Friday, January 17, 2020

Bahagianya Menjadi Bunda

            Jahimah As Salami mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin mengikuti peperangan.” Nabi bertanya, “Apakah ibumu masih ada?” Ia menjawab, “Ya” Rasulullah berkata, “Layanilah ia karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.” (HR. An Nasai)
            Hadits tersebut menunjukan bagaimana mulianya kedudukan seorang ibu. Seorang anak diperintahkan untuk berbakti kepada ibunya. Tanpa itu, mustahil surga akan teraih.
            Inti dari hadits itu juga senada dengan perintah penghormatan anak kepada ibunya sebanyak tiga kali lipat sebelum penghormatan kepada seorang ayah. Karena ibu memiliki peran penting dalam kehidupan seorang anak. Sejak di dalam kandungan hingga beranjak dewasa seorang anak memiliki ketergantungan akan peran ibu. Hingga biasanya anak memiliki kedekatan emosional lebih besar kepada ibunya ketimbang kepada ayahnya.



            Peran penting ibu tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan anak. Mewarnai perilaku dan pembangunan karakter anak. Pada masa selanjutnya semua itu akan mendukung kemampuan untuk meraih keberhasilan. Di sinilah seorang ibu memiliki tanggungjawab untuk mendidik anak-anaknya dengan baik.
            Al Quran telah menyajikan dua kisah tentang peran penting seorang ibu dalam mendidik anak.
Pertama, adalah kisah Nabi Musa as. yang semenjak bayi diasuh oleh Asiyah yang merupakan istri Fir’aun, seorang raja yang sangat ingkar kepada Allah. Musa tumbuh dalam lingkungan keluarga kerajaan yang dipenuhi kekafiran. Meski demikian ia dididik langsung oleh Asiyah, wanita yang salehah dan beriman. Pengaruh Asiyah lebih mewarnai perkembangan Musa, ketimbang pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Pada akhirnya nanti Musa menjadi seorang mukmin yang tetap beriman meskipun tumbuh dalam keluarga Fira’un.
Kedua, adalah kisah Kan’an yang tidak lain merupakan putra Nabi Nuh as. Kan’an tumbuh dalam didikan seorang ibu yang kafir. Durhaka kepada Allah dan durhaka kepada suami. Sifat Kan’an pun tidak jauh dari ibunya. Ia membangkang terhadap ajakan Nabi Nuh as. yang menyeru kepada keselamatan. Akhirnya Allah menenggelamkan Kan’an dengan air bah yang meluap melampaui bukit-bukit.
Dua kisah tersebut menjadi gambaran pentingnya peranan seorang ibu untuk mengantar anak-anaknya menjadi pribadi yang beriman, berakhlak baik serta mampu meraih keberhasilan di masa depan.
Terlihat pula bahwa faktor ibu lebih dominan ketimbang ayah dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Sudah semestinya setiap ibu menyadari akan hal ini. Membekali diri dengan keimanan dan akhlak terpuji karena nanti semua itu akan menjadi contoh bagi sang buah hati.
            Sebagai balasan atas semua jerih payah itu, Allah telah menyerukan kepada manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu.
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya.” (Al 'Ankabuut [29]: 8)
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman [31]: 14)
            Rasulullah juga mengingatkan. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, “Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
           

Wednesday, January 15, 2020

Relativitas Waktu, Memperpanjang Usia

“Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Asr: 1-3)

 Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ‘waktu’, hingga Allah bersumpah demi ‘waktu’? Sejak lama para ilmuwan dan filsuf (ahli filsafat) mencoba memecahkan misteri tentang ‘waktu’. Hal itu disebabkan karena ‘waktu’ merupakan persoalan penting dalam kehidupan manusia. Zeno, adalah filsuf pertama yang membicarakan ‘waktu’ dikaitkan dengan ruang dan gerak.

Para tokoh berbeda pendapat dalam memandang ‘waktu’, namun secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, pendapat yang menganggap waktu adalah obyektif (tetap) dan merupakan realitas riil. Tokoh yang berpendapat demikian diantaranya adalah Descartes. Sedang Leibniz, dan Augustinus Comte menyatakan bahwa ‘waktu’ merupakan hal yang subyektif (tergantung individu yang menilainya).

Dari dua teori tersebut, nampaknya teori kedualah yang banyak diterima dan diikuti saat ini. Augustinus Comte dalam Confessiones-nya mengatakan bahwa ‘waktu’ bersifat subyektif. Menurutnya setiap orang mempunyai pengertian sendiri-sendiri tentang ‘waktu’. Meskipun benar menurut satu orang namun belum tentu benar menurut orang lain.

Ini berarti ‘waktu’ yang kadarnya kita tentukan dengan jam, hari, minggu, bulan atau pun tahun, hanyalah merupakan istilah-istilah yang menggambarkan gerakan Bumi mengelilingi Matahari dan bukan merupakan pengertian ‘waktu’ sesungguhnya.

Pemakaian jam yang kita gunakan saat ini, sebenarnya telah disesuaikan dengan peredaran sistem Matahari dan itu akan berbeda ketika kita berada di Venus yang berotasi selama 225 hari. Sehingga tepat apa yang dikatakan L. Barnet mengutip pernyataan Einstein, bahwa ‘waktu’ tidak dapat diukur. Karena ‘waktu’ hanya merupakan perpindahan simbolik menurut tempat.

Misalnya satu jam di Bumi adalah peredaran Bumi mengelilingi porosnya sejauh 15 derajat. Karena Bumi berupa lingkaran yang mempunyai sudut 360 derajat, maka dalam sehari semalam (satu kali putaran) sama dengan 24 jam. Jadi yang dimaksud satu jam di Bumi adalah gerakan Bumi sejauh 15 derajat.
Dari sebuah pernyataan berikut mungkin kita bisa memahami bahwa ‘waktu’ bersifat relatif.
“Satu jam saat seorang menanti kekasih akan terasa berbeda dengan satu jam ketika ia akan dihukum gantung.”

Lalu mungkin kita bertanya berapa kadar ‘waktu’ yang sebenarnya ? Sampai saat ini belum ada ketetapan yang disepakati para ahli tentang kadar ‘waktu’. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman,

“Dan Dia mengatur urusan dari langit ke Bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Q.S. As-Sajdah: 5)

Dari ayat tersebut jelas sekali perbedaan antara 1 hari yang dimaksud Allah dengan satu hari menurut perhitungan manusia. Satu hari berbanding seribu tahun. Subhanallah !

Semua itu bukan hal yang mustahil, sebagaimana dikemukakan Einstein dalam teori relativitasnya bahwa semakin cepat suatu objek bergerak, maka ‘waktu’ yang dicatatnya semakin pendek dibanding dengan objek yang diam relatif (karena para ahli percaya tidak ada diam yang sebenarnya, semua bersifat relatif).

Perbedaan itu akan semakin terlihat jelas apabila sebuah objek bergerak dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Contoh mudah, misalkan kita akan mengikuti ekspidisi ke tata surya lain yang jaraknya sangat jauh. Kita hanya mampu mencapainya dengan menggunakan pesawat luar angkasa yang mempunyai kecepatan re-lativistik (mendekati kecepatan cahaya). Perlu diketahui bahwa kecepatan cahaya mampu mendekati kebenaran dan independen karena tidak terpengaruh oleh zat perantara. Albert Michelson dan William Moerely (AS) pada tahun 1887 mengatakan bahwa kecepatan cahaya di mana-mana sama.

Misalkan pesawat yang kita gunakan itu berkecepatan 900.000.000 km/jam, mendekati kecepatan cahaya yang bergerak dengan kecepatan 1.080.000.000 km/jam. Maka ‘waktu’ yang ada di pesawat kita akan berjalan lebih lambat dibanding dengan ‘waktu’ di Bumi.

Tidak heran saat kembali ke Bumi ternyata usia kita lebih muda dari usia yang sebenarnya. Kecepatan re-lativistik telah membuat ‘waktu’ dalam pesawat itu ‘memuai’. Einstein dalam teori relativitas khusus-nya (1905) mengatakan, gerak berpengaruh terhadap perputaran ‘waktu’ dan masa suatu benda. Sehingga ‘waktu’ dalam pesawat luar angkasa tersebut lebih lambat dari ‘waktu’ di Bumi. Benarkah begitu ? Wallahua'lam.

Tulislah Sejarah
Ada rentang masa yang hilang ketika belajar sejarah sewaktu di SMP. Mempelajari imperium Romawi - Yunani, kemudian loncat ke renaisans peradaban barat. Lalu di mana posisi peradaban Islam yang bertahan hingga lebih sepuluh abad?

Maka tulislah sejarah, bukan untuk menghibur diri mengenang peradaban gemilang, namun mengabarkan bahwa umat ini pernah berada pada puncak kejayaan. Rasanya benar sebuah ungkapan: Sejarah ditulis sejalan dengan pikiran penulisnya.
Hilangnya episode kejayaan Islam, seolah menafikan peran penting ilmuwan-ilmuwan bertalenta yang pernah dimiliki Islam. Sebutlah Ibnu Sina, yang di Eropa dikenal sebagai Avicena. Tokoh kedokteran yang hingga kini warisan pengetahuannya masih menjadi rujukan.
Jangan lupakan juga Abbas Ibnu Firnas, seorang fisikawan, kimiawan dan teknisi. Dalam dirinya juga mengalir darah seni sebagai penyair dan musisi. Ilmuwan dari Andalusia (Spanyol) ini merupakan perancang pesawat pertama di dunia.
Kemudian, kita bisa berpikir bagaimana seorang Michael Hart, seorang penulis barat yang meranking tokoh-tokoh paling berpengaruh di dunia. Dan menempatkan Nabi Muhammad di posisi pertama. Ia menyebut "Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama."
Atau mencoba menganalisa pendapat Sir George Bernard Shaw, "Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa, beberapa ratus tahun dari sekarang, Islamlah agama tersebut."
Maka, tulislah sejarah. Sebagai pelajaran tentang kisah di masa lalu. Sebagai sumber pengetahuan yang bisa jadi memantik semangat untuk menghadirkan kembali kejayaan.
Barat || 11 Januari 2020
Bisnis Pendidikan
Ramadhan lalu sempat mendapat tugas dari kantor untuk mengikuti kegiatan di Depok Jawa Barat. Saya menginap di Hotel Santika. Beberapa hari di sana, sempat bertemu dengan anak-anak SMA yang juga menginap di lokasi yang sama. Kebetulan waktu itu masa liburan sekolah.
Seleksi Dewan Pendidikan Kabupaten Sleman

Jarang sekali bercakap dengan orang yang belum dikenal di dalam lift. Hanya saja karena lantai yang dituju berada di lantai 20-an lumayan cukup waktu untuk membuka pembicaraan, apalagi jika shalat tarawih juga bareng.
Dari pembicaraan itu, mereka mengaku siswa SMA yang sedang mengikuti les privat selama beberapa hari di hotel. Rupanya, ada lembaga bimbingan belajar yang membidik kalangan kaya semacam mereka dengan membuat paket privat di hotel berbintang. Bagi orang tua kaya dan tidak punya cukup waktu mendampingi anaknya, mungkin program semacam ini menarik. Kami juga berbincang dengan para pengajar, yang masih merupakan mahasiswa.
Bisnis pendidikan memang menarik. Kadang unik. Bagaimana orang tua rela membayar jutaan rupiah agar anaknya bisa belajar di lembaga bimbingan belajar yang hanya satu-dua jam setiap hari. Sementara mereka ingin gratis biaya sekolah!
Atau tradisi study tour, yang terkadang hanya tournya saja yang utama. Study-nya entah. Dulu dalam bayangan saya, ketika study tour memang benar-benar ada hasil pembelajaran yang dicapai oleh siswa. Tetapi tampaknya, itu bukan menjadi prioritas.
Buku. Pendidikan tidak lepas dari buku. Dan buku menjadi ladang tersendiri untuk bisnis. Ketika saya SD, masih ingat buku kami bisa bergantian dengan kakak kelas. Jadi digunakan turun-temurun. Sekarang, bahkan setiap semester buku pun bisa berganti, dan bukan hanya satu!
Sekarang, kita akan melihat seperti apa arah pendidikan ke depan. Wacana dihapuskannya Ujian Nasional, apakah akan nyata atau sekedar retorika seperti lazimnya kebijakan selama ini.
Secara pribadi, sekarang mulai tertarik dengan pembelajaran ala Kuttab Al Fatih. Murid tidak dibebani berbagai macam pelajaran dan tidak sampai seharian di sekolah. Tetapi mereka dibekali modal dasar keimanan dan ilmu pengetahuan yang bisa dikembangkan. Berharap, semoga Kuttab tak terjebak dalam Bisnis Pendidikan.

Barat || 11 Januari 2020

Thursday, January 9, 2020

Garis Tangan Penulis
Pada sebuah semester ketika kuliah, saya memutuskan untuk nekat magang menjadi reporter di surat kabar harian di Solo. Di sisi lain tetap mengambil kuliah alias tidak cuti. Bisa dibayangkan bagaimana cara kuliahnya? Untung, saya sudah punya sedikit pengalaman untuk mengatur waktu antara masuk dan tidak masuk kuliah



(Baca catatan: Setengan Kuliah)

Di Solo, saya benar-benar mendapat tempaan yang lumayan. Job desk pertama adalah liputan urusan politik. Maka pada hari pertama ditugaskan untuk nongkrong di Balaikota. Dengan penuh semangat, naik bus sambil tanya-tanya jalur. Ketika sampai di Balaikota masih sepi. Dan akan terus sepi karena itu hari libur!

Maka saya isi hari itu dengan mengobrol dengan tukang becak di depan Balai Kota.
------
Terjun kedua kerja kembali menemukan jalan untuk menulis. Tepatnya tujuh tahun setelah bergelut dengan berbagai aplikasi. Mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang jurnalistik, bersama kawan-kawan dari 34 provinsi se-Indonesia.

Di akhir sesi, ada reward menarik. Lima atau tujuh peserta terbaik mendapat peluang untuk belajar langsung di Tempo Institut dan Alhamdulillah bisa masuk di dalamnya.

Maka selama beberapa hari mendapatkan ilmu langsung tentang jurnalistik dan pengelolaan media dari Kantor Tempo. Padahal Majalah Tempo adalah termasuk yang garis kebijakan redaksinya tidak saya senangi. Setelah tahu sedikit pengelolaan di dalamnya, akhirnya bisa paham kenapa mereka memilih jalan itu.

Seperti sebuah adagium yang saya susun sendiri: Wartawan boleh idealis, tetapi di atas wartawan masih ada redaktur, di atas redaktur masih ada pimred, di atas pimred masih ada pemodal. Tinggal di tingkat mana idealisme itu akan tertawan.

Barat || 7 Januari 2020

Thursday, January 2, 2020

Mencintai Buku-buku


Awal kecintaan saya dengan buku tidak dimulai dengan mudah. Sebenarnya saya tidak suka membaca, lebih tepatnya malas. Dalam pikiran, yang namanya belajar itu adalah mempersiapkan buku sesuai jadwal untuk esok hari. Tidak lebih. Begitu sejak SD hingga SMA.

Hingga setelah kelulusan sebuah jalan harus dipilih. Minat sewaktu di SMA ingin melanjutkan kuliah menjadi guru. Tujuannya meneruskan di UNY. Namun di detik-detik akhir kelulusan keinginan itu berubah.
"Kuliah itu biayanya mahal, kalau menjadi polisi itu cepak," begitu kira-kira nasihat Bapak. Cepak artinya cepat dapat kerja yang jelas dan berpenghasilan.
Saran yang tidak masuk dalam hitungan.
Bapak adalah sosok sederhana yang memilih jalan sebagai petani. Meski sebagian besar teman SD nya banyak yang berhasil di sektor formal. Yang tentu saja mendapat penghormatan lebih ketimbang profesi sebagai buruh tani.
-------
Akhirnya lulus SMA, tidak langsung kuliah. Lagi-lagi karena faktor keterbatasan biaya. Sebagai 'balas dendam' harus mencari sumber ilmu lain, bukan dari bangku kuliah. Maka, puluhan buku menjadi 'bahan lalapan', dari buku motivasi hingga undang-undang sekalipun.
Saya masih ingat, ke kondangan pun saya bawa buku kecil tentang Undang-undang!
Orang mungkin melihat ada yang tak lazim, tapi tekad saya kegagalan masuk perguruan tinggi harus ditebus dengan mencari sumber ilmu lain.
Di pagi dingin, saya sempatkan belajar mengaji 'iqra' di AMM Kota Gede. 05.30 dari rumah, karena pelajaran dimulai jam 06.00 dan biasanya jam 07.00 sudah selesai.
Siang (kalau sempat) atau malam mencoba menulis dengan tulisan tangan dan kadang dengan mesik ketik, pinjam punya tempat Oom saya. Sempat mengirimkan tulisan ke media cetak tapi tak dimuat.
(Pada akhirnya, meski terlambat sempat kuliah, baca di sini : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10214587773709633&set=pob.1280443829&type=3&theater)
------
Rentang 2007-2008 sempat mengajar di sekolah swasta dengan honor tidak genap seperempat Upah Minimum Regional (UMR). Pada tahun 2008, kebetulan mendapat tugas mengawasi ujian Nasional di SMP tempat dulu saya sekolah. Pada selembar kertas, sambil mengawasi para murid saya tulis sederet angka imajiner yang terdiri dari : tahun lahir; bulan lahir; tanggal lahir; tahun; bulan; kode jenis kelamin; kode urutan.
Sebuah deret yang searti dengan nomor induk pegawai alias NIP. Setahun kemudian doa dan harapan tersebut dikabulkan Allah Swt. deret angka yang saya tulis bisa sama persis!
-----
Wong bodo kalah karo wong pinter, wong pinter kalah karo wong beja. Ungkapan tersebut mungkin terkadang benar. Tetapi bagi saya wong beja masih bisa dikalahkan oleh orang yang pinter dan beja!
Sekitar tahun 2010 mulai bertugas, sebagai anak baru masih harus beradaptasi. Maka kemudian banyak waktu longgar, Kesempatan ini saya manfaatkan untuk belajar: membaca dan menulis buku. Hasilnya sebuah buku pada 2011 diterbitkan oleh Pro-U Media Yogyakarta.
Termasuk cukup cepat prosesnya. Bahkan sempat dipanggil dan ditanyai oleh editor kenamaan Mas Yusuf Maulana, dengan pertanyaan selidik: "Ini benar karya Anda sendiri?"
Rupanya Mas Yusuf, ingin memastikan karya itu tulisan saya sendiri. Selanjutnya ia mengungkap, "Tulisan ini sudah matang, tidak seperti tulisan seorang pemula."
Itu adalah awal transformasi saya ke dunia buku. Dari gemar membaca ke gemar menulis. Menerbitkan buku melalui penerbit mayor cukup rumit. Apalagi sekelas penerbit Pro-U Media yang sangat selektif. Bayangkan, untuk satu bulan saja maksimal hanya menerbitkan dua buku! Sebab mereka memang benar-benar mengusung misi: Menerbitkan Gagasan dan Cita-cita.
Beberapa tahun tinggal di negeri 'asing' karena tidak dalam 'habitat' semestinya. Hingga atasan saya Bu Dwika Ika menyarankan untuk meminta kejelasan. Apakah saya akan ditempatkan di habitat semestinya atau di lembaga pendidikan. Pada tahun itu pula saya mendapat kejelasan untuk tetap tinggal di lembaga pendidikan. Ini sama artinya, keahlian dan ijazah saya tidak banyak berguna sebab berbeda mahzab.
(Khusus bab ini bisa disambung lain waktu)
Kini di rumah, terdapat ratusan buku berbaris agak rapi di rak. Sebagai rintisan Taman Bacaan Masyarakat yang saya kelola: Pustaka Rumah Dunia. (silakan bisa di-searching di Google)
Begitulah, bagaimana saya mencintai buku-buku.

Barat || 02/01/2020
Ketika dingin menyapa

Foto: Bendel Majalah Panji Masyarakat yang terbit di tahun 70-80-an. Pemberian dari Bapak Mertua.

Sunday, December 29, 2019

Agar Amal Tak Jadi Buih

Bismillaah... catatan kali ini semoga tidak mengesankan untuk menggurui orang lain. Sebab diri ini masih perlu terus belajar.

Ada satu pesan di inbox FB saya, seorang sahabat menanyakan materi kultum yang saya sampaikan ramadhan tahun lalau di masjidnya. Alhamdulillah, David, sahabat saya itu, masih ingat poin-poin dari apa yang saya sampaikan, hanya saja masih butuh penjelasan kembali.


Ramadhan kemarin, saya menyampaikan materi tentang bekal yang harus dimiliki dalam beribadah. Berlomba di atas bumi yang semakin renta. Layaknya orang lomba, tentu ada aturan yang wajib dipatuhi. Jika diabaikan, bisa-bisa kita akan di-diskualifikasi, alias dikeluarkan dari lomba. Hasilnya yang kita peroleh menjadi sia-sia. Lalu apa saja aturan yang perlu kita patuhi itu?

Pertama, mendaftarkan diri. Kalo kita ingin ikut lomba, kita wajib mendaftar untuk memperoleh nomer urut, atau paling tidak nama kita tercatat sebagai peserta. Sehebat apapun kita mengikuti lomba, kalau tidak terdaftar, tidak akan mungkin menjadi juara. Dalam ibadah, pendaftaran itu berupa kalimat syahadat. Atau kita mengenalnya 'puncak' dari Iman. Allah menegaskan, amalan orang yang tidak beriman/kafir layaknya fatamorgana.

"Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya." (An Nuur: 39)

Itulah pentingnya iman (saya menyebutnya, I level satu)

Kedua, untuk memunculkan potensi maksimal dalam diri diperlukan niat. Niat bukan hanya di awal laga melainkan tetap terjaga bahkan sampai saat perlombaan berakhir. Agar tidak merasa ditekan, dipaksa atau dijebak, tapi timbul dari kesadaran diri mengikuti lomba. Inilah 'ikhlas', saya menyebutnya, 'I' level dua.

"Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (Al Hajj: 31)

Ketiga, untuk menjadi peserta yang baik dan diakui, kita butuh ilmu. Agar tahu mana yang menjadi larangan, mana yang diperbolehkan, kapan harus mulai lomba, kapan harus berhenti lomba, ke mana tujuannya, dan sebagainya. Demikian juga dalam ibadah, agar tahu mana amal yang harus didahulukan, apa saja syarat sahnya, yang membatalkan dan sebagainya. Untuk mengetahui semua itu perlu ilmu. Saya menyebutnya, 'I' level tiga.

Begitu pentingnya ilmu, sampai-sampai Umar bin Khattab mengungkapkan, “Kematian seorang ahli ilmu jauh lebih baik daripada kematian seribu ahli ibadah yang tak mengerti halal dan haram.”

Keempat, seorang pemenang adalah mereka yang bisa konsisten menjaga ritme dalam jalur para pemenang. Tidak mudah tergoda apalagi tergiur dengan persoalan yang menggelincirkan keluar dari jalur pemenang. Dalam beribadah pun begitu, amal yang sedikit dilakukan dengan konsisten lebih baik ketimbang amal yang banyak tetapi jarang-jarang dilakukan. Membaca satu ayat setiap hari lebih baik ketimbang membaca 30 ayat kemudian baru membaca lagi satu bulan berikutnya. Konsisten, dalam khazanah Islam dikenal juga dengan istilah, istiqomah. Saya menyebutnya, 'I' level empat.

Dari Abu Sufyan bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu berkata, "Aku telah berkata, 'Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu berkata pada orang lain selain engkau.' Nabi menjawab,'Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah.'”

Jika empat level 'I' tersebut telah terpenuhi. InsyaAllah amal yang kita kerjakan tidak akan menjadi buih.

(Terima kasih kepada Mas David Ade Wijaya yang telah mendorong saya untuk menuliskan lagi materi dalam note ini, semoga bermanfaat juga untuk yang lain)
Di Antara Dua Jalan
Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
(HAMKA)

Penggalan puisi yang ditulis Hamka di Ruang Sidang Konstituante pada 13 November 1957, setelah mendengar pidato Moh. Natsir di Majlis Konstituante. Kegigihan M. Natsir dalam membela Islam mendapat dukungan dari Hamka. Dalam sidang itu dengan tegas Moh. Natsir menyebut bahwa hanya ada dua jalan: Islam atau Atheis. M. Natsir menwarkan Islam sebagai pilihan.



Tidak mengakomodasi ajaran Islam berarti menempuh ajaran atheis. Begitu ringkasnya. Dalam catatan saya, hari ahad lalu, saya mengutip ayat Al Quran yang menerangkan semua makhluk diciptakan berpasangan. Baik yang diketahui manusia maupun yang tidak diketahui manusia. Begitu pula kejadian yang ada di dunia ini, akan ada dua yang bertentangan. Baik-Buruk. Benar-Salah. Dan sebagainya.

Kehidupan ini memberikan pilihan dua jalan, manusia diberi kesempatan untuk memilih dengan konsekuensinya masing-masing.

"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan." (Al Balad [90]: 10)

Di satu sisi ada jalan penuh kenikmatan, keindahan dan kesenangan, tetapi diujungnya ada neraka yang menyala-nyala dengan dahsyatnya. Di sisi lain ada jalan mendaki, penuh perjuangan, ujian kesabaran dan kepahitan, tetapi muaranya adalah surga dengan nikmat tiada tara.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Anas bin Malik bahwa Rasuullah SAW bersabda, “Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka itu dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dan juga oleh Tirmidzi yang mengatakan bahwa hadits ni shahih dan gharib

Sekarang tinggal pilih, memilih jalan yang terjal mendaki atau sebaliknya. Lalu seperti apa jalan yang terjal mendaki itu?
  • (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan
  • atau memberi makan pada hari kelaparan
  • (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat
  • atau kepada orang miskin yang sangat fakir 
(Al Balad [90]: 13-16)

dari Catatan Facebook

Sunday, November 10, 2019

Madrasah Perempuan di New Delhi India
Mareike Winkelmann meneliti tentang madrasah untuk perempuan di New Delhi India. Selama ini banyak literature yang mengulas madrasah untuk laki-laki. Ada sebagian meneliti madrasah perempuan namun berfokus pada madrasah yang mengadopsi gaya pengajaran tradisional. Siswa belajar di rumah dengan seorang guru, penekanan pembelajaran kepada adab, dan tidak mempelajari ilmu umum.



Dengan meneliti Jamiat Al Niswan, Mareike Winkelmann berusaha mengungkap bahwa madrasah selain mengajarkan adab juga mengajarkan ilmu umum, perempuan diberi hak untuk berbicara dan mengakses budaya barat meski terbatas serti setelah lulus bisa terjun ke ranah professional.

Berikut review bebas dari, hasil penelitian Mareike Winkelmann.

      A.  Pendahuluan
     
     Penelitian yang di lakukan oleh Mareike Winkelman adalah penelitian terkait keberadaan perempuan di dalam madrasah maupun di luar madrasah. Melalui penelitian yang ada ini akan menjadi jawaban atas pertanyaan bagaimana keberadaan perempuan di tinjau dari dalam madrasah dan di luar madrasah. Selain itu dapat menjawab problem-problem yang kemudian menjadi hambatan atau tantangan bagi perempuan islam dan terlebih lagi bagi madrasah yang menampung perempuan dalam mengajarkan Pendidikan islam dimana penduduknya lebih didominasi agama Hindu.
     
     B.  Gambaran umum
  
   Penelitian ini di lakukan di New Delhi India. Dilakukan di salah satu madrasah yang mengampu perempuan-perempuan islam yang berada di India dan sekitarnya. Nama madrasah tersebut ialah jami’at al-Niswan yang didirikan tahun 1996. Madrasa ini berada di bawah perlinduangan Nadwat Al-Ulama di Lucknow (salah satu kota yang berada di India, kota yang dikenal sebagai kota toleransi, dimana umat Hindu dan Muslim menjalani hidup dengan harmonis). Dalam penelitian tersebut terdapat 180 siswa yang memiliki usia rata-rata 12-17 tahun masih tergolong remaja awal, dan semuannya berada di  madrasah tersebut.

Terdapat beberapa poin penting yang menjadi dasar dari penelitian ini antara lain :
1.     Transmisi pengetahuan islam pada anak-anak perempuan madrasah.
2.     Kurikulum informal.
3.     Peran jemaat tabligh dalam pelaksanaan sehari-hari di madrasah.

C.  Metode pembelajaran

Penting dicatat perjalanan para pria juga sebagai strategi rekrutmen Jamiªat al-Niswan. Pendiri dan manajer secara teratur melakukan perjalanan ke seluruh negeri untuk mengumpulkan dana untuk madrasah. Banyak siswa dari tempat-tempat di luar Delhi mendengar tentang Jamiªat al-Niswan dari para pengelana yang terkait dengan madrasah ini. Selain merekrut siswa baru - yang dalam kasus Jamiªat al-Niswan. Gadis-gadis dari keluarga inti yang terkait dengan Jamiªat al-Niswan menikahi anak laki-laki yang orang tuanya menetap di luar India, di Arab Saudi dan Afrika Selatan, misalnya.

Baik Jamaat Tabligh dan Jamiªat al-Niswan mewakili institusi yang sangat berbeda dari yang ada di sekitarnya. Sebagai contoh, mereka berbeda dalam inversi peran gender mereka (sementara dan terbatas). Dalam pengabaian mereka atas kemewahan yang terkait dengan ritual rumah tangga seperti pernikahan.

Berkenaan dengan inversi peran gender, perlu dicatat bahwa dalam Jamiªat al-Niswan adalah laki-laki yang menyiapkan makanan untuk siswa dan guru, sementara yang terakhir pada gilirannya harus mengurus pekerjaan laki-laki yang biasanya membersihkan sekolah. Bangunan serta pencucian, karena laki-laki tidak diizinkan memasuki gedung sekolah. Beberapa pengamat telah menyarankan bahwa bentuk-bentuk inversi peran gender (terbatas dan sementara) ini adalah tipikal dari Jamaat Tabligh juga, karena orang-orang yang 'bepergian di jalan Tuhan' dibiarkan menggunakan alat mereka sendiri dalam hal menjaga kebutuhan sehari-hari mereka selama perjalanan mereka.

D.  Materi Ajar

Meskipun pelajaran dalam adab atau 'pendidikan moral' hanya mengambil porsi yang relatif kecil dari jadwal, yaitu delapan jam seminggu, pengamatan mengonfirmasi bahwa adab meresapi urusan sehari-hari dan suasana keseluruhan Jamiªat al-Niswan. Selain itu, memperkenalkan dan merawat siswa dengan aturan yang ditetapkan oleh pemahaman masyarakat tentang adab tampaknya sangat penting ketika datang ke tujuan eksplisit madrasah untuk mewujudkan 'islah (reformasi) akhlaq (moralitas) dan ªamal (tindakan), seperti yang dikatakan brosur madrasah. Akhirnya, makalah penerimaan juga menyatakan bahwa 'siswa harus sepenuhnya menghormati para guru, pendiri, dan ulama di belakang Jamiªa'. Pertanyaannya adalah bagaimana tujuan ini dapat ditetapkan dan dipraktikkan.

Pelajaran pertama yang siswa pelajari tentang adab adalah bahwa mereka harus menunjukkan rasa hormat kepada guru mereka. Salah satu buku yang digunakan untuk kelas adab, berjudul Qira'at ur-Rashida, memuat kisah-kisah tentang kehidupan Nabi, para sahabatnya, dan para khalifah pertama. Kisah-kisahnya berhubungan dengan etika sosial, dan mengajarkan pembaca cara makan dan minum dengan benar, bagaimana menghadiri dan mengatur pernikahan, atau bagaimana menjalankan rumah tangga dengan pandangan untuk menyenangkan Allah.

Meskipun para gadis mengetahui bahwa, menurut Islam, mereka memiliki hak untuk memperoleh pengetahuan dan bahwa mereka juga memiliki hak, misalnya, untuk mengabaikan tugas-tugas rumah tangga tertentu yang dianggap 'tidak Islami', seperti persiapan ekstensif untuk pernikahan mewah, tingkat baru penegasan diri terhadap para remaja putri terpelajar ini juga memiliki potensi untuk menciptakan ketegangan di bidang domestik.

Berkenaan dengan kurikulum madrasah, kurikulum resmi tidak mengungkapkan bahwa dalam banyak kasus, buku-buku yang disebutkan tidak dipelajari sepenuhnya. Sebagai contoh, saya mengamati bahwa dalam kasus Hidaya, teks standar tentang yurisprudensi Hanafi, bab-bab yang diwajibkan untuk dipelajari oleh para gadis menunjukkan bahwa kurikulum ambisius sering dipersempit agar sesuai dengan batasan kursus lima tahun (seperti bertentangan dengan enam belas yang asli dan kemudian delapan tahun belajar untuk anak laki-laki).

Lebih penting lagi, perubahan-perubahan ini tampaknya telah dibuat dengan tujuan memperkuat tujuan pendidikan madrasah. Dengan kata lain, pendiri dan administrator Jamiªat al-Niswan menetapkan kurikulum, sehingga cita-cita pendidikan mereka yang mendasar menentukan apa yang akan menjadi fokus studi bagi para gadis. Akibatnya, pada saat mereka lulus mereka hanya dapat secara sah mengklaim mendapat informasi dalam hukum Hanafi dalam mata pelajaran yang berkaitan dengan perempuan, seperti pernikahan, perceraian, warisan, dan hak asuh anak, atau mata pelajaran yang dianggap layak untuk dipelajari dalam tempat pertama.

Secara keseluruhan, kurikulum tampak ambisius untuk kursus lima tahun. Dibandingkan dengan daftar kurikulum standar madrasah Malik menurut dars-i nizami, Malik juga menunjukkan bahwa banyak karya yang ditinggalkan (terutama yang berkaitan dengan fiqh, usul al-fiqh, logika, filsafat, ilmu matematika, astronomi, dan retorika).


E.  Peserta didik

Berdasarkan penelitian lapangan etnografis di madrasah perempuan di New Delhi, yang menampung sekitar 180 siswa berusia antara dua belas dan tujuh belas tahun. Madrasah yang selanjutnya akan saya sebut Jamiªat al-Niswan didirikan pada tahun 1996 di bawah perlindungan Nadwat al-Ulama di Lucknow dan merekrut siswa dari Delhi dan kota-kota lain serta desa-desa dari seluruh India.

Hubungan antara Jami’at al -Niswan dan Jama'at Tabligh secara resmi dimulai melalui madrasah Nadwat al-Ulama di Lucknow, ketika para pendiri madrasah anak perempuan mengadopsi kurikulumnya dengan penekanan kuat pada bahasa Arab. Selain itu, para pendiri laki-laki dari madrasah dan para anggota laki-laki dari keluarga inti aktif dalam gerakan pengkhotbah awam yang dikenal sebagai Jemaat Tabligh.

F. Kesimpulan

Ide reformis Muslim pada akhir abad ke-19 memengaruhi pendirian sekolah umum untuk perempuan Muslim. Sebelumnya pendidikan untuk perempuan khususnya dalam bidang agama menjadi urusan pribadi, tetapi akhirnya menjadi wacana publik, yang membentuk hubungan antara ranah domestik dan publik.

Hubungan antara Jami’at al -Niswan dan Jama'at Tabligh secara resmi dimulai melalui madrasah Nadwat al-Ulama di Lucknow, ketika para pendiri madrasah anak perempuan mengadopsi kurikulumnya dengan penekanan kuat pada bahasa Arab. Selain itu, para pendiri laki-laki dari madrasah dan para anggota laki-laki dari keluarga inti aktif dalam gerakan pengkhotbah awam yang dikenal sebagai Jemaat Tabligh.

Mengapa madrasah untuk anak perempuan didirikan pada awal 1950-an. Pertama, para pelindung pendidikan sebelumnya telah pergi; dan kedua, minoritas Muslim di India harus menemukan cara-cara baru untuk melestarikan warisan Islam mereka dan di sini wanita memainkan peran penting.

-------
Untuk mata kuliah disusun untuk tugas mata kuliah Kajian Teks Arab dan Inggris

Friday, November 1, 2019

Kisah Hibah Setengah Milyar
Di sela istirahat siang, mencoba membuka kembali percakapan di Whatsapp. Ini kisah lain dari beberapa pewakaf yang menakjubkan. Sulit dinalar. Setelah saya ceritakan ada seorang yang membawa puluhan gram emas warisan dari mertua dengan total nilai lebih dari empat puluh juta, seorang yang dengan ringan menyerahkan dua puluh juta hingga hamba Allah yang mewakafkan satu rumah berikut isinya.



Pekan kemarin, sebuah pesan WA masuk mengabarkan niat seorang muslim menyumbang pesantren wirausaha yang sedang kami rintis. Bentuknya bukan berupa uang melainkan dua bidang tanah, ditaksir oleh beliau nilainya Rp 670 juta alias setengah milyar lebih 170 juta! Subhanallah. Maha Suci Allah yang menggerakan hati setiap insan.
----
Singkat cerita, kami berembug untuk 'menguangkan' dua bidang tanah tersebut. Jumlah sekian tentu bukan sedikit menurut ukuran kami, butuh waktu untuk mencari pembeli. Maka energi syirkah kami terapkan, patungan membeli tanah tersebut dan hasilnya diserahkan untuk pembangunan pesantren.
Dengan energi Syirkah, ternyata tidak butuh waktu lama. Bahkan mampu mengundang muslim lainnya untuk bersama dalam bersyirkah. Mereka dengan senang bergabung ke dalam Lembaga Pengembangan Wakaf dan Property yang kami rintis.
----
Lantas, apakah tanah tersebut akan kami manfaatkan sendiri? Tentu tidak, menurut rencana akan dibuat talud dan dipecah menjadi beberapa kavling. Sebelum dipasarkan kepada pembeli. Taksiran awal, setidaknya bisa laku di atas Rp700 juta!
Demikianlah, perpaduan antara kedermawanan dan syirkah. Membuat sesuatu yang sebelumnya mustahil dan sulit, bisa diselesaikan dengan cepat.
Sekali lagi saya percaya, banyak muslim yang kaya lagi dermawan. Saya juga percaya, menjadi pengusaha itu banyak manfaatnya.
Harta sesungguhnya adalah apa yang dimakan hingga habis, digunakan hingga usang dan disedekahkan. “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim)"

Barat || 25 Oktober 2019
Kemakmuran yang Mewujud dalam Dua Tahun Lima Bulan

Itu adalah waktu Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah. Jangka masa yang sama dengan kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shidiq. Imam As-Suyuthi menulis, Umar bin Abdul Aziz dibaiat pada Bulan Shafar tahun 99 Hijriyah. Menggantikan Sulaiman bin Abdul Aziz, sesuai wasiat yang tertulis sebelum Sulaiman wafat.


"Demi Allah, sesungguhnya saya tidak pernah sekalipun memohon perkara ini kepada Allah." Kata yang terucap sebagai cermin kekagetan. Meskipun beberapa orang pernah mengatakan kepada Umar tentang kejadian yang mereka lihat dalam mimpi maupun perkataan dalam riawayat terdahulu. Bahwa Umar akan menjadi seorang pemimpin yang memerintah dengan adil dan membawa kemakmuran bagi rakyatnya.

Seusai dilantik, kendaraan khusus untuk khalifah telah disiapkan berikut para petugas yang mengawalnya. Umar lantas berucap, "Bawalah kendaraan itu ke pasar, juallah dan simpan uangnya ke Baitul Mal. Saya cukup dengan kendaraanku saja."

Umar mengumpulkan keluarganya dari Bani Marwan, dan menjelaskan semasa Rasulullah SAW. terdapat sebidang tanah Fadak yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan Bani Hasyim dan membantu menikahkan perempuan-perempuan di kalangan mereka. Saat Fatimah, putri Rasulullah bermaksud meminta sebagian hasil dari tanah Fadak Rasulullah menolaknya. Demikian pula dilakukan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Maka Umar bin Abdul Aziz mengungkapkan kepada keluarganya, agar tidak mengambil bagian dari hasil tanah itu.

Umar bin Abdul Aziz berusaha membersihkan keluarganya dari mengambil harta yang bukan menjadi hak mereka. Kepada istrinya, Umar bin Abdul Aziz memberikan pilihan: kembalikan perhiasan (mutiara) ke Baitul Mal atau izinkan untuk meninggalkan dirinya untuk selamanya. Fathimah binti Abdul Malik pun memilih menyerahkan perhiasannya ke Baitul Mal.

Lantas apa kunci kesuksesan Umar bin Abdul Aziz yang dalam tempo singkat, sekitar 2,5 tahun mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya?

Tampaknya keadilan dan kesederhanaan menjadi kunci dari keberhasilan itu. Sebagai seorang pemimpin Umar bin Abdul Aziz berusaha untuk berlaku adil kepada siapapun, termasuk kepada keluarganya. Ia kembalikan harta benda yang sebelumnya diperoleh secara zalim. Dengan keadilan itu, membawa kemanfaatan bagi semua.

Malik bin Dinar menceritakan tentang penggembala yang tidak mengenal Umar bin Abdul Aziz namun merasa heran karena domba-domba mereka tidak dimakan Serigala. "Siapa orang saleh yang kini menjadi khalifah? Keadilannya telah mencegah serigala-serigala memakan domba-domba kami."

Kepada rakyat yang mengadukan kerusakan wilayahnya, Umar bin Abdul Aziz memberikan jawaban surat. "Jagalah kota dengan berlaku adil dan bersihkan jalan-jalan dari kezaliman. Karena itulah sebenar-benar perbaikan."

Selain itu, secara khusus, Umar bin Abdul Aziz meminta kepada Salim bin Abdullah untuk menuliskan riwayat hidup Umar bin Khattab dalam masalah sedekah, zakat dan infak. Nampaknya, Umar bin Abdul Aziz ingin mengetahui secara detail pelaksanaan sedekah, zakat dan infak pada masa Khalifah Umar bin Khattab memimpin.

Demikianlah, Umar bin Abdul Aziz yang dalam waktu relatif singkat dapat menghadirkan kemakmuran bagi rakyatnya. Membawa bangsa arab dan wilayah gurun sahara yang tandus dalam kecukupan. Terbaca dari berbagai kisah bagaimana pada masa itu harus mencari orang yang berhak untuk menerima zakat dan sedekah dari Baitul Mal.

"Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi dia tidak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai " (HR. Muslim).

Barat || 1 November 2019

Referensi :
Imam As-Suyuthi; Tarikh Khulafa’ Sejarah Para Penguasa Islam; Terj. Samson Rahman; Jakarta; Pustaka Al Kautsar; Cet 8 April 2011

Wednesday, October 23, 2019

Setengah Kuliah
Ada siasat yang biasa saya gunakan sewaktu kuliah. Dari lima atau enam hari efektif, dua atau tiga di antaranya saya manfaatkan untuk jualan. Menjadi sales kerupuk keliling. Ini adalah konsekuensi dari sebuah pilihan. Opsi menjadi 'alumni banyubiru' saya tepikan. Padahal jalan ke sana terbuka lebar, dari empat serangkai yang bersama-sama maju hanya saya yang akhirnya mandeg. Sebetulnya, beragam usaha bisa ditempuh untuk mewujudkan keinginan ibu-bapak.


Masih terngiang, sewaktu pertama pengecekan fisik dan nilai akademik. Petugas langsung nyeletuk "Nah ini calon bintara" Lalu memberikan serentetan pertanyaan, sampai akhirnya tahu seorang di antara punggawa Panitia Seleksi merupakan tetangga.
--------
Beberapa tawaran datang, namun tidak kami terima.
--------
Pilihan jatuh untuk melanjutkan pendidikan, ibu-bapak mewanti, jika ingin kuliah silakan cari biaya, ibu-bapak tidak kuasa. Sebuah restu yang saya sambut dengan gembira. Setahun, saya gunakan untuk menempa diri. Menjadi buruh pabrik di Bekasi, kemudian menjadi buruh Pabrik di selatan Merapi sambil mengikuti serangkaian seleksi masuk perguruan tinggi.
--------
UGM menjadi lokasi pertama untuk ikut ujian. Hanya saja ketika melihat antrian orang mendaftarkan diri, saya tidak cukup bersabar. Saya abaikan dan memilih pulang. Ketika waktu pendaftaran terakhir, berangkat pagi berharap tidak mengantri. Karena terlalu pagi, Oom saya mengajak untuk melihat perguruan tinggi keagamaan.
Sepi karena hari masih pagi. Alhamdulillah beberapa mahasiswa senior cukup responsif karena langsung menghampiri dan menjelaskan banyak hal. Pikiran lantas berubah, 'Kuliah bisa di mana saja, yang penting bisa belajar mencari ilmu' Jadilah, selama enam tahun menjadi mahasiswa perguruan berjas almamater hijau daun, yang sampai lulus saya tidak pernah membelinya dan memilikinya.
--------
Sesuai restu ibu-bapak, sebelum kuliah efektif saya harus punya penghasilan. Peluang datang, menjadi sales kerupuk keliling. Tetangga ada yang usaha pengemasan makanan kerupuk singkong. Maka dalam sepekan saya atur jadwal, pada hari-hari tertentu saya bolong kuliah, dengan bergiliran mata kuliah, sehingga bisa jualan dengan tingkat kehadiran (ketidakhadiran) wajar.
Dua tahun berjalan, alhamdulillah dari hasil jualan bisa membantu biaya kuliah dan harian. Sebelum akhirnya beralih ke usaha lain, jualan buku, sambil sesekali menulis di media massa dan berkongsi dengan teman membuka counter HP.
Larut dalam dunia jualan, hingga kuliah genap enam tahun. Untuk mengurangi waktu efektif, tidak pernah mengulangi mata kuliah, kecuali satu mata kuliah yang sebetulnya untuk semester atas yang akhirnya saya batalkan. Tidak mengulang mata kuliah bukan karena nilai baik, melainkan untuk meminimalkan waktu dan biaya yang terbuang percuma.
Ketika akan mencetak nilai transkrip, petugas bertanya. "Mas ini ada nilai D, tidak diulang?" "Tidak, silakan dicetak saja." Jadilah lembaran transkrip saya termasuk yang nyata-nyata mengakui keberagaman karena dari A, B, C, D ada semua.
Maka bisa disebut, selama enam tahun saya menjalani setengah kuliah di kampus. Setengahnya lagi kuliah di lapangan. Jualan!
Dalam sebuah kesempatan, Soichiro Honda, pendiri Honda mengungkapkan. "Orang-orang hanya Melihat 1% kesuksesan saya. Mereka tidak melihat 99% kegagalan saya."
Barat || 19 Oktober 2019

Thursday, October 17, 2019

Bambu, Banjir dan Biosphere
Dua hari kemarin berturut-turut berbagi cerita dengan kawan. Pertama dengan seorang kawan dari PDM Kota Yogyakarta, ketika belajar input data di aplikasi bedukmutu.com. Saya bercerita tentang startup yang telah terbukti membantu ribuan petani dari berbagai daerah, namanya IGrow (bisa dicek di igrow.asia)
Hari berikutnya, berbekal rasa penasaran, perjalanan saya arahkan ke selatan, beberapa km dari pantai selatan. Tepatnya di Bambanglipuro. Meski sempat muter-muter, rasanya saya hafal daerah itu. Akhirnya ketemu juga peternak inovatif, Madu Klanceng Jogja - MKJ yang rupanya hanya beberapa meter dari rumah 'Profesor' Pisang, Pak Lasiyo. Di sana selain melihat langsung peternakan Klanceng, sekaligus bercerita tentang IGrow.


-------
Kini, komisaris utama IGrow yang juga perintis puluhan startup unik meluncurkan startup baru yang memungkinkan orang dari berbagai daerah ikut membantu mengatasi banjir di Jakarta.
Seperti yang selalu terdengar setiap musim hujan, Jakarta menjadi daerah yang langganan terkena banjir. Letak Jakarta yang merupakan dataran rendah, menjadi wilayah yang terkena aliran air dari berbagai hulu sungai di Jawa Barat. Sehingga penanganan banjir Jakarta tidak bisa hanya dilakukan dengan pembuatan kanal-kanal, melainkan perlu solusi menyeluruh termasuk dengan memperbaiki daerah aliran sungai di Jawa Barat. Dan kita bisa berpartisipasi.
------
Caranya? Dengan menanam ribuan bambu. Bambu ini dikenal sebagai tanaman yang mampu mencegah erosi tanah, menahan air hujan sehingga bisa terserap tanah, serta cepat dalam perkembangbiakan.
Startup Biosphere, akan melakukan penanam untuk Anda. Menurut rencana untuk tahap awal akan ditanam 5000 Bambu. Satu unit bambu membutuhkan biaya Rp110ribu. Apabila bambu yang ditanam berhasil tumbuh baik, maka pemodal akan mendapatkan insentif.
Guna memastikan bambu tertanam dengan baik dan terawat, surveyor dan verifikator akan memeriksanya setiap enam bulan sekali. Sampai tiga kali pemeriksaan.
------
Yang pasti, kita bisa niatkan sebagai bagian kebersamaan dalam memelihara kelestarian alam dan mencoba berbuat nyata untuk menanggulangi banjir di Jakarta.
"Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya." (HR. Muslim)
sumber foto : biosphere.id