Friday, January 17, 2020

Gangguan Psikologi dan Penyakit Kejiwaan

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al ‘Asr [103: 1-3)

Topik penyakit mental beragam, mungkin terdapat lebih dari seratus jenis penyakit mental yang dikenal. Dua penyakit mental yang paling umum adalah depresi dan kecemasan. Keduanya bisa berakibat fatal hingga menyebabkan upaya orang untuk mengakhiri hidupnya karena tidak kuat menerima tekanan.



Depresi merupakan respon terhadap kehilangan masa lalu atau saat ini, sementara kecemasan umumnya merupakan respon terhadap ancaman kehilangan masa depan.

Mendefinisikan penyakit mental
Kesedihan merupakan aspek bawaan dari pengalaman manusia dan dapat dianggap sebagai lawan dari kebahagiaan. Kesedihan disebutkan dalam Al-Qur'an di beberapa tempat. Allah SWT. mengatakan kepada Nabi SAW. agar jangan bersedih atas orang-orang kafir: (Al Qur'an 3: 176) (Qur'an 26: 3)

Nabi Yakub sedih dengan hilangnya Yusuf, meskipun ia seorang Nabi tetapi juga merasakan sedih, (Qur'an 12: 84)

Tetapi ia tidak mengungkapkan kesedihannya atau kemarahan, meskipun ia  menduga bahwa anak yang lain ada hubungannya dengan hilangnya Yusuf.
Mereka yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan mengalami rasa takut atau kesedihan. Ini adalah salah satu janji Allah SWT. (Qur'an 2: 38)

Manusia merasa bersedih karena menghadapi kesulitan dan tantangan dalam kehidupan. Sedangkan depresi memiliki tingkatan yang lebih parah dan berkepanjangan, bahkan bisa menjadi kronis.

Istilah Arab untuk depresi adalah ikti'ab, yang berasal dari akar kata ka'iba, yang berarti sedih, putus asa. Ini menyiratkan kesedihan yang mendalam. Gejala-gejala depresi meliputi: perasaan depresi, kehilangan minat dalam kegiatan yang menyenangkan, perasaan tidak berharga dan rasa bersalah, konsentrasi yang buruk, perubahan nafsu makan dan berat badan (baik kenaikan atau penurunan), perubahan dalam tidur (baik insomnia, yang merupakan ketidakmampuan untuk tidur dengan baik, atau hipersomnia, yang tidur lebih dari yang diperlukan), dan pikiran untuk bunuh diri.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), depresi adalah penyebab utama kecacatan di seluruh dunia dan penyumbang utama keempat untuk penyumbang penyakit di dunia. Pada tahun 2020 diperkirakan mencapai tempat kedua untuk segala usia dan jenis kelamin.
Setiap tahun, depresi mempengaruhi 121 juta orang di seluruh dunia, sekitar sepuluh persen dari populasi wanita dan enam persen dari populasi pria.

Gangguan kecemasan ditandai dengan rasa sedih dan gugup, ketakutan dan khawatir, atau perilaku mal-adaptif. Gangguan kecemasan paling umum adalah:
Gangguan kecemasan secara umum: perasaan terus-menerus merasa cemas dan ketegangan, khawatir bahwa hal-hal buruk yang mungkin terjadi, ketegangan otot, agitasi dan insomnia.

Gangguan panik: serangan panik yang tiba-tiba, ketakutan yang intens yang mencakup gejala seperti jantung berdebar-debar, sesak napas, tersedak, gemetar dan pusing. Gejala sering dianggap sebagai serangan jantung atau penyakit fisik lainnya.
Fobia: ketakutan irasional ke objek tertentu, aktivitas, atau situasi seperti ketinggian, darah, hewan, terowongan, atau penerbangan.

Gangguan obsesif-kompulsif: obsesif, pikiran berulang yang menyebabkan kecemasan, diikuti oleh perilaku kompulsif atau berulang-ulang untuk mengurangi kecemasan. Contoh paling umum adalah perhatian obsesif dengan kotoran dan kuman, mencuci tangan yang berlebihan, mandi, atau menyikat gigi untuk menghilangkan kuman.
Kata lain yang digunakan dalam Al-Qur'an untuk menandakan stres psikologis adalah claqat, yang berarti menjadi atau menjadi sempit.

Ini juga berarti sedih, gelisah, atau depresi. Kata benda cleeq berarti sempit, sesak, atau kurungan, serta penderitaan, depresi, tertekan, atau. Rasa tertekan atau cemas sehingga dunia terasa sesak dan sempit.

Istilah ini digunakan dalam kisah tiga sahabat yang gagal bergabung dengan Rasulullah SAW dalam perang Tabuk. Ketiga orang itu Ka’ab ibn Malik, Hilal bin Umayyah dan Murarah bin ar¬ Rabi. Yang kemudian diterangkan dalam Al Quran :

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Qur'an At Taubah [9]: 118)”

Awalnya, Nabi SAW. tidak menerima alasan mereka karena tidak bergabung dalam pertempuran, dan umat Islam mengucilkan mereka selama lima puluh hari lima puluh malam.

Sehingga mereka merasa dunia menjadi sempit. Setelah itu, Allah menerima tobat mereka, dan mereka merasa lega.

Kejadian lain terjadi di Pertempuran Hunain. Muslim bangga dengan jumlah mereka yang banyak, tetapi jumlah tersebut ternyata tidak memberi keuntungan kepada mereka sama sekali; mereka menjadi terdesak dan mundur dari pertempuran.

Allah menjelaskan :
“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS At Taubah [9]: 25).

Konsep confimement atau penyempitan juga digunakan dalam Al Qur'an untuk merujuk pada jantung atau dada. Misalnya, mengenai orang-orang kafir, Allah SWT mengatakan:
“Dan siapa pun yang Dia ingin menyesatkan - Dia membuat sesak dadanya… (Qur'an 6: 125)

Dia juga mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW. mengenai orang-orang yang mengejek agama Allah: (Qur'an 15: 97)

Nabi Lut juga merasa penyempitan dan kesusahan ketika malaikat datang untuk menghancurkan kota.  (Quran 29: 33)

Bunuh Diri
Setiap tahun, sekitar 850.000 orang di seluruh dunia mengakhiri hidup mereka dengan bunuh diri. Ada berbagai faktor yang menyebabkan untuk bunuh diri, termasuk depresi dan gangguan mental lainnya, gangguan penyalahgunaan narkoba, riwayat keluarga bunuh diri, atau trauma. Lebih dari sembilan puluh persen dari mereka yang bunuh diri memiliki salah satu dari dua faktor pertama : depresi dan gangguan mental.

Beberapa faktor yang bisa mencegah terjadinya bunuh diri termasuk perawatan yang efektif untuk gangguan kekerasan mental, hubungan yang kuat untuk keluarga, dukungan masyarakat, dan keyakinan budaya dan agama yang mencegah bunuh diri dan menekankan diri preservation.

Religiusitas, dipercaya menjadi faktor yang kuat untuk mencegah terjadinya bunuh diri. Para peneliti menemukan bahwa tingkat bunuh diri yang lebih rendah Negara Muslim. Religiusitas dan komitmen agama berfungsi sebagai faktor pelindung bagi Muslim dan non-Muslim. Hal ini diperkirakan terkait dengan dasar-melestarikan kehidupan nilai-nilai, keyakinan, dan praktik yang mengurangi tingkat bunuh diri. Bagi kaum Muslim, topik tentang bunuh diri dalam ajaran agama, serta adanya hukuman kekal di api neraka terhadap orang yang bunuh diri, cenderung diperhatikan.

Nabi SAW. mengatakan: “Barangsiapa membunuh dirinya dengan senjata besi akan membawa senjata yang di tangannya dan menusuk perutnya dengan itu dalam api neraka…” HR. Bukhari

Al-Khatir menyebutkan poin penting dalam kaitannya dengan hadits ini. Hukuman yang disebutkan di sini akan diterapkan hanya kepada mereka yang bunuh diri dengan sengaja saat dalam kondisi pikiran waras. Orang yang menderita depresi berat atau memiliki penyakit mental lainnya tidak dianggap bertanggung jawab secara hukum, tergantung pada tingkat keparahan gangguan tersebut. Allah akan menghakimi mereka pada hari kiamat dan sesuai tujuan mereka. Untuk alasan ini, seseorang tidak dapat membenarkan klaim bahwa setiap orang yang melakukan bunuh diri akan dihukum ke neraka.

Penyebab Penyakit Mental
Teori-teori ilmiah mengungkapkan beberapa faktor penyebab munculnya penyakit mental termasuk faktor biologis (genetik atau ketidakseimbangan kimia di otak), pengalaman, dan sebagainya. Model sosial-kognitif depresi, misalnya, stres ditafsirka, pesimis, putus asa.

Islam mengakui bahwa faktor-faktor tersebut mungkin memiliki pengaruh. Beberapa penyakit mental mungkin murni akibat faktor biologis atau karena tekanan dalam kehidupan tetapi teori Islam tentang penyakit mental menekankan konsep penyakit rohani atau kematian. Bahkan, banyak dari penyakit mental hari ini kemungkinan besar karena tidak tercukupinya asupan spiritual. Ini tidak selalu berarti bahwa seseorang yang menderita penyakit mental secara memiliki kekurangan secara moral tetapi lebih karena seberapa jauh jaraknya dari Allah SWT.

Sebagai contoh, seseorang yang memiliki iman rendah mungkin lebih mudah untuk terkena setres ketika mendapatkan tantangan dalam kehidupannya.
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Qur'an 20: 124)

Mereka yang tidak beriman dan berpaling dari mengingat Allah akan mengalami hidup yang sulit. Hal ini mengacu pada berbagai bentuk kesulitan yang dihadapi manusia seperti depresi, kecemasan, kesedihan dan sebagainya, serta berbagai peristiwa kehidupan yang penuh tekanan.

Hidupnya akan sulit di dunia ini. Dia tidak akan memiliki ketenangan dan tidak ada melapangkan dadanya (kemudahan). Sebaliknya, dadanya akan dibatasi dan dalam kesulitan karena kesesatannya. Bahkan jika ia tampak untuk menjadi nyaman secara lahiriah dan dia memakai apa pun yang dia suka, makan apa pun yang dia suka dan tinggal di mana pun dia ingin, dia tidak akan bahagia. Karena sesungguhnya, hatinya tidak akan memiliki kepastian murni dan bimbingan. Dia akan berada dalam kebingungan dan keraguan.

Orang-orang yang terus-menerus mengikuti keyakinan dan praktik yang salah dalam hidup mereka, karena pilihan mereka sendiri, akan memiliki tertutup hatinya. Hal ini akan menyebabkan kekosongan tentang hakikat hidup dan kondisi dan spiritual.
“Dan janganlah seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Dia membuat mereka melupakan sendiri ... “ (Qur'an 59: 19)

Salah satu aspek dari kurangnya iman adalah cinta sesuatu yang lain lebih dari Allah Ta'ala, Yang Mahakuasa. Ibnu Qayyim al-Jawziyah menulis, mengenai konsekuensi bagi mereka yang mengambil objek cinta di atas Allah:

Untuk orang ini, itu adalah cara Allah untuk mengubah objek cinta dan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu menjadi sumber kesedihan, sebagai balasan karena telah menempatkan keinginan sendiri dan keinginan orang-orang yang percaya diri atau mencintainya lebih tinggi dari cintanya kepada Allah. Karena Allah telah menetapkan, sebagai bagian dari takdir yang tidak dapat berbalik atau ditolak, bahwa dia yang mencintai sesuatu selain Allah pasti akan tersiksa olehnya; bahwa yang takut orang lain selain Allah akan datang di bawah kekuasaannya; bahwa orang yang melibatkan dirinya dengan sesuatu dengan mengesampingkan Allah akan itu sumber kesedihan; bahwa orang yang lebih suka selain untuk Allah tidak akan diberkati di dalamnya; dan bahwa orang yang mencoba untuk menyenangkan sesama makhluk oleh apa pun tidak disukai Allah akan, tanpa gagal, membawa Allah kemarahan pada dirinya.

Teori Islam juga menggabungkan urusan dunia gaib, yang meliputi jin. Ketidaktaatan Allah kepada Allah menjadi jalan masuk untuk jin dan setan dengan mudah memangsa manusia. Melalui kerja sihir, iri hati, berbisik dan bahkan kepemilikan, jin dapat menyebabkan segala macam masalah psikologis dan sosial, termasuk kesusahan, kecemasan dan depresi.
Allah SWT. menyebutkan: Dalam (Qur'an 41: 49) (Qur'an 43: 36-37)

Iblis ini dapat mendatangkan gangguan psikologis kepada individu, seperti yang di bahas dalam bagian jin dan setan. Fenomena ini telah dikonfirmasi oleh penelitian ilmiah.

Religiusitas dan Kesehatan Mental
Terjadi peningkatan ketertarikan para ilmuwan untuk mengkaji hubungan antara religiusitas/spiritualitas dan kesehatan mental. Banyak penelitian menunjukkan hubungan antara variabel-variabel ini, bahwa mereka yang lebih religius cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik (dan fisik).

Di bidang kesehatan mental, lebih dari lima ratus studi telah menemukan hubungan positif yang signifikan antara religiusitas/spiritualitas dan kesehatan mental yang lebih baik. Ini secara khusus meliputi berkurangnya depresi dan lebih cepat pemulihan dari depresi, rendahnya kecemasan, tingkat bunuh diri yang lebih rendah dan penyalahgunaan Narkoba berkurang. Orang yang relijius cenderung memiliki harapan yang lebih baik,  memiliki optimisme, tujuan dan makna dalam hidup, kepuasan pernikahan yang lebih besar dan nyaman.

Studi telah menemukan, misalnya, bahwa orang-orang yang memiliki tingkat spiritualitas baik, akan tumbuh rasa peduli, suka membantu dan dapat mengatasi perasaan-perasaan kesepian, tertekan, atau cemas. Semakin banyak orang menekankan peran spiritualitas dan agama dalam memberikan tidak hanya potensi kuratif untuk penyakit mental, tetapi juga kekuatan preventif. Dalam Islam, pemahaman ini mendasar dengan sifat manusia dan keberhasilan dalam kehidupan ini.

Allah Ta'ala, Yang Mahakuasa telah memberikan obat dalam Al Qur'an, dan tersedia bagi setiap manusia. Bahkan mereka yang menderita penyakit mental dapat lega dengan mempertahankan harapan rahmat Allah, kembali kepada-Nya, dan mengandalkan-Nya untuk penyembuhan.

Allah SWT. menyebutkan dalam Al Qur'an pentingnya bimbingan, karena melalui bimbingan bahwa seseorang bisa menemukan kebenaran dan kebutuhan yang diperlukan untuk jiwa. (Qur' sebuah 17: 15)  (Qur'an 39: 41) (Qur'an 10: 108)

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Qur'an 39: 22)


Bahagianya Menjadi Bunda

            Jahimah As Salami mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin mengikuti peperangan.” Nabi bertanya, “Apakah ibumu masih ada?” Ia menjawab, “Ya” Rasulullah berkata, “Layanilah ia karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.” (HR. An Nasai)
            Hadits tersebut menunjukan bagaimana mulianya kedudukan seorang ibu. Seorang anak diperintahkan untuk berbakti kepada ibunya. Tanpa itu, mustahil surga akan teraih.
            Inti dari hadits itu juga senada dengan perintah penghormatan anak kepada ibunya sebanyak tiga kali lipat sebelum penghormatan kepada seorang ayah. Karena ibu memiliki peran penting dalam kehidupan seorang anak. Sejak di dalam kandungan hingga beranjak dewasa seorang anak memiliki ketergantungan akan peran ibu. Hingga biasanya anak memiliki kedekatan emosional lebih besar kepada ibunya ketimbang kepada ayahnya.



            Peran penting ibu tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan anak. Mewarnai perilaku dan pembangunan karakter anak. Pada masa selanjutnya semua itu akan mendukung kemampuan untuk meraih keberhasilan. Di sinilah seorang ibu memiliki tanggungjawab untuk mendidik anak-anaknya dengan baik.
            Al Quran telah menyajikan dua kisah tentang peran penting seorang ibu dalam mendidik anak.
Pertama, adalah kisah Nabi Musa as. yang semenjak bayi diasuh oleh Asiyah yang merupakan istri Fir’aun, seorang raja yang sangat ingkar kepada Allah. Musa tumbuh dalam lingkungan keluarga kerajaan yang dipenuhi kekafiran. Meski demikian ia dididik langsung oleh Asiyah, wanita yang salehah dan beriman. Pengaruh Asiyah lebih mewarnai perkembangan Musa, ketimbang pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Pada akhirnya nanti Musa menjadi seorang mukmin yang tetap beriman meskipun tumbuh dalam keluarga Fira’un.
Kedua, adalah kisah Kan’an yang tidak lain merupakan putra Nabi Nuh as. Kan’an tumbuh dalam didikan seorang ibu yang kafir. Durhaka kepada Allah dan durhaka kepada suami. Sifat Kan’an pun tidak jauh dari ibunya. Ia membangkang terhadap ajakan Nabi Nuh as. yang menyeru kepada keselamatan. Akhirnya Allah menenggelamkan Kan’an dengan air bah yang meluap melampaui bukit-bukit.
Dua kisah tersebut menjadi gambaran pentingnya peranan seorang ibu untuk mengantar anak-anaknya menjadi pribadi yang beriman, berakhlak baik serta mampu meraih keberhasilan di masa depan.
Terlihat pula bahwa faktor ibu lebih dominan ketimbang ayah dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Sudah semestinya setiap ibu menyadari akan hal ini. Membekali diri dengan keimanan dan akhlak terpuji karena nanti semua itu akan menjadi contoh bagi sang buah hati.
            Sebagai balasan atas semua jerih payah itu, Allah telah menyerukan kepada manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu.
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya.” (Al 'Ankabuut [29]: 8)
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman [31]: 14)
            Rasulullah juga mengingatkan. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, “Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
           

Thursday, January 16, 2020

Rahasia-Rahasia Alam yang Menakjubkan

Alam semesta merupakan ayat Allah yang menjadi bukti nyata keberadaan-Nya. Semua tercipta dengan sempurna tanpa ada yang sia-sia. Manusia sebagai khalifah telah diperintahkan oleh Allah untuk ‘membaca’ alam ini dengan melakukan eksplorasi dan observasi (penelitian) agar lebih bermanfaat bagi kehidupan. Dan hal itu tidak akan tercapai tanpa bekal ilmu pengetahuan.


Keteraturan alam telah lama membuat manusia kagum. Setiap fenomena yang ada menjadi bukti kebenaran ayat Al-Qur’an. Allah berfirman, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segala ufuk dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (Q.S. Fushilat: 53)

Sebenarnya setiap peristiwa yang terjadi di alam ini membawa manfaat dan hikmah bagi manusia. Hanya saja terkadang ilmu dan akal manusia tidak/belum sanggup untuk mencapainya. Ibnul Qoyyim berkata, “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah yang bisa kita saripatikan. Namun akal kita amat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit, dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika disandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lentera yang sia-sia di bawah sinar Matahari.”

1.      Cerdiknya Burung Kuntul
Burung Kuntul dan sejenisnya sering melakukan penerbangan yang jauh untuk bermigrasi. Mereka terbang secara bergerombol untuk mengurangi resiko tersesat dan menghindari gangguan predator (pemangsa).
Mereka mempunyai kebiasaan yang unik pada saat terbang dengan membentuk formasi ‘V’. Formasi ini dilakukan untuk menghemat energi karena pada saat terbang tubuh mereka akan terpengaruh gaya hambat udara (drag force) akibat adanya tumbukkan dengan partikel-partikel udara.
Daerah di belakang tubuh mempunyai tekanan yang lebih rendah ini menyebabkan tubuh burung akan terdorong kebelakang. Dengan melakukan formasi ‘V’ maka tekanan terbesar hanya diterima tubuh burung paling depan (pemimpin) sedang burung-burung di belakangnya akan menerima tekanan yang lebih rendah. Apabila sang pemimpin sudah lelah secara sukarela burung lain akan segera berada di depan menggantikannya.
Di samping membentuk formasi ‘V’ burung dapat terbang dengan mudah karena Allah telah mendesain tubuh mereka secara aerodinamik (tidak ada sudut yang tajam). Inilah salah satu karunia yang diberikan Allah dan mereka tidak lupa mensyukurinya dengan selalu bertasbih kepada-Nya. “Tidakkah kamu tahu bahwasannya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi dan (juga) burung-burung dengan mengembangkan sayapnya.” (Q.S. An-Nuur: 41)

2.      Rumitnya Sarang Laba-Laba
Sarang Laba-laba terdiri dari jaring-jaring halus dan kecil yang dirangkai secara teratur. Para ahli serangga menyatakan bahwa sebenarnya setiap jaring Laba-laba berasal dari gabungan empat (4) serat yang lebih kecil, dan setiap seratnya terdiri dari seribu serat yang sangat halus dengan ukuran 0.4-9 mm.. Jadi setiap jaring Laba-laba merupakan gabungan dari 4000 serat.
Serat-serat tersebut dihasilkan dari saluran khusus secara bersamaan dari 4000 lubang yang berbeda. Kemudian serat tersebut menyatu menjadi 4 utas  dan keluar  menajdi jaring yang siap di rangkai.
Meskipun sangat rumit dalam pembuatannya akan tetapi sarang Laba-laba merupakan rumah yang paling lemah, sebagaiman firman Allah, “Perumpmaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti Laba-Laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya  rumah yang paling lemah adalah rumah Laba-laba kalau mereka mengetahui.” (Q.S. Al-Ankabuut: 41)

3.      Perhatikan Kulit Kita !
Kulit merupakan salah satu dari panca indera manusia yang berfungsi sebagai alat perasa.dan peraba. Kulit juga berfungsi menjaga suhu tubuh dan sebagai saluran sekresi (berupa keringat).
            Kulit manusia terdiri dari dua lapisan yakni, lapisan kulit ari dan lapisan kulit jangat. Kulit ari sangat tipis dan mudah mengelupas karena terdiri dari otot sel-sel yang telah mati. Di permukaannya terdapat lapisan yang disebut lapisan tanduk.
            Sedang lapisan kulit jangat berukuran lebih tebal, terdiri dari pembuliuh darah, akar rambut, kelenjar keringat dan butir-butir lemak. Dalam lapisan ini terdapat ujung-ujung syaraf yang berfungsi menerima rangsangan dari luar sehingga otak mampu memprosesnya dan tubuh memebruikan respon. Orang yang tidak lagi mempunyai lapisan kulit ini, misal karena terbakar, maka ia tidak lagi menerima rangsangan yang berupa panas, dimgim, kasar. halus dsb.  Hal ini akan membahayakan apabila terjadi kecelakaan karena tidak mampu merasakan sakit saat terpotong, tersayat atau terbakar.
            Dengan lapisan kulit inilah ahli neraka akan merasakan azab yang kekal karena Allah akan selalu mengganti kulit mereka dengan yang baru. Allah berfirman, “Setiap kali kulit mereka hangus, Kami akan ganti kulit mereka dengan yang lain, supaya mereka merasakan azab.” (Q.S. An-Nisaa’: 56)

4.      Listrik Tenaga Surya
Beberapa dekade terakhir manusia telah memanfaatkan sinar Matahari sebgai sumber listrik. Disamping relatif lebih murah sinar Matahari juga tersedia dalam jumlah yang melimpah.
Hal yang menakjubkan ternyata cara kerja pada proses pengubahan sinar Matahari menjadi energi listirk sangat mirip dengan proses fotosintesis tumbuhan. Fotosintesis merupakan proses reaksi antara karbon dioksida (Co2) dan air dengan bantuan sinar Matahari. Hasilnya berupa energi dan oksigen yang berguna bagi kehidupan manusia. Pada proses ini klorofil (zat hijau daun --yang ternyata juga terdapat pada pohon) berfungsi sebagai penangkap sinar Matahari kemudian ditransfer ke dalam proses reaksi kimia. Inilah yang menjadi sumber inspirsai para ilmuwan untuk menciptakan energi listrik tenaga surya dengan menggunakan solar cell untuk mengumpulkan sinar Matahari. Allah telah mengisyaratkan ini dalam firman-Nya, “Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu apai dari kayu (daun) yang hijau, maka tiba-tiba kamu menyalakan api dari daun itu.” (Q.S. Yasiin:’ 80)
Masih banyak lagi keajaiban alam yang menjadi bukti kebenaran Al-Qur’an. Denag Ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang bukan mustahil di masa mendatang akan semakin banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Wallahu ‘alam bi shawwab.

                                               Eko Triyanto
                                    Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga
   Yogyakarta.


Wednesday, January 15, 2020

Relativitas Waktu, Memperpanjang Usia

“Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Asr: 1-3)

 Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ‘waktu’, hingga Allah bersumpah demi ‘waktu’? Sejak lama para ilmuwan dan filsuf (ahli filsafat) mencoba memecahkan misteri tentang ‘waktu’. Hal itu disebabkan karena ‘waktu’ merupakan persoalan penting dalam kehidupan manusia. Zeno, adalah filsuf pertama yang membicarakan ‘waktu’ dikaitkan dengan ruang dan gerak.

Para tokoh berbeda pendapat dalam memandang ‘waktu’, namun secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, pendapat yang menganggap waktu adalah obyektif (tetap) dan merupakan realitas riil. Tokoh yang berpendapat demikian diantaranya adalah Descartes. Sedang Leibniz, dan Augustinus Comte menyatakan bahwa ‘waktu’ merupakan hal yang subyektif (tergantung individu yang menilainya).

Dari dua teori tersebut, nampaknya teori kedualah yang banyak diterima dan diikuti saat ini. Augustinus Comte dalam Confessiones-nya mengatakan bahwa ‘waktu’ bersifat subyektif. Menurutnya setiap orang mempunyai pengertian sendiri-sendiri tentang ‘waktu’. Meskipun benar menurut satu orang namun belum tentu benar menurut orang lain.

Ini berarti ‘waktu’ yang kadarnya kita tentukan dengan jam, hari, minggu, bulan atau pun tahun, hanyalah merupakan istilah-istilah yang menggambarkan gerakan Bumi mengelilingi Matahari dan bukan merupakan pengertian ‘waktu’ sesungguhnya.

Pemakaian jam yang kita gunakan saat ini, sebenarnya telah disesuaikan dengan peredaran sistem Matahari dan itu akan berbeda ketika kita berada di Venus yang berotasi selama 225 hari. Sehingga tepat apa yang dikatakan L. Barnet mengutip pernyataan Einstein, bahwa ‘waktu’ tidak dapat diukur. Karena ‘waktu’ hanya merupakan perpindahan simbolik menurut tempat.

Misalnya satu jam di Bumi adalah peredaran Bumi mengelilingi porosnya sejauh 15 derajat. Karena Bumi berupa lingkaran yang mempunyai sudut 360 derajat, maka dalam sehari semalam (satu kali putaran) sama dengan 24 jam. Jadi yang dimaksud satu jam di Bumi adalah gerakan Bumi sejauh 15 derajat.
Dari sebuah pernyataan berikut mungkin kita bisa memahami bahwa ‘waktu’ bersifat relatif.
“Satu jam saat seorang menanti kekasih akan terasa berbeda dengan satu jam ketika ia akan dihukum gantung.”

Lalu mungkin kita bertanya berapa kadar ‘waktu’ yang sebenarnya ? Sampai saat ini belum ada ketetapan yang disepakati para ahli tentang kadar ‘waktu’. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman,

“Dan Dia mengatur urusan dari langit ke Bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Q.S. As-Sajdah: 5)

Dari ayat tersebut jelas sekali perbedaan antara 1 hari yang dimaksud Allah dengan satu hari menurut perhitungan manusia. Satu hari berbanding seribu tahun. Subhanallah !

Semua itu bukan hal yang mustahil, sebagaimana dikemukakan Einstein dalam teori relativitasnya bahwa semakin cepat suatu objek bergerak, maka ‘waktu’ yang dicatatnya semakin pendek dibanding dengan objek yang diam relatif (karena para ahli percaya tidak ada diam yang sebenarnya, semua bersifat relatif).

Perbedaan itu akan semakin terlihat jelas apabila sebuah objek bergerak dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Contoh mudah, misalkan kita akan mengikuti ekspidisi ke tata surya lain yang jaraknya sangat jauh. Kita hanya mampu mencapainya dengan menggunakan pesawat luar angkasa yang mempunyai kecepatan re-lativistik (mendekati kecepatan cahaya). Perlu diketahui bahwa kecepatan cahaya mampu mendekati kebenaran dan independen karena tidak terpengaruh oleh zat perantara. Albert Michelson dan William Moerely (AS) pada tahun 1887 mengatakan bahwa kecepatan cahaya di mana-mana sama.

Misalkan pesawat yang kita gunakan itu berkecepatan 900.000.000 km/jam, mendekati kecepatan cahaya yang bergerak dengan kecepatan 1.080.000.000 km/jam. Maka ‘waktu’ yang ada di pesawat kita akan berjalan lebih lambat dibanding dengan ‘waktu’ di Bumi.

Tidak heran saat kembali ke Bumi ternyata usia kita lebih muda dari usia yang sebenarnya. Kecepatan re-lativistik telah membuat ‘waktu’ dalam pesawat itu ‘memuai’. Einstein dalam teori relativitas khusus-nya (1905) mengatakan, gerak berpengaruh terhadap perputaran ‘waktu’ dan masa suatu benda. Sehingga ‘waktu’ dalam pesawat luar angkasa tersebut lebih lambat dari ‘waktu’ di Bumi. Benarkah begitu ? Wallahua'lam.

Tulislah Sejarah
Ada rentang masa yang hilang ketika belajar sejarah sewaktu di SMP. Mempelajari imperium Romawi - Yunani, kemudian loncat ke renaisans peradaban barat. Lalu di mana posisi peradaban Islam yang bertahan hingga lebih sepuluh abad?

Maka tulislah sejarah, bukan untuk menghibur diri mengenang peradaban gemilang, namun mengabarkan bahwa umat ini pernah berada pada puncak kejayaan. Rasanya benar sebuah ungkapan: Sejarah ditulis sejalan dengan pikiran penulisnya.
Hilangnya episode kejayaan Islam, seolah menafikan peran penting ilmuwan-ilmuwan bertalenta yang pernah dimiliki Islam. Sebutlah Ibnu Sina, yang di Eropa dikenal sebagai Avicena. Tokoh kedokteran yang hingga kini warisan pengetahuannya masih menjadi rujukan.
Jangan lupakan juga Abbas Ibnu Firnas, seorang fisikawan, kimiawan dan teknisi. Dalam dirinya juga mengalir darah seni sebagai penyair dan musisi. Ilmuwan dari Andalusia (Spanyol) ini merupakan perancang pesawat pertama di dunia.
Kemudian, kita bisa berpikir bagaimana seorang Michael Hart, seorang penulis barat yang meranking tokoh-tokoh paling berpengaruh di dunia. Dan menempatkan Nabi Muhammad di posisi pertama. Ia menyebut "Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama."
Atau mencoba menganalisa pendapat Sir George Bernard Shaw, "Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa, beberapa ratus tahun dari sekarang, Islamlah agama tersebut."
Maka, tulislah sejarah. Sebagai pelajaran tentang kisah di masa lalu. Sebagai sumber pengetahuan yang bisa jadi memantik semangat untuk menghadirkan kembali kejayaan.
Barat || 11 Januari 2020
Bisnis Pendidikan
Ramadhan lalu sempat mendapat tugas dari kantor untuk mengikuti kegiatan di Depok Jawa Barat. Saya menginap di Hotel Santika. Beberapa hari di sana, sempat bertemu dengan anak-anak SMA yang juga menginap di lokasi yang sama. Kebetulan waktu itu masa liburan sekolah.
Seleksi Dewan Pendidikan Kabupaten Sleman

Jarang sekali bercakap dengan orang yang belum dikenal di dalam lift. Hanya saja karena lantai yang dituju berada di lantai 20-an lumayan cukup waktu untuk membuka pembicaraan, apalagi jika shalat tarawih juga bareng.
Dari pembicaraan itu, mereka mengaku siswa SMA yang sedang mengikuti les privat selama beberapa hari di hotel. Rupanya, ada lembaga bimbingan belajar yang membidik kalangan kaya semacam mereka dengan membuat paket privat di hotel berbintang. Bagi orang tua kaya dan tidak punya cukup waktu mendampingi anaknya, mungkin program semacam ini menarik. Kami juga berbincang dengan para pengajar, yang masih merupakan mahasiswa.
Bisnis pendidikan memang menarik. Kadang unik. Bagaimana orang tua rela membayar jutaan rupiah agar anaknya bisa belajar di lembaga bimbingan belajar yang hanya satu-dua jam setiap hari. Sementara mereka ingin gratis biaya sekolah!
Atau tradisi study tour, yang terkadang hanya tournya saja yang utama. Study-nya entah. Dulu dalam bayangan saya, ketika study tour memang benar-benar ada hasil pembelajaran yang dicapai oleh siswa. Tetapi tampaknya, itu bukan menjadi prioritas.
Buku. Pendidikan tidak lepas dari buku. Dan buku menjadi ladang tersendiri untuk bisnis. Ketika saya SD, masih ingat buku kami bisa bergantian dengan kakak kelas. Jadi digunakan turun-temurun. Sekarang, bahkan setiap semester buku pun bisa berganti, dan bukan hanya satu!
Sekarang, kita akan melihat seperti apa arah pendidikan ke depan. Wacana dihapuskannya Ujian Nasional, apakah akan nyata atau sekedar retorika seperti lazimnya kebijakan selama ini.
Secara pribadi, sekarang mulai tertarik dengan pembelajaran ala Kuttab Al Fatih. Murid tidak dibebani berbagai macam pelajaran dan tidak sampai seharian di sekolah. Tetapi mereka dibekali modal dasar keimanan dan ilmu pengetahuan yang bisa dikembangkan. Berharap, semoga Kuttab tak terjebak dalam Bisnis Pendidikan.

Barat || 11 Januari 2020

Thursday, January 9, 2020

Garis Tangan Penulis
Pada sebuah semester ketika kuliah, saya memutuskan untuk nekat magang menjadi reporter di surat kabar harian di Solo. Di sisi lain tetap mengambil kuliah alias tidak cuti. Bisa dibayangkan bagaimana cara kuliahnya? Untung, saya sudah punya sedikit pengalaman untuk mengatur waktu antara masuk dan tidak masuk kuliah



(Baca catatan: Setengan Kuliah)

Di Solo, saya benar-benar mendapat tempaan yang lumayan. Job desk pertama adalah liputan urusan politik. Maka pada hari pertama ditugaskan untuk nongkrong di Balaikota. Dengan penuh semangat, naik bus sambil tanya-tanya jalur. Ketika sampai di Balaikota masih sepi. Dan akan terus sepi karena itu hari libur!

Maka saya isi hari itu dengan mengobrol dengan tukang becak di depan Balai Kota.
------
Terjun kedua kerja kembali menemukan jalan untuk menulis. Tepatnya tujuh tahun setelah bergelut dengan berbagai aplikasi. Mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang jurnalistik, bersama kawan-kawan dari 34 provinsi se-Indonesia.

Di akhir sesi, ada reward menarik. Lima atau tujuh peserta terbaik mendapat peluang untuk belajar langsung di Tempo Institut dan Alhamdulillah bisa masuk di dalamnya.

Maka selama beberapa hari mendapatkan ilmu langsung tentang jurnalistik dan pengelolaan media dari Kantor Tempo. Padahal Majalah Tempo adalah termasuk yang garis kebijakan redaksinya tidak saya senangi. Setelah tahu sedikit pengelolaan di dalamnya, akhirnya bisa paham kenapa mereka memilih jalan itu.

Seperti sebuah adagium yang saya susun sendiri: Wartawan boleh idealis, tetapi di atas wartawan masih ada redaktur, di atas redaktur masih ada pimred, di atas pimred masih ada pemodal. Tinggal di tingkat mana idealisme itu akan tertawan.

Barat || 7 Januari 2020

Thursday, January 2, 2020

Mencintai Buku-buku


Awal kecintaan saya dengan buku tidak dimulai dengan mudah. Sebenarnya saya tidak suka membaca, lebih tepatnya malas. Dalam pikiran, yang namanya belajar itu adalah mempersiapkan buku sesuai jadwal untuk esok hari. Tidak lebih. Begitu sejak SD hingga SMA.

Hingga setelah kelulusan sebuah jalan harus dipilih. Minat sewaktu di SMA ingin melanjutkan kuliah menjadi guru. Tujuannya meneruskan di UNY. Namun di detik-detik akhir kelulusan keinginan itu berubah.
"Kuliah itu biayanya mahal, kalau menjadi polisi itu cepak," begitu kira-kira nasihat Bapak. Cepak artinya cepat dapat kerja yang jelas dan berpenghasilan.
Saran yang tidak masuk dalam hitungan.
Bapak adalah sosok sederhana yang memilih jalan sebagai petani. Meski sebagian besar teman SD nya banyak yang berhasil di sektor formal. Yang tentu saja mendapat penghormatan lebih ketimbang profesi sebagai buruh tani.
-------
Akhirnya lulus SMA, tidak langsung kuliah. Lagi-lagi karena faktor keterbatasan biaya. Sebagai 'balas dendam' harus mencari sumber ilmu lain, bukan dari bangku kuliah. Maka, puluhan buku menjadi 'bahan lalapan', dari buku motivasi hingga undang-undang sekalipun.
Saya masih ingat, ke kondangan pun saya bawa buku kecil tentang Undang-undang!
Orang mungkin melihat ada yang tak lazim, tapi tekad saya kegagalan masuk perguruan tinggi harus ditebus dengan mencari sumber ilmu lain.
Di pagi dingin, saya sempatkan belajar mengaji 'iqra' di AMM Kota Gede. 05.30 dari rumah, karena pelajaran dimulai jam 06.00 dan biasanya jam 07.00 sudah selesai.
Siang (kalau sempat) atau malam mencoba menulis dengan tulisan tangan dan kadang dengan mesik ketik, pinjam punya tempat Oom saya. Sempat mengirimkan tulisan ke media cetak tapi tak dimuat.
(Pada akhirnya, meski terlambat sempat kuliah, baca di sini : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10214587773709633&set=pob.1280443829&type=3&theater)
------
Rentang 2007-2008 sempat mengajar di sekolah swasta dengan honor tidak genap seperempat Upah Minimum Regional (UMR). Pada tahun 2008, kebetulan mendapat tugas mengawasi ujian Nasional di SMP tempat dulu saya sekolah. Pada selembar kertas, sambil mengawasi para murid saya tulis sederet angka imajiner yang terdiri dari : tahun lahir; bulan lahir; tanggal lahir; tahun; bulan; kode jenis kelamin; kode urutan.
Sebuah deret yang searti dengan nomor induk pegawai alias NIP. Setahun kemudian doa dan harapan tersebut dikabulkan Allah Swt. deret angka yang saya tulis bisa sama persis!
-----
Wong bodo kalah karo wong pinter, wong pinter kalah karo wong beja. Ungkapan tersebut mungkin terkadang benar. Tetapi bagi saya wong beja masih bisa dikalahkan oleh orang yang pinter dan beja!
Sekitar tahun 2010 mulai bertugas, sebagai anak baru masih harus beradaptasi. Maka kemudian banyak waktu longgar, Kesempatan ini saya manfaatkan untuk belajar: membaca dan menulis buku. Hasilnya sebuah buku pada 2011 diterbitkan oleh Pro-U Media Yogyakarta.
Termasuk cukup cepat prosesnya. Bahkan sempat dipanggil dan ditanyai oleh editor kenamaan Mas Yusuf Maulana, dengan pertanyaan selidik: "Ini benar karya Anda sendiri?"
Rupanya Mas Yusuf, ingin memastikan karya itu tulisan saya sendiri. Selanjutnya ia mengungkap, "Tulisan ini sudah matang, tidak seperti tulisan seorang pemula."
Itu adalah awal transformasi saya ke dunia buku. Dari gemar membaca ke gemar menulis. Menerbitkan buku melalui penerbit mayor cukup rumit. Apalagi sekelas penerbit Pro-U Media yang sangat selektif. Bayangkan, untuk satu bulan saja maksimal hanya menerbitkan dua buku! Sebab mereka memang benar-benar mengusung misi: Menerbitkan Gagasan dan Cita-cita.
Beberapa tahun tinggal di negeri 'asing' karena tidak dalam 'habitat' semestinya. Hingga atasan saya Bu Dwika Ika menyarankan untuk meminta kejelasan. Apakah saya akan ditempatkan di habitat semestinya atau di lembaga pendidikan. Pada tahun itu pula saya mendapat kejelasan untuk tetap tinggal di lembaga pendidikan. Ini sama artinya, keahlian dan ijazah saya tidak banyak berguna sebab berbeda mahzab.
(Khusus bab ini bisa disambung lain waktu)
Kini di rumah, terdapat ratusan buku berbaris agak rapi di rak. Sebagai rintisan Taman Bacaan Masyarakat yang saya kelola: Pustaka Rumah Dunia. (silakan bisa di-searching di Google)
Begitulah, bagaimana saya mencintai buku-buku.

Barat || 02/01/2020
Ketika dingin menyapa

Foto: Bendel Majalah Panji Masyarakat yang terbit di tahun 70-80-an. Pemberian dari Bapak Mertua.

Sunday, December 29, 2019

Agar Amal Tak Jadi Buih

Bismillaah... catatan kali ini semoga tidak mengesankan untuk menggurui orang lain. Sebab diri ini masih perlu terus belajar.

Ada satu pesan di inbox FB saya, seorang sahabat menanyakan materi kultum yang saya sampaikan ramadhan tahun lalau di masjidnya. Alhamdulillah, David, sahabat saya itu, masih ingat poin-poin dari apa yang saya sampaikan, hanya saja masih butuh penjelasan kembali.


Ramadhan kemarin, saya menyampaikan materi tentang bekal yang harus dimiliki dalam beribadah. Berlomba di atas bumi yang semakin renta. Layaknya orang lomba, tentu ada aturan yang wajib dipatuhi. Jika diabaikan, bisa-bisa kita akan di-diskualifikasi, alias dikeluarkan dari lomba. Hasilnya yang kita peroleh menjadi sia-sia. Lalu apa saja aturan yang perlu kita patuhi itu?

Pertama, mendaftarkan diri. Kalo kita ingin ikut lomba, kita wajib mendaftar untuk memperoleh nomer urut, atau paling tidak nama kita tercatat sebagai peserta. Sehebat apapun kita mengikuti lomba, kalau tidak terdaftar, tidak akan mungkin menjadi juara. Dalam ibadah, pendaftaran itu berupa kalimat syahadat. Atau kita mengenalnya 'puncak' dari Iman. Allah menegaskan, amalan orang yang tidak beriman/kafir layaknya fatamorgana.

"Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya." (An Nuur: 39)

Itulah pentingnya iman (saya menyebutnya, I level satu)

Kedua, untuk memunculkan potensi maksimal dalam diri diperlukan niat. Niat bukan hanya di awal laga melainkan tetap terjaga bahkan sampai saat perlombaan berakhir. Agar tidak merasa ditekan, dipaksa atau dijebak, tapi timbul dari kesadaran diri mengikuti lomba. Inilah 'ikhlas', saya menyebutnya, 'I' level dua.

"Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (Al Hajj: 31)

Ketiga, untuk menjadi peserta yang baik dan diakui, kita butuh ilmu. Agar tahu mana yang menjadi larangan, mana yang diperbolehkan, kapan harus mulai lomba, kapan harus berhenti lomba, ke mana tujuannya, dan sebagainya. Demikian juga dalam ibadah, agar tahu mana amal yang harus didahulukan, apa saja syarat sahnya, yang membatalkan dan sebagainya. Untuk mengetahui semua itu perlu ilmu. Saya menyebutnya, 'I' level tiga.

Begitu pentingnya ilmu, sampai-sampai Umar bin Khattab mengungkapkan, “Kematian seorang ahli ilmu jauh lebih baik daripada kematian seribu ahli ibadah yang tak mengerti halal dan haram.”

Keempat, seorang pemenang adalah mereka yang bisa konsisten menjaga ritme dalam jalur para pemenang. Tidak mudah tergoda apalagi tergiur dengan persoalan yang menggelincirkan keluar dari jalur pemenang. Dalam beribadah pun begitu, amal yang sedikit dilakukan dengan konsisten lebih baik ketimbang amal yang banyak tetapi jarang-jarang dilakukan. Membaca satu ayat setiap hari lebih baik ketimbang membaca 30 ayat kemudian baru membaca lagi satu bulan berikutnya. Konsisten, dalam khazanah Islam dikenal juga dengan istilah, istiqomah. Saya menyebutnya, 'I' level empat.

Dari Abu Sufyan bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu berkata, "Aku telah berkata, 'Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu berkata pada orang lain selain engkau.' Nabi menjawab,'Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah.'”

Jika empat level 'I' tersebut telah terpenuhi. InsyaAllah amal yang kita kerjakan tidak akan menjadi buih.

(Terima kasih kepada Mas David Ade Wijaya yang telah mendorong saya untuk menuliskan lagi materi dalam note ini, semoga bermanfaat juga untuk yang lain)
Di Antara Dua Jalan
Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
(HAMKA)

Penggalan puisi yang ditulis Hamka di Ruang Sidang Konstituante pada 13 November 1957, setelah mendengar pidato Moh. Natsir di Majlis Konstituante. Kegigihan M. Natsir dalam membela Islam mendapat dukungan dari Hamka. Dalam sidang itu dengan tegas Moh. Natsir menyebut bahwa hanya ada dua jalan: Islam atau Atheis. M. Natsir menwarkan Islam sebagai pilihan.



Tidak mengakomodasi ajaran Islam berarti menempuh ajaran atheis. Begitu ringkasnya. Dalam catatan saya, hari ahad lalu, saya mengutip ayat Al Quran yang menerangkan semua makhluk diciptakan berpasangan. Baik yang diketahui manusia maupun yang tidak diketahui manusia. Begitu pula kejadian yang ada di dunia ini, akan ada dua yang bertentangan. Baik-Buruk. Benar-Salah. Dan sebagainya.

Kehidupan ini memberikan pilihan dua jalan, manusia diberi kesempatan untuk memilih dengan konsekuensinya masing-masing.

"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan." (Al Balad [90]: 10)

Di satu sisi ada jalan penuh kenikmatan, keindahan dan kesenangan, tetapi diujungnya ada neraka yang menyala-nyala dengan dahsyatnya. Di sisi lain ada jalan mendaki, penuh perjuangan, ujian kesabaran dan kepahitan, tetapi muaranya adalah surga dengan nikmat tiada tara.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Anas bin Malik bahwa Rasuullah SAW bersabda, “Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka itu dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dan juga oleh Tirmidzi yang mengatakan bahwa hadits ni shahih dan gharib

Sekarang tinggal pilih, memilih jalan yang terjal mendaki atau sebaliknya. Lalu seperti apa jalan yang terjal mendaki itu?
  • (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan
  • atau memberi makan pada hari kelaparan
  • (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat
  • atau kepada orang miskin yang sangat fakir 
(Al Balad [90]: 13-16)

dari Catatan Facebook