pada hari-hari tertentu saya bolong kuliah, dengan bergiliran mata kuliah, sehingga bisa jualan dengan tingkat kehadiran (ketidakhadiran) wajar.
Dua tahun berjalan, alhamdulillah dari hasil jualan bisa membantu biaya kuliah dan harian. Sebelum akhirnya beralih ke usaha lain, jualan buku, sambil sesekali menulis di media massa dan berkongsi dengan teman membuka counter HP.
Larut dalam dunia jualan, hingga kuliah genap enam tahun. Untuk mengurangi waktu efektif, tidak pernah mengulangi mata kuliah, kecuali satu mata kuliah yang sebetulnya untuk semester atas yang akhirnya saya batalkan. Tidak mengulang mata kuliah bukan karena nilai baik, melainkan untuk meminimalkan waktu dan biaya yang terbuang percuma.
Ketika akan mencetak nilai transkrip, petugas bertanya. "Mas ini ada nilai D, tidak diulang?" "Tidak, silakan dicetak saja." Jadilah lembaran transkrip saya termasuk yang nyata-nyata mengakui keberagaman karena dari A, B, C, D ada semua.
Maka bisa disebut, selama enam tahun saya menjalani setengah kuliah di kampus. Setengahnya lagi kuliah di lapangan. Jualan!
Dalam sebuah kesempatan, Soichiro Honda, pendiri Honda mengungkapkan. "Orang-orang hanya Melihat 1% kesuksesan saya. Mereka tidak melihat 99% kegagalan saya."
Barat || 19 Oktober 2019

Thursday, October 17, 2019

Bambu, Banjir dan Biosphere
Dua hari kemarin berturut-turut berbagi cerita dengan kawan. Pertama dengan seorang kawan dari PDM Kota Yogyakarta, ketika belajar input data di aplikasi bedukmutu.com. Saya bercerita tentang startup yang telah terbukti membantu ribuan petani dari berbagai daerah, namanya IGrow (bisa dicek di igrow.asia)
Hari berikutnya, berbekal rasa penasaran, perjalanan saya arahkan ke selatan, beberapa km dari pantai selatan. Tepatnya di Bambanglipuro. Meski sempat muter-muter, rasanya saya hafal daerah itu. Akhirnya ketemu juga peternak inovatif, Madu Klanceng Jogja - MKJ yang rupanya hanya beberapa meter dari rumah 'Profesor' Pisang, Pak Lasiyo. Di sana selain melihat langsung peternakan Klanceng, sekaligus bercerita tentang IGrow.


-------
Kini, komisaris utama IGrow yang juga perintis puluhan startup unik meluncurkan startup baru yang memungkinkan orang dari berbagai daerah ikut membantu mengatasi banjir di Jakarta.
Seperti yang selalu terdengar setiap musim hujan, Jakarta menjadi daerah yang langganan terkena banjir. Letak Jakarta yang merupakan dataran rendah, menjadi wilayah yang terkena aliran air dari berbagai hulu sungai di Jawa Barat. Sehingga penanganan banjir Jakarta tidak bisa hanya dilakukan dengan pembuatan kanal-kanal, melainkan perlu solusi menyeluruh termasuk dengan memperbaiki daerah aliran sungai di Jawa Barat. Dan kita bisa berpartisipasi.
------
Caranya? Dengan menanam ribuan bambu. Bambu ini dikenal sebagai tanaman yang mampu mencegah erosi tanah, menahan air hujan sehingga bisa terserap tanah, serta cepat dalam perkembangbiakan.
Startup Biosphere, akan melakukan penanam untuk Anda. Menurut rencana untuk tahap awal akan ditanam 5000 Bambu. Satu unit bambu membutuhkan biaya Rp110ribu. Apabila bambu yang ditanam berhasil tumbuh baik, maka pemodal akan mendapatkan insentif.
Guna memastikan bambu tertanam dengan baik dan terawat, surveyor dan verifikator akan memeriksanya setiap enam bulan sekali. Sampai tiga kali pemeriksaan.
------
Yang pasti, kita bisa niatkan sebagai bagian kebersamaan dalam memelihara kelestarian alam dan mencoba berbuat nyata untuk menanggulangi banjir di Jakarta.
"Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya." (HR. Muslim)
sumber foto : biosphere.id