Saturday, January 19, 2019

Catatan dari Barat : Memperdebatkan Debat

Saya tergelitik menuliskan catatan ini. Teringat sekitar satu pekan lalu ketika bersama kawan berembug soal pembentukan Bumdes alias Badan Usaha Milik Desa. Selama dua hari satu malam mengasingkan diri dari keramaian, menetap di seputaran Bligo, hulunya Selokan Mataram.

Bentuk Penyajian di Hotel Kawasan BSD:
Efisien dan Ramah Lingkungan

Di sela obrolan di ruang makan, bakda rapat pleno pertama, seorang datang dan tetiba membincang soal perusakan bendera partai yang terpasang di pinggir jalan. Satu kawan di samping saya adalah anggota panwas, kemudian menjelaskan. Pertama bendera partai bukan alat peraga kampanye (APK), kedua pemasangan bendera yang di pepohonan jelas menyalahi aturan.

Meski begitu perusakan bendera oleh oknum juga bukan perilaku yang patut dibenarkan, karena ada pihak yang lebih berwenang untuk menertibkan. Obrolah yang semula soal pengembangan potensi desa beralih ke soal politik. Saya hanya menyimak, karena memang tidak tahu perkara pastinya. Masih menurut kawan saya dari Panwas, kejadian demikian tidak terjadi di Kecamatan tetangga. Kemudian ketika ada kesempatan saya katakan, “Karena tidak ada pekerjaan dan hal lain yang perlu dipikirkan sehingga urusan politik pun menjadi komoditas utama untuk dilakukan.”

Debat Setelah Debat

Sesuai prediksi, usai debat Capres-Cawapres media sosial ramai dengan perbincangan seputar acara tersebut. Para pendukung masing-masing calon mencari titik lemah lawan, sekaligus titik unggul jagoan. Pembahasan dari yang dingin sambil gurauan hingga berdebatan panas berkepanjangan.

Padahal, seperti dirilis beberapa jajak pendapat. Pengaruh debat, apalagi bagi para pendukung masing-masing nyaris tak berdampak. Tentu mereka tidak akan berubah dengan pilihan masing-masing. Sehingga debat tak ubahnya sebuah parodi untuk melihat siapa dan apa yang bisa menjadi bahan gorengan, serta apa dan siapa yang siap diorbitkan. Di sini peran media akan terasa.

Sehingga saya kadang senyum-senyum saja mendengar, membaca dan melihat orang memperdebatkan debat. Sebuah hal yang menurut saya ‘kurang gawean’ alias kurang kerjaan. Akan lebih efektif, jika orientasinya mendulang suara, kalau mereka turun langsung ke masyarakat untuk memilih jagoannya. Mengumpulkan emak-emak se-RT atau jamaah pengajian se-kampung, kemudian dijelaskan tentang calon presidennya.

Cukup menarik pula menyimak perbedaan pendapat tentang debat. Ada sebagian yang mengatakan debat dilarang dalam agama. Meskipun sebagian yang mengatakan demikian juga ikut menyaksikan debat. Ups. Tentang boleh tidaknyanya debat, banyak dalil dan fatwa ulama yang bisa dicari-cari untuk membenarkan pendapat. Tidak usah diberdebatkan.

Dalam proses komunikasi, setidaknya ada enam unsur penting: orang yang menyampaikan (komunikator), pesan, saluran informasi, orang yang menerima pesan (komunikan), efek, dan feedback. Maka efek debat Capres-Cawapres akan terasa jika satu unsur penting dalam komunikasi memainkan perannya, ialah saluran informasi.

Saluran informasi (media massa, tv, media online, media cetak) akan mengambil peran penting. Karena tidak semua penerima pesan melihat langsung debat. Mereka lebih suka menyeksamai potongan-potongan debat, atau diskusi di media sosial. Ketika media massa memainkan perannya tidak bisa lagi dibendung. Soal segmen apa yang lebih ditonjolkan, tokoh mana yang akan dipoles, dan siapa yang diorbitkan itu sudah ada di dalam kantong para pemangku media.

Berbicara media massa, idealisme boleh, tapi sulit menang melawan kebijakan redaksi. Kebijakan redaksi biasanya manut atau sendika dhawuh dengan pemilik modal. Sehingga pada titik ini bisa dikatakan, setiap media memiliki kebijakan dan hampir mustahil untuk mengatakan tidak memiliki kepentingan. Netralitas media menjadi barang langka di negeri ini.

Memperdebatkan debat, sekali lagi bagi saya adalah suatu yang lucu. Akan lebih bagus kiranya, ketimbang melakukan demikian, menyimak acara debat pilpres sebelumnya kemudian mencocokan dengan debat kali ini. Adakah perbedaan dan persamaannya?
Wah itu sudah tidak relevan! Tentu semua bisa berubah! Lihat itu janji dan realisasnya sama atau tidak! Semua itu karena faktor ekonomi makro!

Yeah, debat lagi deh…

Selamat berdebat, jangan lupa berjabat, semoga selalu sehat dan makiin dekat. Cut!

Barat, 19|1|2019

Thursday, January 3, 2019

Ketika Google Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kemenag!

Hari ini, Kamis (3/1/2019) tampilan halaman awal Google menyajikan sebuah gambar  yang menampilkan tulisan GOOGLE dengan aneka warna. Di atas setiap huruf terdapat lilin yang menyala. Jika diklik, lilin tersebut akan bergerak. Ya, hari ini google (versi Indonesia) menyajikan ucapan selamat ulang Tahun untuk Kementerian Agama (Kemenag) atau lazim dikenal dengan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama.

Sumber ; Google


Tahun ini merupakan peringatan ke 73 dengan mengambil tema, Jaga Kebersamaan Umat. Dalam amanat tertulisnya, Menteria Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan pentingnya posisi Kemenag.

Berikut kami kutipkan sambutan Kemenag dalam peringatan HAB ke 3 Kemenag RI.
Tujuh puluh tiga tahun silam, pada 3 Januari 1946 Pemerintah membentuk Kementerian Agama sebagai bagian dari perangkat kehidupan bernegara dan berpemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia Pembentukan Kementerian Agama merupakan keputusan yang bersejarah dan memberi pengaruh besar sepanjang perjalanan bangsa dan negara Republik Indonesia hingga kini.

Berdirinya Kementerian Agama adalah untuk menjaga dan memelihara, sekaligus mengembangkan kualitas pendidikan keagamaan masyarakat kian naik peringkat. Agar tetap dan terus terjaga kerukunan hidup antarumat beragama yang kian rekat. Dan pada akhirnya agar kualitas kehidupan keagamaan segenap bangsa makin meningkat.
Tentu masyarakat berharap Kementerian Agama adalah milik semua umat dan semua golongan. Maka sudah sepantasnya Kemenag menjadi pengayom untuk seluruh lapisan masyarakat.  [e]



Monday, December 24, 2018

Cara Menyimpan File di Google Drive Agar Bisa Didownload Orang Lain

Niatnya ingin berbagi, tetapi justru membuat jengkel orang lain. Mungkin pernah di antara teman-teman mengalami demikian. Sebabnya file yang disediakan untuk dibagi kepada para pembaca blog justru tidak disetting dengan model berbagi. Ini khususnya saat menyimpan file di google drive.

Berikut cara menyetting agar file yang Anda simpan di google drive bisa diakses dan didownload orang lain.

1.    Masuk ke akun google drive Anda.
2.    Pilih file yang akan dibagikan
3.    Klik menu share (bagikan), titik tiga di kanan atas



4.    Klik share
5.    Klik lanjutan (advance)



6.    Ubah pengaturan akses
7.    Pilih Aktif (bagian tengah)
8. Klik Save/Simpan



Semoga bermanfaat

Thursday, December 13, 2018

Cara Menghapus Pesan SMS di Android Oppo


Cara Menghapus Pesan SMS di Android Oppo. Karena jarang memanfaatkan fasilitas SMS di Android, terkadang kita lupa atau tidak tahu bagaimana cara menghapus pesan SMS. Selain boros karena menggunakan pulsa, bertukar pesan sms juga dianggap tidak praktis karena terbatas hanya teks atau tulisan saja. Tidak bisa mengirim gambar atau dokumen.
Lalu bagaimana Cara Menghapus Pesan SMS di Android Oppo? Ikuti langkah berikut ini.

1.    Klik icon Pesan di HP
2.    Klik Nama Pengirim
3.    Pilih pesan yang akan dihapus dengan menekan layar agak lama sampai muncul tulisan Salin – Favorit – Lainnya




4.    Pilih Lainnya
5.    Pilih tanda centang di samping kanan pesan
6.    Jika ingin semua pesan dihapus, klik Pilih Semua di menu bagian kanan atas.



7.    Setelah pesan dipilih, klik tanda Hapus di bagian bawah layar.
8.    Jika Anda yakin akan menghapus, pilih tombol Hapus


9.    Selesai

Tuesday, December 11, 2018

Thursday, November 15, 2018

Video Pertanian Mendong di Desa Sendangsari Minggir
Tanaman Mendong, kini mulai langka. Petani enggan menanam lagi karena permintaan pasar yang kian terbatas dan harga kurang kompetitif. Demikian pula yang dirasakan para petani di Desa Sendangsari, satu di antara sentra pertanian Mendong. Para petani kini lebih memilih menanam padi data tanaman hortikultura, karena dianggap lebih memiliki nilai jual.

Merosotkanya permintaan Mendong tidak lain karena banyak industri kerajinan berbahan Mendong kalah bersaing dengan kerajinan produk pabrik. Misalnya tikar yang kini telah digantikan tikar plastik maupun karpet. Meski demikian masih ada sebagian warga Minggir yang bertahan menanam Mendong, sambil mengembangkan indsutri kreatif. Tidak hanya tikar, tetapi juga pembuatan tas, sandal, dompet dan kerajinan lainnya berbahan Mendong.

Berikut sekilas video tentang Pertanian Mendong


Sunday, August 12, 2018

Download Buku Gratis Beyond The Horizon Muhaimin Iqbal


Dalam pengantarnya, Muhaimin Iqbal menuliskan, “Seperti 16 buku sebelumnya yang saya tulis sedikit demi sedikit, buku ke 17 ini juga demikian. Saya kumpulkan dari tulisan saya di www.geraidinar.com selama kurang lebih 20 bulan terakhir sejak 1 Januari 2016. Tidak semua tulisan saya ambil, hanya yang sesuai tema sentral yang hendak saya usung dalam buku ini – yaitu upaya untuk men-disrupt kejumudan modern. Seolah ironi, tetapi inilah kondisi kita saat ini. Kita hidup di jaman modern tetapi juga bisa jadi sangat jumud. Ketika kita tidak bisa melihat system ekonomi lain di luar yang ribawi misalnya, maka kita telah jumud di dalam dunia riba. Ketika kita tidak bisa melihat peluang pembiayaan lain untuk pembangunan selain berhutang, maka kita telah jumud dalam jebakan hutang,”





Untuk mendownload silakan klik Beyond The Horizon

Saturday, August 4, 2018

Mimpi Kota Kopi Menjadi Pusat Literasi

Sepekan di Pontianak lebih dari cukup bagi saya menangkap ‘keganjilan’ yang jarang ditemui di Jawa. Deretan warung kopi yang mendominasi sepanjang sisi jalan. Bahkan di satu tempat, Jalan Gajah Mada, dinamai Gajah Mada Coffe Street. Tampaknya warung kopi memang menjadi andalan kota ini.

Ngopi bersama kawan-kawan di Pontianak

Di malam awal, bersama seorang kawan menyempatkan mencari warung kopi paling jos. Dengan bantuan driver Go Car, ditunjukkanlah warung kopi yang konon pernah disinggahi orang-orang penting di nusantara. Dari banyaknya pengunjung yang datang, mungkin ratusan, menandakan warung ini memang terkenal dan laris. Untuk menikmati satu cangkis kopi saya mesti rela menunggu hampir setengah jam. Langsung bayar, dengan kisaran harga Rp 11 ribu per cangkir.

Ada rasa heran, bukan karena harga, melainkan betapa betahnya para pengunjung duduk berjam-jam ditemani satu cangkir kopi. Sebagian mengobrol, merokok. Sebagian banyak lainnya asyik bermain gadget. Saling membisu meski satu meja dengan kawan.

Kota Kopi Tanpa Kebun
Di hari selanjutnya saya diajak jagongan bersama kawan-kawan. Banyak berasal dari Jawa tetapi lama tinggal di Kalimantan Barat. Ada yang dari Ponorogo, Banyuwangi, Kebumen, dan Gunungkidul. Bercakap akrab, seperti saudara yang lama tidak berjumpa. Di tengah obrolah, seorang kawan menerangkan. Minum kopi (ngopi) telah menjadi kebiasaan banyak warga.

Rumusnya cukup unik. Bagi para pegawai kantoran, umumnya jam masuk kerja telah berada di kantor untuk melakukan presensi pagi. Setelah itu mereka mencari warung kopi untuk jagongan. Lama dan tidaknya tergantung situasi. Apa yang saya lihat seperti menggenapi kebenaran cerita itu. Selama ngopi saya melihat beberapa rombongan pegawai/karyawan dengan seragam mampir mencari makan atau ngopi. Sedang bagi para wirausahawan waktunya lebih fleskibel. Di Pontianak kita bisa menemukan warung kopi yang buka sebelum subuh.

Dari cerita seorang kawan, kopi-kopi itu ternyata tidak dihasilkan dari kebun kopi di sekitar Pontianak. Bahkan kota ini lebih di kenal dengan penghasil tanaman lidah buaya. Katanya, kopi-kopi didatangkan dari Sumatra dan Jawa.

Kopi Inspirasi
Jika membaca sejarah para ilmuwan zaman dulu, kita akan menemukan banyak dari mereka pun menyukai kopi. Bedanya, kopi-kopi itu menjadi teman dalam pembelajaran. Membaca atau menulis buku (kitab). Dalam laman sehatbersamaislam.blogspot.com disebutkan, kopi konon merupakan salah satu minuman yang digemari para ‘ulama, selain susu dan madu. Memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan. Jika dikonsumsi secara teratur dan tidak berlebihan, kopi bisa menjaga kesehatan. Bahkan sebagian ‘ulama zaman dulu juga mengkonsumsi kopi untuk menambah kebugaran mereka saat belajar dan beribadah.

Dalam sebuah syair dilantunkan, “Kopi memang hitam tapi menyalakan semangat, bahkan memancarkan cahaya. Hitamnya kopi membuat hati orang-orang kelas tinggi memutih, sehingga mereka terpuji, melebihi kebanyakan manusia.”

Umat Islam ternyata juga  menjadi bagian dari ditemukannya kopi sebagai minuman yang banyak digemari orang.  Dalam sebuah manuskrip disebutkan, pada abad ke 15 kopi mulai dibawa oleh orang Yaman dari Ethiopia. Di Ethiopia sendiri kopi sudah dikenal sejak 800 sebelum masehi. Mereka mengkonsumsi kopi yang dicampur dengan anggur dan lemak hewan sebagai sumber protein dan energi. Sedangkan ilmuwan muslim Ar Razi dan Ibnu Sina mengungkapkan kopi telah dikenal di kalangan muslim sejak awal abad ke 10.

Kopi sendiri berasal dari bahasa Arab yakni qahwah yang berarti kekuatan, sebab memang kopi diyakini sebagai sumber energi. Kata qahwah berganti menjadi kahveh (Turki) dan koffie (Belanda). Ini yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kopi.

Saya kemudian membayangkan, jika para penikmat kopi di sini menyeruput kopi sambal mengakrabi buku atau menuliskan ide-ide inspiratif mereka dalam lembaran kertas. Saya percaya, puluhan judul buku akan lahir di setiap harinya. Dan kota ini layak dipuji sebagai kota literasi.

Pontianak, 4 Agustus 2018


Sunday, April 8, 2018

Seberapa Hebat Bank Muamalat?


Beberapa hari lalu sepulang dari urusan kantor di Magelang, saya mewujudkan keinginan untuk memiliki rekening di Bank Muamalat. Sudah lama sebetulnya saya tertarik dengan Muamalat. Selain sebagai Bank Syariah pertama di Indonesia, selain itu sosok Riawan Amin yang pernah menahkodai Muamalat menjadi salah satu penulisa favorit saya. Buku-bukunya kaya akan gagasan yang telah ia terapkan di Muamalat.



Dulu jangkauan Muamalat dengan produk Shar-e nya sampai ke tingkat Kecamatan. Mereka bekerjasama dengan PT. Pos Indonesia. Tetapi sebagai orang awam, biaya administrasi waktu itu saya rasa cukup tinggi. Sekitar Rp 7 ribu per bulan, ketika bank konvensional masih di kisaran Rp 3 ribu per bulan. Mahal. Sekarang tampaknya, Muamalat tidak lagi bekerjasa sama dengan PT. Pos Indonesia. Bagi saya yang awam dalam hal agama, pertimbangannya lebih berat ke ekonomis. Tentang status syariah atau konvensional, itu urutan kesekian. Pada sisi ini, dulu Muamalat tampak belum bisa bersaing.

Tahun 2017, di lembar Syariah Koran Republika santer kabar tentan Muamalat yang siap berpindah tangan ke pemilik baru. Sebuah kabar yang tentu membuat saya kaget. Bank dengan sistem Syariah pertama di Indonesia, negeri dengan penduduk Muslim terbesar di Dunia, harus terengah dalam mempertahankan hidup. Miris.

Tetapi saya baru benar-benar ngeh, saat acara Blak-blakan Detik.com menghadirkan wawancara dengan Ustadz Yusuf Mansur. Saat itu presenter memancing pendangan dan kesiapan Ustadz Yusuf Mansur untuk mengambil alih Muamalat. Barulah saya paham, Muamalat sedang dalam masalah.
Akhir 2017, koran Republika memotret alur perkembangan kabar Muamalat. Setelah penawar sebelumnya gagal mengambil Muamalat, kini Muamalat terbuka bagi siapa saja yang ingin membeli saham Muamalat. Satu di antara yang santer diberitakan siap adalah ustadz sekaligus pengusaha, Yusuf Mansur! Dana yang dibutuhkan dan harus disiapkan Ustadz Yusuf Mansur tidak tanggung-tanggung, Rp 5 triliun!

Untuk dana sebanyak itu, kepada wartawan Ustadz Yusuf menunjukkan jawaban optimis. Tampaknya Sang Ustadz memang sudah bersiap, karena beberapa waktu lalu ia merambah Bursa Efek Indonesia melalui reksadana syariah di bawah bendera PayTren Aset Manajemen (PAM). Sejak duluncurkan, PAM mampu menarik minat banyak investor.





Tidak hanya sampai di situ, Yusuf Mansur juga menggerakkan para mitra PayTren di seluruh Indonesia untuk membuka tabungan di Muamalat. Gerakan itu disambut secara massif di pusatkan di Jakarta dan berjalan di seluruh Indonesia. Pengguna PayTren saat ini sekitar 2 juta orang. Misalkan separuhnya saja membuka tabungan dengan nominal Rp 100 rb. Setidaknya terkumpul Rp 100 Milyar. Sebuah angka fantastis. Inilah sebuah kekuatan loyalitas yang digunakan untuk kepentingan Islam.

Paket Murah di Bank Muamalat

Ke kantor Muamalat di Jalan Godean, kepada pegawai saya katakana ingin membuka rekening. Dan saya sampaikan agar dipilihkan jenis tabungan dengan biaya administrasi termurah. Dan saya pilih tabungan tanpa bagi hasil. Setoran pertama cukup Rp 25 ribu. Biaya administrasi per bulan Rp 2.500. Adanya pilihan tabungan ini memungkinkan kita untuk beralih ke perbankan syariah. Hanya saja memang perlu dipahami, gerai Muamalat sangat terbatas, begitupun fasilitas ATM Muamalat yang hanya tersedia di beberapa tempat.

Di luar gerakan anti Bank, tentu ada harapan ke depan Muamalat, sebagai bank syariah pertama di negeri mayoritas muslim bisa terus berkembang. Jika bukan kita yang mendukung, akan siapa lagi?

Monday, March 19, 2018

Mengapa Bisnis MLM Banyak yang Gagal?


Pernah membaca ajakan yang kira-kira bunyinya begini: Cukup bayar 50 ribu keuntungan seumur hidup dan bisa diwariskan! Atau dengan kata-kata lain, Join Yuk, ibu rumah tangga pun bisa sukses!

Tawaran yang menarik tentu. Bisnis dengan modal kecil, potensi untung besar, seumur hidup dan bisa diwariskan. Benarkah? Sayangnya, hanya sekian persen yang benar-benar merasakannya. Sebagian besar lainnya, memendam luka dalam-dalam J

Saya sendiri sudah ikut banyak MLM alias multi level marketing, lebih dari lima MLM pernah jadi anggota. Mulai dari suplemen kesehatan, pulsa, dan produk lainnya. Salut dengan semangat para MLMers dalam mempromosikan bisnis mereka. Terkadang, baru saja ketemu sekali sudah cerita aneka bonus yang menggiurkan, mobil mewah, kapal pesiar, apartemen, sampai jet pribadi. Wow!



Saat itu saya seperti anak kecil yang sedang dijanjikan es krim. Bedanya, saya sadar sedang diceritakan tentang mimpi. Persis seperti saat acara sekelas Kick Andy bertahun silam mau mengundang petinggi sebuah MLM yang masih muda, dan gagah. Menceritakan tentang bisnisnya dan hadiri di studio bertepuk tangan. Mengabaikan puluhan ribu anggota MLM yang entah bagaimana nasibnya. Tak heran jika banyak ustadz dan banyak fatwa yang mengharamkan MLM. Meskipun ada juga yang membolehkannya dengan syarat tertentu.

Mengapa Bisnis MLM Banyak yang Gagal?

1.    Banyak MLM yang beredar menawarkan bonus berlimpah, tetapi bonus itu didapat dari uang pendaftaran member yang bergabung belakangan. Jenis ini seperti permainan uang (money game). Jenis ini tentu akan menguntungkan mereka yang lebih dahulu mendaftar, dan biasanya biaya pendaftarannya terbilang mahal.
2.    Para MLMers kebanyakan semata mengejar bonus. Rekrut member sebanyak-banyaknya, tanpa memberikan edukasi kepada member keuntungan dan fasilitas apa yang mereka dapatkan. Jadilah, setelah bergabung downline dibiarkan saja. Akhirnya mereka pasif, dan efeknya menjadi apatis terhadap MLM.
3.    MLM tanpa belanja dan menggunakan produk? Aneh jika tanpa keduanya MLMers tetap mendapatkan bonus. Lalu dari mana bonus itu? Kalau ada MLM yang mensyaratkan member untuk belanja atau menggunakan jasa dari MLM yang mereka ikuti, saya pikir itu lebih logis, artinya bonus diperoleh dari keuntungan perusahaan. Sayangnya, kebanyakan leader justru mengabaikan ini. Bagi mereka mencari member sebanyak-banyaknya adalah kunci sukses.
4.    Efek dari ‘pebisnis’ MLM yang serampangan dalam mencari member dan memberi janji-janji manis, kini MLM dipandang sini di masyarakat. Meskipun mungkin sebetulnya ada MLM yang menawarkan sistem yang tidak merugikan membernya.
5.    Kegagalan MLMers mencapai sukses juga bisa jadi karena semata mengejar bonus prestasi tanpa pernah tahu, apa keuntungan dia bergabung di perusahaan MLM.

Apakah MLM ada sisi baiknya? Kalau saya ditanya begitu, saya katakan sisi baik MLM adalah setiap orang bisa menjadi pedagang. Karena pada dasarnya MLM adalah bentuk perdagangan secara langsung. Di Indonesia MLM masuk dalam Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI), sehingga MLM yang terdaftar bisa dicek di APLI.OR.ID

Menjadi aneh jika ber-MLM tetapi tidak menjual produk atau jasa. Lalu apa yang di marketing kan? Selanjutnya juga terkait barang yang diperdagangkan dan harga yang ada. Jika barang yang diperdagangkan tidak terjamin halal dan tidaknya, aman dan tidaknya, maka saya pikir itu tidak layak. Selanjutnya, harga barang atau produk yang ditawarkan apakah wajar atau tidak.

Di tengah fatwa boleh dan tidaknya MLM oleh fatwa ulama. Penjualan langsung bisa menjadi solusi di tengah kuatnya cengkeraman distributor bermodal tebal. Serta kuatnya jaringan monopoli produk kebutuhan harian. MLM bisa mejadi salah satu alternatif, bila dijalankan dengan dengan dengan benar. [e]