Tuesday, November 26, 2019

Gagasan Memerdekakan Pikiran untuk Kaum Perempuan

“Bocah-bocah dimerdekakke pikire” (Anak-anak dimerdekakan pikirannya). Sepenggal kalimat itu dilontarkan tokoh Muhammadiyah dalam sebuah kongres pada tahun 1925. Demikian menurut tulisan Mitsuo Nakamura, profesor asal Jepang yang banyak mengulas gerakan Islam modern di Indonesia. Gagasan tersebut diejawantahkan dalam sistem pendidikan di Sekolah Muhammadiyah pada tahun 1930-an sehingga mampu melahirkan kader-kader bangsa yang melek huruf, nasionalis, teguh beriman, dapat berdaptasi dengan kemajuan dan mahir dalam organisasi.


Tidak terbatas menyasar kaum laki-laki, Muhammadiyah sejak awal juga memperhatikan pendidikan untuk perempuan. Pada 1918 berdiri Standard School Muhammadiyah setingkat dengan sekolah dasar lima tahun. Setahun kemudian dengan dorongan Somodirdjo, seorang aktifis Muhammadiyah, sebagian siswi sekolah tersebut membentuk kelompok Siswa Praya Wanita (SPW) yang pada akhirnya mengilhami berdirinya Nasyiatul Aisyiah, satu di antara organisasi otonom Muhammadiyah. Sebelumnya, pada 1914 dengan dukungan Kiai Ahmad Dahlan dan Siti Walidah terbentuk Sapa Tresna, yang lingkup gerakannya tidak terbatas kepada para siswi, melainkan untuk perempuan umum.

Diilhami oleh Surat An Nahl ayat 97, yang menyuratkan setiap diri memiliki tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya, tidak peduli ia lelaki maupun perempuan. Kiai Ahmad Dahlan memandang perlunya memberi pendidikan agama kepada kaum perempuan.

Langkah awal yang dilakukannya bersama istri, ialah mengundang keluarga dan tetangga dekat mengajak diskusi tentang ayat tersebut. Setelah ada pemahaman yang sama, Muhammadiyah secara terbuka mengimbau kepada warganya untuk memberi kesempatan para istri dan anak perempuan mengakses pendidikan agama.

Baca Juga : Umat Islam Bangkit, Darimana Harus Memulai?

Dalam literatur Jawa, yang kemudian menjadi panduan sebagian masyarakat seperti Serat Baratayuda, Gatholoco, Wedatama, Pantisastra, Candrarini dan Centhini, menyebutkan perempuan lebih diarahkan kepada peran domestik melayani suami, mengurus rumah dan anak-anak. Bahkan dalam pepatah Jawa dikatakan, ‘Wadon iku suwarga nunut, neraka katut’ dengan makna seorang perempuan dapat masuk surga atau terjerumus ke neraka tergantung perbuatan suaminya. Kepatuhan terhadap suami menjadi ajaran pokok yang harus dijalankan seorang perempuan.

Gerakan memerdekakan pikiran yang dilakukan Muhammadiyah berhasil memberikan ruang bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan dan melakukan peran kemasyarakatan. Termasuk aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan. Ketika Gunung Kelud meletus pada 1918 yanng menyebabkan jatuhnya banyak korban dan mengakibatkan penderitaan banyak orang. Perempuan Muhammadiyah ikut terlibat dalam inisiatif pembentukan lembaga Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang memberikan bantuan kepada para korban.

Baca Juga : Kemakmuran yang Mewujud dalam Dua Tahun Lima Bulan

Anggota Sapa Tresna dan Sapa Priya Wanita (SPW) aktif mengurusi dan merawat anak yatim-piatu, atau berorang tua tunggal. Mereka diberi makan, tempat tinggal, dan pendidikan. Sapa Tresna dan SPW jugar merangkul kelompok perempuan lain untuk bersama-sama menjalankan misi kemanusiaan. Hingga kini, kiprah memerdekakan pikiran yang dilakukan Sapa Tresna (‘Aisyiah) dan SPW (Nasyiatul ‘Aisyiah) terus dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.

Deliar Noer mencatat, pada 1925 Muhammadiyah telah berhasil mendirikan 32 standard school, sekolah dasar lima tahun untuk bumiputra, 14 madrasah, 1 schakelschool, sekolah lanjutan lima tahun, bagi lulusan standard school, 1 kweekschool, sekolah tinggi guru, dan 8 Hollands-Inlandse school (HIS), sekolah dasar tujuh tahun dengan mengadopsi kurikulum Belanda.

Tidak berlebihan jika Mendikbud Nadiem Makarim menaruh hormat kepada Muhammadiyah, “Inilah satu hal yang saya hormati mengenai organisasi ini, banyak sekali pemimpin-pemimpin yang hanya berbicara mengenai berbagai macam impian dan berbagai macam isi, tetapi  Muhammadiyah telah menujukkan bahwa dengan kelakuan dengan tindakan yang riil dia berhasil menciptakan bakti sosial.” (Mendikbud Nadiem Makarim, dalam Resepsi Milad Muhammadiyah 107, 18 November 2019 di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). [e]

Referensi :
Pergolakan Putri Islam, Perkembangan Wacana Jender dalam Nasyiatul ‘Aisyiah 1965-2005; Siti Syamsiyatun, M.A. Ph.D., Yogyakarta, Suara Muhammadiyah, Cetakan I, Agustus 2016;
Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta, Pustaka LP3ES, Cetakan kedelapan, Mei 1996)

Sunday, November 10, 2019

Madrasah Perempuan di New Delhi India
Mareike Winkelmann meneliti tentang madrasah untuk perempuan di New Delhi India. Selama ini banyak literature yang mengulas madrasah untuk laki-laki. Ada sebagian meneliti madrasah perempuan namun berfokus pada madrasah yang mengadopsi gaya pengajaran tradisional. Siswa belajar di rumah dengan seorang guru, penekanan pembelajaran kepada adab, dan tidak mempelajari ilmu umum.



Dengan meneliti Jamiat Al Niswan, Mareike Winkelmann berusaha mengungkap bahwa madrasah selain mengajarkan adab juga mengajarkan ilmu umum, perempuan diberi hak untuk berbicara dan mengakses budaya barat meski terbatas serti setelah lulus bisa terjun ke ranah professional.

Berikut review bebas dari, hasil penelitian Mareike Winkelmann.

      A.  Pendahuluan
     
     Penelitian yang di lakukan oleh Mareike Winkelman adalah penelitian terkait keberadaan perempuan di dalam madrasah maupun di luar madrasah. Melalui penelitian yang ada ini akan menjadi jawaban atas pertanyaan bagaimana keberadaan perempuan di tinjau dari dalam madrasah dan di luar madrasah. Selain itu dapat menjawab problem-problem yang kemudian menjadi hambatan atau tantangan bagi perempuan islam dan terlebih lagi bagi madrasah yang menampung perempuan dalam mengajarkan Pendidikan islam dimana penduduknya lebih didominasi agama Hindu.
     
     B.  Gambaran umum
  
   Penelitian ini di lakukan di New Delhi India. Dilakukan di salah satu madrasah yang mengampu perempuan-perempuan islam yang berada di India dan sekitarnya. Nama madrasah tersebut ialah jami’at al-Niswan yang didirikan tahun 1996. Madrasa ini berada di bawah perlinduangan Nadwat Al-Ulama di Lucknow (salah satu kota yang berada di India, kota yang dikenal sebagai kota toleransi, dimana umat Hindu dan Muslim menjalani hidup dengan harmonis). Dalam penelitian tersebut terdapat 180 siswa yang memiliki usia rata-rata 12-17 tahun masih tergolong remaja awal, dan semuannya berada di  madrasah tersebut.

Terdapat beberapa poin penting yang menjadi dasar dari penelitian ini antara lain :
1.     Transmisi pengetahuan islam pada anak-anak perempuan madrasah.
2.     Kurikulum informal.
3.     Peran jemaat tabligh dalam pelaksanaan sehari-hari di madrasah.

C.  Metode pembelajaran

Penting dicatat perjalanan para pria juga sebagai strategi rekrutmen Jamiªat al-Niswan. Pendiri dan manajer secara teratur melakukan perjalanan ke seluruh negeri untuk mengumpulkan dana untuk madrasah. Banyak siswa dari tempat-tempat di luar Delhi mendengar tentang Jamiªat al-Niswan dari para pengelana yang terkait dengan madrasah ini. Selain merekrut siswa baru - yang dalam kasus Jamiªat al-Niswan. Gadis-gadis dari keluarga inti yang terkait dengan Jamiªat al-Niswan menikahi anak laki-laki yang orang tuanya menetap di luar India, di Arab Saudi dan Afrika Selatan, misalnya.

Baik Jamaat Tabligh dan Jamiªat al-Niswan mewakili institusi yang sangat berbeda dari yang ada di sekitarnya. Sebagai contoh, mereka berbeda dalam inversi peran gender mereka (sementara dan terbatas). Dalam pengabaian mereka atas kemewahan yang terkait dengan ritual rumah tangga seperti pernikahan.

Berkenaan dengan inversi peran gender, perlu dicatat bahwa dalam Jamiªat al-Niswan adalah laki-laki yang menyiapkan makanan untuk siswa dan guru, sementara yang terakhir pada gilirannya harus mengurus pekerjaan laki-laki yang biasanya membersihkan sekolah. Bangunan serta pencucian, karena laki-laki tidak diizinkan memasuki gedung sekolah. Beberapa pengamat telah menyarankan bahwa bentuk-bentuk inversi peran gender (terbatas dan sementara) ini adalah tipikal dari Jamaat Tabligh juga, karena orang-orang yang 'bepergian di jalan Tuhan' dibiarkan menggunakan alat mereka sendiri dalam hal menjaga kebutuhan sehari-hari mereka selama perjalanan mereka.

D.  Materi Ajar

Meskipun pelajaran dalam adab atau 'pendidikan moral' hanya mengambil porsi yang relatif kecil dari jadwal, yaitu delapan jam seminggu, pengamatan mengonfirmasi bahwa adab meresapi urusan sehari-hari dan suasana keseluruhan Jamiªat al-Niswan. Selain itu, memperkenalkan dan merawat siswa dengan aturan yang ditetapkan oleh pemahaman masyarakat tentang adab tampaknya sangat penting ketika datang ke tujuan eksplisit madrasah untuk mewujudkan 'islah (reformasi) akhlaq (moralitas) dan ªamal (tindakan), seperti yang dikatakan brosur madrasah. Akhirnya, makalah penerimaan juga menyatakan bahwa 'siswa harus sepenuhnya menghormati para guru, pendiri, dan ulama di belakang Jamiªa'. Pertanyaannya adalah bagaimana tujuan ini dapat ditetapkan dan dipraktikkan.

Pelajaran pertama yang siswa pelajari tentang adab adalah bahwa mereka harus menunjukkan rasa hormat kepada guru mereka. Salah satu buku yang digunakan untuk kelas adab, berjudul Qira'at ur-Rashida, memuat kisah-kisah tentang kehidupan Nabi, para sahabatnya, dan para khalifah pertama. Kisah-kisahnya berhubungan dengan etika sosial, dan mengajarkan pembaca cara makan dan minum dengan benar, bagaimana menghadiri dan mengatur pernikahan, atau bagaimana menjalankan rumah tangga dengan pandangan untuk menyenangkan Allah.

Meskipun para gadis mengetahui bahwa, menurut Islam, mereka memiliki hak untuk memperoleh pengetahuan dan bahwa mereka juga memiliki hak, misalnya, untuk mengabaikan tugas-tugas rumah tangga tertentu yang dianggap 'tidak Islami', seperti persiapan ekstensif untuk pernikahan mewah, tingkat baru penegasan diri terhadap para remaja putri terpelajar ini juga memiliki potensi untuk menciptakan ketegangan di bidang domestik.

Berkenaan dengan kurikulum madrasah, kurikulum resmi tidak mengungkapkan bahwa dalam banyak kasus, buku-buku yang disebutkan tidak dipelajari sepenuhnya. Sebagai contoh, saya mengamati bahwa dalam kasus Hidaya, teks standar tentang yurisprudensi Hanafi, bab-bab yang diwajibkan untuk dipelajari oleh para gadis menunjukkan bahwa kurikulum ambisius sering dipersempit agar sesuai dengan batasan kursus lima tahun (seperti bertentangan dengan enam belas yang asli dan kemudian delapan tahun belajar untuk anak laki-laki).

Lebih penting lagi, perubahan-perubahan ini tampaknya telah dibuat dengan tujuan memperkuat tujuan pendidikan madrasah. Dengan kata lain, pendiri dan administrator Jamiªat al-Niswan menetapkan kurikulum, sehingga cita-cita pendidikan mereka yang mendasar menentukan apa yang akan menjadi fokus studi bagi para gadis. Akibatnya, pada saat mereka lulus mereka hanya dapat secara sah mengklaim mendapat informasi dalam hukum Hanafi dalam mata pelajaran yang berkaitan dengan perempuan, seperti pernikahan, perceraian, warisan, dan hak asuh anak, atau mata pelajaran yang dianggap layak untuk dipelajari dalam tempat pertama.

Secara keseluruhan, kurikulum tampak ambisius untuk kursus lima tahun. Dibandingkan dengan daftar kurikulum standar madrasah Malik menurut dars-i nizami, Malik juga menunjukkan bahwa banyak karya yang ditinggalkan (terutama yang berkaitan dengan fiqh, usul al-fiqh, logika, filsafat, ilmu matematika, astronomi, dan retorika).


E.  Peserta didik

Berdasarkan penelitian lapangan etnografis di madrasah perempuan di New Delhi, yang menampung sekitar 180 siswa berusia antara dua belas dan tujuh belas tahun. Madrasah yang selanjutnya akan saya sebut Jamiªat al-Niswan didirikan pada tahun 1996 di bawah perlindungan Nadwat al-Ulama di Lucknow dan merekrut siswa dari Delhi dan kota-kota lain serta desa-desa dari seluruh India.

Hubungan antara Jami’at al -Niswan dan Jama'at Tabligh secara resmi dimulai melalui madrasah Nadwat al-Ulama di Lucknow, ketika para pendiri madrasah anak perempuan mengadopsi kurikulumnya dengan penekanan kuat pada bahasa Arab. Selain itu, para pendiri laki-laki dari madrasah dan para anggota laki-laki dari keluarga inti aktif dalam gerakan pengkhotbah awam yang dikenal sebagai Jemaat Tabligh.

F. Kesimpulan

Ide reformis Muslim pada akhir abad ke-19 memengaruhi pendirian sekolah umum untuk perempuan Muslim. Sebelumnya pendidikan untuk perempuan khususnya dalam bidang agama menjadi urusan pribadi, tetapi akhirnya menjadi wacana publik, yang membentuk hubungan antara ranah domestik dan publik.

Hubungan antara Jami’at al -Niswan dan Jama'at Tabligh secara resmi dimulai melalui madrasah Nadwat al-Ulama di Lucknow, ketika para pendiri madrasah anak perempuan mengadopsi kurikulumnya dengan penekanan kuat pada bahasa Arab. Selain itu, para pendiri laki-laki dari madrasah dan para anggota laki-laki dari keluarga inti aktif dalam gerakan pengkhotbah awam yang dikenal sebagai Jemaat Tabligh.

Mengapa madrasah untuk anak perempuan didirikan pada awal 1950-an. Pertama, para pelindung pendidikan sebelumnya telah pergi; dan kedua, minoritas Muslim di India harus menemukan cara-cara baru untuk melestarikan warisan Islam mereka dan di sini wanita memainkan peran penting.

-------
Untuk mata kuliah disusun untuk tugas mata kuliah Kajian Teks Arab dan Inggris

Friday, November 1, 2019

Kisah Hibah Setengah Milyar
Di sela istirahat siang, mencoba membuka kembali percakapan di Whatsapp. Ini kisah lain dari beberapa pewakaf yang menakjubkan. Sulit dinalar. Setelah saya ceritakan ada seorang yang membawa puluhan gram emas warisan dari mertua dengan total nilai lebih dari empat puluh juta, seorang yang dengan ringan menyerahkan dua puluh juta hingga hamba Allah yang mewakafkan satu rumah berikut isinya.



Pekan kemarin, sebuah pesan WA masuk mengabarkan niat seorang muslim menyumbang pesantren wirausaha yang sedang kami rintis. Bentuknya bukan berupa uang melainkan dua bidang tanah, ditaksir oleh beliau nilainya Rp 670 juta alias setengah milyar lebih 170 juta! Subhanallah. Maha Suci Allah yang menggerakan hati setiap insan.
----
Singkat cerita, kami berembug untuk 'menguangkan' dua bidang tanah tersebut. Jumlah sekian tentu bukan sedikit menurut ukuran kami, butuh waktu untuk mencari pembeli. Maka energi syirkah kami terapkan, patungan membeli tanah tersebut dan hasilnya diserahkan untuk pembangunan pesantren.
Dengan energi Syirkah, ternyata tidak butuh waktu lama. Bahkan mampu mengundang muslim lainnya untuk bersama dalam bersyirkah. Mereka dengan senang bergabung ke dalam Lembaga Pengembangan Wakaf dan Property yang kami rintis.
----
Lantas, apakah tanah tersebut akan kami manfaatkan sendiri? Tentu tidak, menurut rencana akan dibuat talud dan dipecah menjadi beberapa kavling. Sebelum dipasarkan kepada pembeli. Taksiran awal, setidaknya bisa laku di atas Rp700 juta!
Demikianlah, perpaduan antara kedermawanan dan syirkah. Membuat sesuatu yang sebelumnya mustahil dan sulit, bisa diselesaikan dengan cepat.
Sekali lagi saya percaya, banyak muslim yang kaya lagi dermawan. Saya juga percaya, menjadi pengusaha itu banyak manfaatnya.
Harta sesungguhnya adalah apa yang dimakan hingga habis, digunakan hingga usang dan disedekahkan. “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim)"

Barat || 25 Oktober 2019
Kemakmuran yang Mewujud dalam Dua Tahun Lima Bulan

Itu adalah waktu Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah. Jangka masa yang sama dengan kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shidiq. Imam As-Suyuthi menulis, Umar bin Abdul Aziz dibaiat pada Bulan Shafar tahun 99 Hijriyah. Menggantikan Sulaiman bin Abdul Aziz, sesuai wasiat yang tertulis sebelum Sulaiman wafat.


"Demi Allah, sesungguhnya saya tidak pernah sekalipun memohon perkara ini kepada Allah." Kata yang terucap sebagai cermin kekagetan. Meskipun beberapa orang pernah mengatakan kepada Umar tentang kejadian yang mereka lihat dalam mimpi maupun perkataan dalam riawayat terdahulu. Bahwa Umar akan menjadi seorang pemimpin yang memerintah dengan adil dan membawa kemakmuran bagi rakyatnya.

Seusai dilantik, kendaraan khusus untuk khalifah telah disiapkan berikut para petugas yang mengawalnya. Umar lantas berucap, "Bawalah kendaraan itu ke pasar, juallah dan simpan uangnya ke Baitul Mal. Saya cukup dengan kendaraanku saja."

Umar mengumpulkan keluarganya dari Bani Marwan, dan menjelaskan semasa Rasulullah SAW. terdapat sebidang tanah Fadak yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan Bani Hasyim dan membantu menikahkan perempuan-perempuan di kalangan mereka. Saat Fatimah, putri Rasulullah bermaksud meminta sebagian hasil dari tanah Fadak Rasulullah menolaknya. Demikian pula dilakukan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Maka Umar bin Abdul Aziz mengungkapkan kepada keluarganya, agar tidak mengambil bagian dari hasil tanah itu.

Umar bin Abdul Aziz berusaha membersihkan keluarganya dari mengambil harta yang bukan menjadi hak mereka. Kepada istrinya, Umar bin Abdul Aziz memberikan pilihan: kembalikan perhiasan (mutiara) ke Baitul Mal atau izinkan untuk meninggalkan dirinya untuk selamanya. Fathimah binti Abdul Malik pun memilih menyerahkan perhiasannya ke Baitul Mal.

Lantas apa kunci kesuksesan Umar bin Abdul Aziz yang dalam tempo singkat, sekitar 2,5 tahun mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya?

Tampaknya keadilan dan kesederhanaan menjadi kunci dari keberhasilan itu. Sebagai seorang pemimpin Umar bin Abdul Aziz berusaha untuk berlaku adil kepada siapapun, termasuk kepada keluarganya. Ia kembalikan harta benda yang sebelumnya diperoleh secara zalim. Dengan keadilan itu, membawa kemanfaatan bagi semua.

Malik bin Dinar menceritakan tentang penggembala yang tidak mengenal Umar bin Abdul Aziz namun merasa heran karena domba-domba mereka tidak dimakan Serigala. "Siapa orang saleh yang kini menjadi khalifah? Keadilannya telah mencegah serigala-serigala memakan domba-domba kami."

Kepada rakyat yang mengadukan kerusakan wilayahnya, Umar bin Abdul Aziz memberikan jawaban surat. "Jagalah kota dengan berlaku adil dan bersihkan jalan-jalan dari kezaliman. Karena itulah sebenar-benar perbaikan."

Selain itu, secara khusus, Umar bin Abdul Aziz meminta kepada Salim bin Abdullah untuk menuliskan riwayat hidup Umar bin Khattab dalam masalah sedekah, zakat dan infak. Nampaknya, Umar bin Abdul Aziz ingin mengetahui secara detail pelaksanaan sedekah, zakat dan infak pada masa Khalifah Umar bin Khattab memimpin.

Demikianlah, Umar bin Abdul Aziz yang dalam waktu relatif singkat dapat menghadirkan kemakmuran bagi rakyatnya. Membawa bangsa arab dan wilayah gurun sahara yang tandus dalam kecukupan. Terbaca dari berbagai kisah bagaimana pada masa itu harus mencari orang yang berhak untuk menerima zakat dan sedekah dari Baitul Mal.

"Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi dia tidak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai " (HR. Muslim).

Barat || 1 November 2019

Referensi :
Imam As-Suyuthi; Tarikh Khulafa’ Sejarah Para Penguasa Islam; Terj. Samson Rahman; Jakarta; Pustaka Al Kautsar; Cet 8 April 2011

Wednesday, October 23, 2019

Setengah Kuliah
Ada siasat yang biasa saya gunakan sewaktu kuliah. Dari lima atau enam hari efektif, dua atau tiga di antaranya saya manfaatkan untuk jualan. Menjadi sales kerupuk keliling. Ini adalah konsekuensi dari sebuah pilihan. Opsi menjadi 'alumni banyubiru' saya tepikan. Padahal jalan ke sana terbuka lebar, dari empat serangkai yang bersama-sama maju hanya saya yang akhirnya mandeg. Sebetulnya, beragam usaha bisa ditempuh untuk mewujudkan keinginan ibu-bapak.


Masih terngiang, sewaktu pertama pengecekan fisik dan nilai akademik. Petugas langsung nyeletuk "Nah ini calon bintara" Lalu memberikan serentetan pertanyaan, sampai akhirnya tahu seorang di antara punggawa Panitia Seleksi merupakan tetangga.
--------
Beberapa tawaran datang, namun tidak kami terima.
--------
Pilihan jatuh untuk melanjutkan pendidikan, ibu-bapak mewanti, jika ingin kuliah silakan cari biaya, ibu-bapak tidak kuasa. Sebuah restu yang saya sambut dengan gembira. Setahun, saya gunakan untuk menempa diri. Menjadi buruh pabrik di Bekasi, kemudian menjadi buruh Pabrik di selatan Merapi sambil mengikuti serangkaian seleksi masuk perguruan tinggi.
--------
UGM menjadi lokasi pertama untuk ikut ujian. Hanya saja ketika melihat antrian orang mendaftarkan diri, saya tidak cukup bersabar. Saya abaikan dan memilih pulang. Ketika waktu pendaftaran terakhir, berangkat pagi berharap tidak mengantri. Karena terlalu pagi, Oom saya mengajak untuk melihat perguruan tinggi keagamaan.
Sepi karena hari masih pagi. Alhamdulillah beberapa mahasiswa senior cukup responsif karena langsung menghampiri dan menjelaskan banyak hal. Pikiran lantas berubah, 'Kuliah bisa di mana saja, yang penting bisa belajar mencari ilmu' Jadilah, selama enam tahun menjadi mahasiswa perguruan berjas almamater hijau daun, yang sampai lulus saya tidak pernah membelinya dan memilikinya.
--------
Sesuai restu ibu-bapak, sebelum kuliah efektif saya harus punya penghasilan. Peluang datang, menjadi sales kerupuk keliling. Tetangga ada yang usaha pengemasan makanan kerupuk singkong. Maka dalam sepekan saya atur jadwal, pada hari-hari tertentu saya bolong kuliah, dengan bergiliran mata kuliah, sehingga bisa jualan dengan tingkat kehadiran (ketidakhadiran) wajar.
Dua tahun berjalan, alhamdulillah dari hasil jualan bisa membantu biaya kuliah dan harian. Sebelum akhirnya beralih ke usaha lain, jualan buku, sambil sesekali menulis di media massa dan berkongsi dengan teman membuka counter HP.
Larut dalam dunia jualan, hingga kuliah genap enam tahun. Untuk mengurangi waktu efektif, tidak pernah mengulangi mata kuliah, kecuali satu mata kuliah yang sebetulnya untuk semester atas yang akhirnya saya batalkan. Tidak mengulang mata kuliah bukan karena nilai baik, melainkan untuk meminimalkan waktu dan biaya yang terbuang percuma.
Ketika akan mencetak nilai transkrip, petugas bertanya. "Mas ini ada nilai D, tidak diulang?" "Tidak, silakan dicetak saja." Jadilah lembaran transkrip saya termasuk yang nyata-nyata mengakui keberagaman karena dari A, B, C, D ada semua.
Maka bisa disebut, selama enam tahun saya menjalani setengah kuliah di kampus. Setengahnya lagi kuliah di lapangan. Jualan!
Dalam sebuah kesempatan, Soichiro Honda, pendiri Honda mengungkapkan. "Orang-orang hanya Melihat 1% kesuksesan saya. Mereka tidak melihat 99% kegagalan saya."
Barat || 19 Oktober 2019

Thursday, October 17, 2019

Bambu, Banjir dan Biosphere
Dua hari kemarin berturut-turut berbagi cerita dengan kawan. Pertama dengan seorang kawan dari PDM Kota Yogyakarta, ketika belajar input data di aplikasi bedukmutu.com. Saya bercerita tentang startup yang telah terbukti membantu ribuan petani dari berbagai daerah, namanya IGrow (bisa dicek di igrow.asia)
Hari berikutnya, berbekal rasa penasaran, perjalanan saya arahkan ke selatan, beberapa km dari pantai selatan. Tepatnya di Bambanglipuro. Meski sempat muter-muter, rasanya saya hafal daerah itu. Akhirnya ketemu juga peternak inovatif, Madu Klanceng Jogja - MKJ yang rupanya hanya beberapa meter dari rumah 'Profesor' Pisang, Pak Lasiyo. Di sana selain melihat langsung peternakan Klanceng, sekaligus bercerita tentang IGrow.


-------
Kini, komisaris utama IGrow yang juga perintis puluhan startup unik meluncurkan startup baru yang memungkinkan orang dari berbagai daerah ikut membantu mengatasi banjir di Jakarta.
Seperti yang selalu terdengar setiap musim hujan, Jakarta menjadi daerah yang langganan terkena banjir. Letak Jakarta yang merupakan dataran rendah, menjadi wilayah yang terkena aliran air dari berbagai hulu sungai di Jawa Barat. Sehingga penanganan banjir Jakarta tidak bisa hanya dilakukan dengan pembuatan kanal-kanal, melainkan perlu solusi menyeluruh termasuk dengan memperbaiki daerah aliran sungai di Jawa Barat. Dan kita bisa berpartisipasi.
------
Caranya? Dengan menanam ribuan bambu. Bambu ini dikenal sebagai tanaman yang mampu mencegah erosi tanah, menahan air hujan sehingga bisa terserap tanah, serta cepat dalam perkembangbiakan.
Startup Biosphere, akan melakukan penanam untuk Anda. Menurut rencana untuk tahap awal akan ditanam 5000 Bambu. Satu unit bambu membutuhkan biaya Rp110ribu. Apabila bambu yang ditanam berhasil tumbuh baik, maka pemodal akan mendapatkan insentif.
Guna memastikan bambu tertanam dengan baik dan terawat, surveyor dan verifikator akan memeriksanya setiap enam bulan sekali. Sampai tiga kali pemeriksaan.
------
Yang pasti, kita bisa niatkan sebagai bagian kebersamaan dalam memelihara kelestarian alam dan mencoba berbuat nyata untuk menanggulangi banjir di Jakarta.
"Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya." (HR. Muslim)
sumber foto : biosphere.id

Tuesday, October 15, 2019

Cara Mengirim Resensi Buku ke Koran Jakarta

Koran Jakarta membuka peluang kepada para penulis baru untuk menyumbangkan tulisan berupa resensi buku. Koran ini memberi kesempatan tayang lebih untuk rubrik resensi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar sesuai ketentuan yang ditetapkan Koran Jakarta.



Pertama, Koran Jakarta lebih meminati pada buku non fiksi. (Buku Pengetahuan, Biografi, dll.)

Kedua, pilih buku terbaru atau terbit di tahun ini, setidaknya enam bulan terakhir.

Ketiga, setting kertas A4, font Times New Roman, ukuran 12 pt, panjang karakter dengan spasi 4000.

Keempat, lengkapi biodata di bagian bawah naskah, nama lengkap, nomor telepon, pekerjaan, foto atau scan KTP (Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa). Sertakan pula foto diri dan nomor rekening.

Kelima, kirimkan naskah melalui email ke opinikoranjakarta@gmail.com di bagian subjek silakan tulis: (Perada - Judul Buku) dan di bagian badan teks silakan isi pengantar.

Keenam, silakan cek secara rutin Koran Jakarta, apabila dalam rentang waktu 2-4 pekan tidak tayang. Silakan bisa dikirim ke media lain.

Tips Melakukan Resensi Buku

Pertama, baca seluruh isi buku secara komperehensif. Tandai bagian yang dianggap penting.

Kedua, baca resensi Koran Jakarta, agar bisa memahami gaya penyajian yang diminati oleh redaksi Koran Jakarta.

Ketiga,  membuat resensi dengan baik dan tidak terlalu bertele-tele, sertakan dengan penggunaan kutipan dari tulisan halaman di buku.

Keempat, tujuan meresensi ialah untuk mempromosikan buku tersebut agar diminati banyak orang, bukan menceritakan keseluruhan isi yang dibaca.

Kelima, periksa kembali, untuk membuat bacaan lancar dan minim typo.

Selamat mencoba. [e]

Thursday, October 10, 2019

Umat Islam Bangkit, Darimana Harus Memulai?
Saya masih ingat betul pesan Pak Herry Zudianto dalam sebuah acara di Kaliurang bulan lalu. "Dengan ekonomi yang kuat, kita bisa mengatur semuanya."



Dan hari ini mantra ajaib itu nyata, dengan kekuatan ekonomi dan uang semua bisa diatur, dari urusan yang remeh-temeh hingga yang menyangkut urusan negara. Orang-orang baik akan terlindas, karena sistem yang sudah dirancang.

Bahkan akidah pun bisa digerogoti dengan gelontoran dana. Tidak heran jika kemudian gemar berseteru dengan kawan seiman.

Seorang kawan pernah nyelethuk, kalau tidak ingin manipulatif jangan jadi PNS! Ketika saya menolak membuat nota yang berbreda dengan nilai aslinya. Sebuah pernyataan yang menyiratkan betapa kronisnya negeri ini.

Kemudian, saat umat Islam yang memiliki potensi luar biasa ternyata semacam tak berdaya. Dari mana harus memulai kebangkitannya?

Mengkreasikan konsep BDS, Boikot, Divestasi dan Sanksi mungkin bisa menjadi solusi. Konsep ini diperkenankan dalam Islam.

"Konsep ini disahkan dan digunakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Ajaran Islam yang menyeluruh mengajarkan bahwa semua individu yang penuh kesadaran dan ketaatan dianjurkan untuk tidak membantu penindas, menadah barang curian, dan memperlama ketidakadilan." (Hidayatullah.Com)

Ketika ada penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan suatu komunitas, maka boleh melemahkan mereka dengan cara BDS.

Dari segi ekonomi BDS bisa dilakukan dengan meniru gerakan Mahatma Gandhi, dengan 'Swadesi' mencukupi kebutuhannya sendiri. Memilih produk buatan dalam negeri, buatan muslim, buatan tetangga.

Jika tidak mampu, kurangi ketergantungan dengan produk penindas, hidup minimalis.
Membangun basis-basis ekonomi secara komunitas juga bisa menjadi solusi. Dari masjid-masjid, mushalla-mushalla, madrasah-madrasah, majelis taklim, TPA dan sebagainya. Isi dengan produk buatan muslim, lokal.

Gerakan ekonomi lebih ditakuti ketimbang demonstrasi. Natsir pernah mewanti-wanti. Natsir berucap, “Islam beribadah, akan dibiarkan, Islam berekonomi, akan diawasi, Islam berpolitik, akan dicabut seakar-akarnya."

Barat || 6 Oktober 2019

Saturday, October 5, 2019

Pemasok Lele yang Menjadi Pengembang Property
Saya mengenalnya saat belajar di Pesantren Property. Penuturannya kalem dan mudah dicerna saat menjelaskan lika-liku dunia property. Ia tumbuh dari tempaan pengalaman hidup yang sarat.
Sempat menjalani profesi sebagai pemasok ikan lele ke warung-warung pecel lele. Katanya, sehari mampu menjual sekitar 20-30 kg lele. Misal, dengan keuntungan Rp1000/kg, maka pendapatannya maksimal Rp30.000.


Dengan kondisi ini, ia bercerita harus lebih berhemat dalam memenuhi kebutuhan harian.
.....
Namun, sebagai seorang yang memiliki impian, ia tidak berhenti begitu saja. Ia mencoba mencari peluang lain yang dianggap lebih menjanjikan. Sembari mengantar ikan lele, ia rajin menyimak iklan peluang usaha di koran yang biasa di tempel di papan pengumuman kampung. Begitu juga ia rajin membaca spanduk, baliho, poster dan semacamnya. Mencari peluang usaha yang dirasa lebih baik.
Sampai suatu ketika, ia melihat informasi tentang pengenalan wirausaha di bidang property. Inilah yang kemudian menjadi jalan baginya meniti kesuksesan di bidang property.
.....
Selepas dari Pesantren Property, saya ikut kelas khusus yang digelar di kantornya. Tidak banyak yang ikut, hanya beberapa saja. Dari sanalah kemudian saya tahu, bagaimana ia mengembangkan usaha, nyaris tanpa modal uang!
Dalam membangun rumah, ia bermodalkan gambar saja. Untuk tanah yang akan ditempati, ia mencari tanah yang akan dijual kemudian bernegosiasi dengan pemilik. "Jika boleh saya bangun rumah di atasnya lalu dijual, dan hasilnya kita bagi bersama. Ini lebih menguntungkan," sekira begitu bahasa diplomasinya.
Teriring doa, negosiasi semacam itu terus berhasil. Hingga ia berhasil membangun puluhan unit rumah di beragam tempat. Nyaris tanpa modal besar.
Dari mana uang untuk membangun? Ia menawarkan desain dan gambar rumah kepada konsumen. Jika deal, konsumen wajib membayar DP 30%, dari DP inilah kemudian untuk membangun rumah, secara bertahap hingga selesai. Bernegosiasi dengan pembeli, untuk melakukan pembayaran secara termin.
Dengan usahanya yang tekun dan amanah dalam menjaga kepercayaan. Kini beberapa unit rumah yang ia jual sudah di atas nilai 1 Milyar.
Meski terbilang sukses, ia tidak enggan membagikan ilmu yang ia dapatkan. Bahkan ia berusaha menularkan pengalamannya dengan memberi kesempatan para santri untuk magang langsung di berbagai proyeknya.
Satu semangat yang selalu diingat para santri pesantren property ialah "tolong menolong".
Barat || 3 Oktober 2019

Thursday, October 3, 2019

Sisi Jahat MLM
Menulis ini setelah melihat tangis seorang member MLM (Multi Level Marketing). Sebagai sebuah sistem penjualan, boleh jadi MLM tidak menjadi masalah selama dijalankan tanpa ada unsur penipuan dan semacamnya.

Tetapi MLM seringkali memiliki sisi jahat yang disebabkan oleh para pelaku MLM.
Pertama, menjadikan bonus besar dan kekayaan melimpah sebagai pemikat. Sehingga orang membanting tulang dan mengorbankan apapun untuk meraih mimpinya. Sayangnya hanya sebagian kecil yang menikmati sedang yang lainnya hampa.

Kedua, lebih tertari merekrut member ketimbang menjual produk. Sehingga produk seringkali hanya sebagai pemanis, tanpa mereka jual, bahkan menggunakan sendiri pun enggan.

Ketiga, label Halal dan Ustadz menjadi pemikat. Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI memberikan label halal berdasarkan sistem yang dipresentasikan kepada mereka. Sedangkan di lapangan, sistem itu seringkali tidak sejalan. begitupun dengan posisi ustadz pemikat, entah mereka tahu atau tidak tentang hal sebenarnya atas usaha yang membawa namanya untuk promosi.

Keempat, pindah-pindah MLM, pada satu titik jenuh, para pelaku MLM akan pindah ke MLM lain yang dirasa masih berpeluang berkembang. Begitu seterusnya, mengajak downlinenya untuk pindah atau meninggalkan member yang lalu begitu saja.

Kelima, Hak Usaha lebih dari satu untuk satu orang, dan bonus pasangan. Kedua hal ini seringkali membuat orang tidak lagi fokus menjual produk.

Seorang member MLM yang sudah membayar lebih dari satu juta menangis ketika saya terangkan sistem yang digunakan. Padahal ia pun sudah mengajak kawannya, yang dengan susah payah membeli produk lebih dari satu juga dan tidak ada hasilnya kecuali barang yang entah kapan akan berguna.

Barat II 2 Oktober 2019

Monday, September 23, 2019

Nasib Perih Pahlawan-pahlawan Muhammadiyah
Oleh: @ekosangpencerah

Yogyakarta identik dengan ibukota Muhammadiyah. Di sini gerakan pencerahan tersebut lahir dan tumbuh hingga tersebar ke penjuru Nusantara bahkan dunia. Dengan tiga gagasan utama Pendidikan, Kesehatan dan Kepedulian Sosial, Muhammadiyah secara nyata diterima di seluruh Indonesia. 



Bahkan di Papua dan NTT, kehadiran lembaga pendidikan Muhammadiyah baik sekolah maupun perguruan tinggi, dirasakan manfaatnya oleh masyarakat muslim dan non-muslim.

Mengelilingi Yogya, selaksa melihat suar-suar kemajuan Muhammadiyah. Di selatan, Kampus dan Islamic Center UAD begitu megah, di barat ada UMY dan UNISA berdiri dengan gagah mendidikan ribuan kader bangsa. Rumah sakit, sekolah, dan amal usaha Muhammadiyah. Bukti Muhammadiyah terus bergerak meski dalam senyap. Berkontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa tanpa harus mengaku paling Pancasila.

Tapi…
____
Suatu saat saya dapat cerita dari pemilik usaha fotokopi. Katanya, beberapa sekolah Muhammadiyah biasa harus ‘nge-bond’ alias hutang biaya fotokopi hingga ratusan ribu. Seorang Kepala SMK bercerita dana bantuan tidak lagi didapat karena jumlah murid tidak mencapai batas minimal.


Lalu, sebuah kabar datang, tentang tiga bulan gaji guru honorer tidak terbayarkan karena ketiadaan dana yang dimiliki sekolah. Jika saja, KH Ahmad Dahlan mengetahui ini, mungkin beliau akan menangis…

Para pendidik tunas bangsa, para pahlawan dari persyarikatan Muhammadiyah. Dengan kisaran gaji tidak sampai setengah juta, pun harus terhutang hingga berbulan-bulan. Dosa siapa? Ini Dosa Siapa?

Lalu, apakah akan berbangga dengan kemegahan segala amal usaha? Puas dengan segala suar gemerlap acara yang mengundang decak kagum semesta? Sementara mereka, sanga pahlawan mesti menahan perih dalam perjuangan dan terabaikan.

Ini hanya sekelumit ‘kezaliman’ terhadap para pejuang di sekolah Muhammadiyah. Belum lagi, mereka berjibaku mencari murid sekedar agar bisa mempertahankan sekolahan mereka. Kita sodorkan calon murid dari berbagai latar belakang sosial-ekonomi dengan kapasitas pendukung tak memadai.

Sementara putra-putri para kader dan warga Muhammadiyah justru sekolah di sekolah Islam Terpadu, Sekolah Negeri atau Sekolah Swasta ternama. Kemudian menuntut syarat agar sekolah Muhammadiyah maju dan berkembang, sehingga kelak layak menjadi tempat pendidikan anak-anak mereka. Sungguh jauh dari sebuah sikap ksatria.

Tapi…
Meratap saja tidak akan pernah membuat kekurangan menjadi lengkap. Menangis bisa jadi hanya akan mengundang tatapan sinis. Saatnya para pahlawan bangkit, sebab ada jaminan pasti dari Sang Pemilik Langit. “Barang siapa yang menyelamatkan orang dari kesusahan, maka Allah ta’ala akan menyelamatkannya dari kesusahan pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Beberapa langkah yang bisa ditempuh:
Pertama, sekolah tetap menerapkan infaq rutin yang dikelola oleh Komite atau paguyuban orang tua murid. Karena beberapa sekolah Muhammadiyah membebaskan sama sekali kewajiban infak, meniru sekolah negeri.

Kedua, membangun unit produktif yang bisa menjadi sumber dana. Membangun kios untuk disewakan, atau menanam tanaman perkebunan semisal kakao, pisang dan sejenisnya memanfaatkan tanah wakaf. Karena selama ini banyak tanah wakaf milik Muhammadiyah yang ditelantarkan.

Ketiga, Gerakan Koin Pendidikan (GKP) dari warga Muhammadiyah untuk mendukung pendidikan dan peningkatan kualitas sekolah Muhammadiyah.

Keempat, bekerjasama dengan amal usaha lain. Misal dengan perguruan tinggi, atau amal usaha lain.

Kelima, pengelolaan sekolah dengan sistem subsidi silang. Ini perlu dipikirkan oleh PP Muhammadiyah, agar kualitas pendidikan dan jaminan kelayakan upah guru Muhammadiyah bisa terpantau dan terjamin.

Berharap, sekolah Muhammadiyah dan para pahlawan persyarikatan bisa segera menemukan momentum kebangkitan. [esp]

Saturday, September 7, 2019

MLM : Multi Level Misteri
Beranda media sosial saya semakin sering terlintasi iklan MLM alias Multi Level Marketing. Dengan saya pikat masing-masing. Menawarkan keunggulang produk, keunggulan sistem, kesesuaian dengan aturan agama hingga reward aneka barang mewah yang akan didapatkan dan sebagainya.

Produk HNI
Secara pribadi, saya termasuk yang tertarik dengan sistem pemasaran langsung ala MLM. Kenapa? Karena sistem ini memungkinkan secara personal orang bisa menjadi pemasar produk tanpa harus berbelit dalam urusan rantai distribusi. Anda ambil barang dan pasarkan ke konsumen.

Saya juga terkesan dengan semangat para member MLM dalam bersemangat untuk menjalankan usahanya atau mereka sering sebut BISNIS. Sejak tahun 2000-an beragam MLM saya ikuti, sehingga cukup untuk melihat beragam geliat para member MLM dan sistem yang mereka gunakan.

Berikut MLM yang pernah saya ikuti bahkan beberapa sampai posisi 'penting'. Awal ikut pemasar langsung produk dari malaysia, produk utamanya berupa kopi. Lalu pernah ikut sebuah MLM yang memasarkan produk kesehatan dari China, tidak aktif hanya menggunakan produk saja hingga bintang dua. Selanjutnya produk hampir mirip, suplemen kesehatan Mil****, harganya mahal tapi beberapa orang terlanjur fanatik sehingga tetap beli.

Lanjut perusahaan yang dibangun anak muda, sempat masuk acara talkshaw terkenal di tivi, dan didaulat sebagai pengusaha muda sukses, jualan pulsa. Namun nyatanya lebih banyak dan dominan cari member ketimbang jualan produk. Saya coba cari info, usaha ini sekarang dah gak jalan.

Lanjut gabung perusahaan pemasar pupuk. Produknya bagus dan sudah teruji. Namun menthok karena upline tidak jalan dan pengambila barang jauh. Padahal produk-produknya sangat bermanfaat.

Lanjut ikut bisnisnya seorang ustadz terkenal. Tertarik karena ada investasi di bursa saham. Hanya saja pupus lebih cepat karena manajer investasinya saya lihat tidak berkembang dengan baik. Begitupun membernya banyak yang tidak mengunakan produk, lebih banyak ngajak member.

Menurut saya MLM sebuah metode yang bagus untuk pemberdayaan. Sayangnya metode ini lebih banyak dimanfaatkan orang pinter untuk membodohi member lainnya. Bayangkan, produk yang mereka jual jarang mereka pakai, tetapi lebih agresif mengajak member baru. Lalu dari mana perusahaan dapat pemasukan?

Bonus dan Reward Mewah Sebagai Pemikat

Mobil, rumah mewah, perjalanan ke luar negeri dan lainnya selalu menjadi daya pikat orang mengajak gabung member ke MLM (ada pula bisnis serupa MLM dan persis tapi tidak mau dinamai MLM), lebih banyak menawarkan mimpi ketimbang edukasi untuk penggunaan produk dan pejualan produk.

Meski tertarik dengan MLM, saya lebih tertarik dengan produk. Ketika produknya tidak layak digunakan dan tidak masuk akan dalam harga, maka akan saya tinggalkan. Bonus tidak menjadi satu-satunya daya tarik. Maka, ketika teman-teman yang menjadi member melalui saya banyak yang berbonus puluhan hingga ratusan juta per bulan saya tetep 'ayem' menikmati peran dengan sewajarnya.

Di HNI-HPAI, dari data yang bisa saya akses sudah puluhan member yang melalui saya beromzet ratusan juta, memiliki toko dan pusat agency. Mereka besar sesuai dengan usaha yang telah ditempuh. Ada keadilan. Meski saya berposisi sebagai upline namun karena saya hanya menggunakan produk tidak agresif dalam pemasaran, bonusnya tidak begitu banyak. Sekitar satu jutaan setiap bulan.

Di HNI-HPAI, kami memulai menggunakan produknya untuk kebutuhan harian. Demikian juga kepada rekan member, saya mengajak untuk menggunakan produknya, sehingga menjadi contoh bagi yang lain. Menggunakan alternatif produk muslim, lokal yang berkualitas dan halal.

HNI memiliki pabrik sendiri, yang berkembang dari skala home industri menjadi pabrik modern. Dikelola dengan menjaga nilai-nilai Islam.

Untuk Informasi lebih lanjut silakan kontak kami

SMS/WA ke 085 743 141 977


Untuk menjadi member silakan kunjungi DAFTAR MEMBER 

Barat || 7 September 2019

Profil PT Herba Emas Wahidatama