Thursday, October 17, 2019

Bambu, Banjir dan Biosphere
Dua hari kemarin berturut-turut berbagi cerita dengan kawan. Pertama dengan seorang kawan dari PDM Kota Yogyakarta, ketika belajar input data di aplikasi bedukmutu.com. Saya bercerita tentang startup yang telah terbukti membantu ribuan petani dari berbagai daerah, namanya IGrow (bisa dicek di igrow.asia)
Hari berikutnya, berbekal rasa penasaran, perjalanan saya arahkan ke selatan, beberapa km dari pantai selatan. Tepatnya di Bambanglipuro. Meski sempat muter-muter, rasanya saya hafal daerah itu. Akhirnya ketemu juga peternak inovatif, Madu Klanceng Jogja - MKJ yang rupanya hanya beberapa meter dari rumah 'Profesor' Pisang, Pak Lasiyo. Di sana selain melihat langsung peternakan Klanceng, sekaligus bercerita tentang IGrow.


-------
Kini, komisaris utama IGrow yang juga perintis puluhan startup unik meluncurkan startup baru yang memungkinkan orang dari berbagai daerah ikut membantu mengatasi banjir di Jakarta.
Seperti yang selalu terdengar setiap musim hujan, Jakarta menjadi daerah yang langganan terkena banjir. Letak Jakarta yang merupakan dataran rendah, menjadi wilayah yang terkena aliran air dari berbagai hulu sungai di Jawa Barat. Sehingga penanganan banjir Jakarta tidak bisa hanya dilakukan dengan pembuatan kanal-kanal, melainkan perlu solusi menyeluruh termasuk dengan memperbaiki daerah aliran sungai di Jawa Barat. Dan kita bisa berpartisipasi.
------
Caranya? Dengan menanam ribuan bambu. Bambu ini dikenal sebagai tanaman yang mampu mencegah erosi tanah, menahan air hujan sehingga bisa terserap tanah, serta cepat dalam perkembangbiakan.
Startup Biosphere, akan melakukan penanam untuk Anda. Menurut rencana untuk tahap awal akan ditanam 5000 Bambu. Satu unit bambu membutuhkan biaya Rp110ribu. Apabila bambu yang ditanam berhasil tumbuh baik, maka pemodal akan mendapatkan insentif.
Guna memastikan bambu tertanam dengan baik dan terawat, surveyor dan verifikator akan memeriksanya setiap enam bulan sekali. Sampai tiga kali pemeriksaan.
------
Yang pasti, kita bisa niatkan sebagai bagian kebersamaan dalam memelihara kelestarian alam dan mencoba berbuat nyata untuk menanggulangi banjir di Jakarta.
"Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya." (HR. Muslim)
sumber foto : biosphere.id

Tuesday, October 15, 2019

Cara Mengirim Resensi Buku ke Koran Jakarta

Koran Jakarta membuka peluang kepada para penulis baru untuk menyumbangkan tulisan berupa resensi buku. Koran ini memberi kesempatan tayang lebih untuk rubrik resensi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar sesuai ketentuan yang ditetapkan Koran Jakarta.



Pertama, Koran Jakarta lebih meminati pada buku non fiksi. (Buku Pengetahuan, Biografi, dll.)

Kedua, pilih buku terbaru atau terbit di tahun ini, setidaknya enam bulan terakhir.

Ketiga, setting kertas A4, font Times New Roman, ukuran 12 pt, panjang karakter dengan spasi 4000.

Keempat, lengkapi biodata di bagian bawah naskah, nama lengkap, nomor telepon, pekerjaan, foto atau scan KTP (Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa). Sertakan pula foto diri dan nomor rekening.

Kelima, kirimkan naskah melalui email ke opinikoranjakarta@gmail.com di bagian subjek silakan tulis: (Perada - Judul Buku) dan di bagian badan teks silakan isi pengantar.

Keenam, silakan cek secara rutin Koran Jakarta, apabila dalam rentang waktu 2-4 pekan tidak tayang. Silakan bisa dikirim ke media lain.

Tips Melakukan Resensi Buku

Pertama, baca seluruh isi buku secara komperehensif. Tandai bagian yang dianggap penting.

Kedua, baca resensi Koran Jakarta, agar bisa memahami gaya penyajian yang diminati oleh redaksi Koran Jakarta.

Ketiga,  membuat resensi dengan baik dan tidak terlalu bertele-tele, sertakan dengan penggunaan kutipan dari tulisan halaman di buku.

Keempat, tujuan meresensi ialah untuk mempromosikan buku tersebut agar diminati banyak orang, bukan menceritakan keseluruhan isi yang dibaca.

Kelima, periksa kembali, untuk membuat bacaan lancar dan minim typo.

Selamat mencoba. [e]

Thursday, October 10, 2019

Umat Islam Bangkit, Darimana Harus Memulai?
Saya masih ingat betul pesan Pak Herry Zudianto dalam sebuah acara di Kaliurang bulan lalu. "Dengan ekonomi yang kuat, kita bisa mengatur semuanya."



Dan hari ini mantra ajaib itu nyata, dengan kekuatan ekonomi dan uang semua bisa diatur, dari urusan yang remeh-temeh hingga yang menyangkut urusan negara. Orang-orang baik akan terlindas, karena sistem yang sudah dirancang.

Bahkan akidah pun bisa digerogoti dengan gelontoran dana. Tidak heran jika kemudian gemar berseteru dengan kawan seiman.

Seorang kawan pernah nyelethuk, kalau tidak ingin manipulatif jangan jadi PNS! Ketika saya menolak membuat nota yang berbreda dengan nilai aslinya. Sebuah pernyataan yang menyiratkan betapa kronisnya negeri ini.

Kemudian, saat umat Islam yang memiliki potensi luar biasa ternyata semacam tak berdaya. Dari mana harus memulai kebangkitannya?

Mengkreasikan konsep BDS, Boikot, Divestasi dan Sanksi mungkin bisa menjadi solusi. Konsep ini diperkenankan dalam Islam.

"Konsep ini disahkan dan digunakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Ajaran Islam yang menyeluruh mengajarkan bahwa semua individu yang penuh kesadaran dan ketaatan dianjurkan untuk tidak membantu penindas, menadah barang curian, dan memperlama ketidakadilan." (Hidayatullah.Com)

Ketika ada penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan suatu komunitas, maka boleh melemahkan mereka dengan cara BDS.

Dari segi ekonomi BDS bisa dilakukan dengan meniru gerakan Mahatma Gandhi, dengan 'Swadesi' mencukupi kebutuhannya sendiri. Memilih produk buatan dalam negeri, buatan muslim, buatan tetangga.

Jika tidak mampu, kurangi ketergantungan dengan produk penindas, hidup minimalis.
Membangun basis-basis ekonomi secara komunitas juga bisa menjadi solusi. Dari masjid-masjid, mushalla-mushalla, madrasah-madrasah, majelis taklim, TPA dan sebagainya. Isi dengan produk buatan muslim, lokal.

Gerakan ekonomi lebih ditakuti ketimbang demonstrasi. Natsir pernah mewanti-wanti. Natsir berucap, “Islam beribadah, akan dibiarkan, Islam berekonomi, akan diawasi, Islam berpolitik, akan dicabut seakar-akarnya."

Barat || 6 Oktober 2019

Monday, October 7, 2019

Cara Mengubah Background Foto Secara Online dengan Mudah Tahun 2019

Cara mengubah background foto secara online dengan mudah. Bagi Anda yang ingin mengganti warna background foto tanpa menggunakan software terinstall laptop. Sekarang ada aplikasi yang mudah digunakan, remove.bg.

Langkah-langkah yang bisa dilakukan sebagai berikut:

Pertama, buka website removebg

Kedua, upload foto yang akan diubah melalui menu upload.


Ketiga, lihat hasil foto yang sudah tidak ada background-nya, silakan Download (untuk mendapatkan foto tanpa background-nya)

Keempat, jika ingin mengganti background, klik EDIT

Kelima, pilih background yang diinginkan, jika ingin warna polos, silakan geser menu ke Color kemudian pilih warna.


Keenam, lihat hasilnya, jika sudah sesuai keinginan silakan Donwload.

Semoga bermanfaat.

Saturday, October 5, 2019

Pemasok Lele yang Menjadi Pengembang Property
Saya mengenalnya saat belajar di Pesantren Property. Penuturannya kalem dan mudah dicerna saat menjelaskan lika-liku dunia property. Ia tumbuh dari tempaan pengalaman hidup yang sarat.
Sempat menjalani profesi sebagai pemasok ikan lele ke warung-warung pecel lele. Katanya, sehari mampu menjual sekitar 20-30 kg lele. Misal, dengan keuntungan Rp1000/kg, maka pendapatannya maksimal Rp30.000.


Dengan kondisi ini, ia bercerita harus lebih berhemat dalam memenuhi kebutuhan harian.
.....
Namun, sebagai seorang yang memiliki impian, ia tidak berhenti begitu saja. Ia mencoba mencari peluang lain yang dianggap lebih menjanjikan. Sembari mengantar ikan lele, ia rajin menyimak iklan peluang usaha di koran yang biasa di tempel di papan pengumuman kampung. Begitu juga ia rajin membaca spanduk, baliho, poster dan semacamnya. Mencari peluang usaha yang dirasa lebih baik.
Sampai suatu ketika, ia melihat informasi tentang pengenalan wirausaha di bidang property. Inilah yang kemudian menjadi jalan baginya meniti kesuksesan di bidang property.
.....
Selepas dari Pesantren Property, saya ikut kelas khusus yang digelar di kantornya. Tidak banyak yang ikut, hanya beberapa saja. Dari sanalah kemudian saya tahu, bagaimana ia mengembangkan usaha, nyaris tanpa modal uang!
Dalam membangun rumah, ia bermodalkan gambar saja. Untuk tanah yang akan ditempati, ia mencari tanah yang akan dijual kemudian bernegosiasi dengan pemilik. "Jika boleh saya bangun rumah di atasnya lalu dijual, dan hasilnya kita bagi bersama. Ini lebih menguntungkan," sekira begitu bahasa diplomasinya.
Teriring doa, negosiasi semacam itu terus berhasil. Hingga ia berhasil membangun puluhan unit rumah di beragam tempat. Nyaris tanpa modal besar.
Dari mana uang untuk membangun? Ia menawarkan desain dan gambar rumah kepada konsumen. Jika deal, konsumen wajib membayar DP 30%, dari DP inilah kemudian untuk membangun rumah, secara bertahap hingga selesai. Bernegosiasi dengan pembeli, untuk melakukan pembayaran secara termin.
Dengan usahanya yang tekun dan amanah dalam menjaga kepercayaan. Kini beberapa unit rumah yang ia jual sudah di atas nilai 1 Milyar.
Meski terbilang sukses, ia tidak enggan membagikan ilmu yang ia dapatkan. Bahkan ia berusaha menularkan pengalamannya dengan memberi kesempatan para santri untuk magang langsung di berbagai proyeknya.
Satu semangat yang selalu diingat para santri pesantren property ialah "tolong menolong".
Barat || 3 Oktober 2019

Thursday, October 3, 2019

Sisi Jahat MLM
Menulis ini setelah melihat tangis seorang member MLM (Multi Level Marketing). Sebagai sebuah sistem penjualan, boleh jadi MLM tidak menjadi masalah selama dijalankan tanpa ada unsur penipuan dan semacamnya.

Tetapi MLM seringkali memiliki sisi jahat yang disebabkan oleh para pelaku MLM.
Pertama, menjadikan bonus besar dan kekayaan melimpah sebagai pemikat. Sehingga orang membanting tulang dan mengorbankan apapun untuk meraih mimpinya. Sayangnya hanya sebagian kecil yang menikmati sedang yang lainnya hampa.

Kedua, lebih tertari merekrut member ketimbang menjual produk. Sehingga produk seringkali hanya sebagai pemanis, tanpa mereka jual, bahkan menggunakan sendiri pun enggan.

Ketiga, label Halal dan Ustadz menjadi pemikat. Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI memberikan label halal berdasarkan sistem yang dipresentasikan kepada mereka. Sedangkan di lapangan, sistem itu seringkali tidak sejalan. begitupun dengan posisi ustadz pemikat, entah mereka tahu atau tidak tentang hal sebenarnya atas usaha yang membawa namanya untuk promosi.

Keempat, pindah-pindah MLM, pada satu titik jenuh, para pelaku MLM akan pindah ke MLM lain yang dirasa masih berpeluang berkembang. Begitu seterusnya, mengajak downlinenya untuk pindah atau meninggalkan member yang lalu begitu saja.

Kelima, Hak Usaha lebih dari satu untuk satu orang, dan bonus pasangan. Kedua hal ini seringkali membuat orang tidak lagi fokus menjual produk.

Seorang member MLM yang sudah membayar lebih dari satu juta menangis ketika saya terangkan sistem yang digunakan. Padahal ia pun sudah mengajak kawannya, yang dengan susah payah membeli produk lebih dari satu juga dan tidak ada hasilnya kecuali barang yang entah kapan akan berguna.

Barat II 2 Oktober 2019

Monday, September 23, 2019

Nasib Perih Pahlawan-pahlawan Muhammadiyah
Oleh: @ekosangpencerah

Yogyakarta identik dengan ibukota Muhammadiyah. Di sini gerakan pencerahan tersebut lahir dan tumbuh hingga tersebar ke penjuru Nusantara bahkan dunia. Dengan tiga gagasan utama Pendidikan, Kesehatan dan Kepedulian Sosial, Muhammadiyah secara nyata diterima di seluruh Indonesia. 



Bahkan di Papua dan NTT, kehadiran lembaga pendidikan Muhammadiyah baik sekolah maupun perguruan tinggi, dirasakan manfaatnya oleh masyarakat muslim dan non-muslim.

Mengelilingi Yogya, selaksa melihat suar-suar kemajuan Muhammadiyah. Di selatan, Kampus dan Islamic Center UAD begitu megah, di barat ada UMY dan UNISA berdiri dengan gagah mendidikan ribuan kader bangsa. Rumah sakit, sekolah, dan amal usaha Muhammadiyah. Bukti Muhammadiyah terus bergerak meski dalam senyap. Berkontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa tanpa harus mengaku paling Pancasila.

Tapi…
____
Suatu saat saya dapat cerita dari pemilik usaha fotokopi. Katanya, beberapa sekolah Muhammadiyah biasa harus ‘nge-bond’ alias hutang biaya fotokopi hingga ratusan ribu. Seorang Kepala SMK bercerita dana bantuan tidak lagi didapat karena jumlah murid tidak mencapai batas minimal.


Lalu, sebuah kabar datang, tentang tiga bulan gaji guru honorer tidak terbayarkan karena ketiadaan dana yang dimiliki sekolah. Jika saja, KH Ahmad Dahlan mengetahui ini, mungkin beliau akan menangis…

Para pendidik tunas bangsa, para pahlawan dari persyarikatan Muhammadiyah. Dengan kisaran gaji tidak sampai setengah juta, pun harus terhutang hingga berbulan-bulan. Dosa siapa? Ini Dosa Siapa?

Lalu, apakah akan berbangga dengan kemegahan segala amal usaha? Puas dengan segala suar gemerlap acara yang mengundang decak kagum semesta? Sementara mereka, sanga pahlawan mesti menahan perih dalam perjuangan dan terabaikan.

Ini hanya sekelumit ‘kezaliman’ terhadap para pejuang di sekolah Muhammadiyah. Belum lagi, mereka berjibaku mencari murid sekedar agar bisa mempertahankan sekolahan mereka. Kita sodorkan calon murid dari berbagai latar belakang sosial-ekonomi dengan kapasitas pendukung tak memadai.

Sementara putra-putri para kader dan warga Muhammadiyah justru sekolah di sekolah Islam Terpadu, Sekolah Negeri atau Sekolah Swasta ternama. Kemudian menuntut syarat agar sekolah Muhammadiyah maju dan berkembang, sehingga kelak layak menjadi tempat pendidikan anak-anak mereka. Sungguh jauh dari sebuah sikap ksatria.

Tapi…
Meratap saja tidak akan pernah membuat kekurangan menjadi lengkap. Menangis bisa jadi hanya akan mengundang tatapan sinis. Saatnya para pahlawan bangkit, sebab ada jaminan pasti dari Sang Pemilik Langit. “Barang siapa yang menyelamatkan orang dari kesusahan, maka Allah ta’ala akan menyelamatkannya dari kesusahan pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Beberapa langkah yang bisa ditempuh:
Pertama, sekolah tetap menerapkan infaq rutin yang dikelola oleh Komite atau paguyuban orang tua murid. Karena beberapa sekolah Muhammadiyah membebaskan sama sekali kewajiban infak, meniru sekolah negeri.

Kedua, membangun unit produktif yang bisa menjadi sumber dana. Membangun kios untuk disewakan, atau menanam tanaman perkebunan semisal kakao, pisang dan sejenisnya memanfaatkan tanah wakaf. Karena selama ini banyak tanah wakaf milik Muhammadiyah yang ditelantarkan.

Ketiga, Gerakan Koin Pendidikan (GKP) dari warga Muhammadiyah untuk mendukung pendidikan dan peningkatan kualitas sekolah Muhammadiyah.

Keempat, bekerjasama dengan amal usaha lain. Misal dengan perguruan tinggi, atau amal usaha lain.

Kelima, pengelolaan sekolah dengan sistem subsidi silang. Ini perlu dipikirkan oleh PP Muhammadiyah, agar kualitas pendidikan dan jaminan kelayakan upah guru Muhammadiyah bisa terpantau dan terjamin.

Berharap, sekolah Muhammadiyah dan para pahlawan persyarikatan bisa segera menemukan momentum kebangkitan. [esp]

Wednesday, September 11, 2019

Mengatasi Icon Gambar Desktop Hilang
Setelah menginstal windows baru, ternyata icon pada desktop komputer kadang-kadang ilang semua. Seorang teman jadi kebingungan karena tidak bisa membuka file, menu maupun mematikan komputer lewat pilihan shutdown.

Setelah cari di Youtube, akhirnya ketemu cara menampilkan kembali icon desktop yang hilang. Atau layar menjadi kosong tanpa gambar icon. Ikuti langkah berikut :

1. Tekan tombol CTRL, SHIFT dan ESC secara bersamaan.
2. Akan muncul notifikasi Task Manager di layar, pilih menu FILE
3. Pilih menu New Task
4. Dalam kolom Opens : explorer (explorer.exe)
5. Klik OK

Semoga bermanfaat.


Simak videonya :


Saturday, September 7, 2019

MLM : Multi Level Misteri
Beranda media sosial saya semakin sering terlintasi iklan MLM alias Multi Level Marketing. Dengan saya pikat masing-masing. Menawarkan keunggulang produk, keunggulan sistem, kesesuaian dengan aturan agama hingga reward aneka barang mewah yang akan didapatkan dan sebagainya.

Produk HNI
Secara pribadi, saya termasuk yang tertarik dengan sistem pemasaran langsung ala MLM. Kenapa? Karena sistem ini memungkinkan secara personal orang bisa menjadi pemasar produk tanpa harus berbelit dalam urusan rantai distribusi. Anda ambil barang dan pasarkan ke konsumen.

Saya juga terkesan dengan semangat para member MLM dalam bersemangat untuk menjalankan usahanya atau mereka sering sebut BISNIS. Sejak tahun 2000-an beragam MLM saya ikuti, sehingga cukup untuk melihat beragam geliat para member MLM dan sistem yang mereka gunakan.

Berikut MLM yang pernah saya ikuti bahkan beberapa sampai posisi 'penting'. Awal ikut pemasar langsung produk dari malaysia, produk utamanya berupa kopi. Lalu pernah ikut sebuah MLM yang memasarkan produk kesehatan dari China, tidak aktif hanya menggunakan produk saja hingga bintang dua. Selanjutnya produk hampir mirip, suplemen kesehatan Mil****, harganya mahal tapi beberapa orang terlanjur fanatik sehingga tetap beli.

Lanjut perusahaan yang dibangun anak muda, sempat masuk acara talkshaw terkenal di tivi, dan didaulat sebagai pengusaha muda sukses, jualan pulsa. Namun nyatanya lebih banyak dan dominan cari member ketimbang jualan produk. Saya coba cari info, usaha ini sekarang dah gak jalan.

Lanjut gabung perusahaan pemasar pupuk. Produknya bagus dan sudah teruji. Namun menthok karena upline tidak jalan dan pengambila barang jauh. Padahal produk-produknya sangat bermanfaat.

Lanjut ikut bisnisnya seorang ustadz terkenal. Tertarik karena ada investasi di bursa saham. Hanya saja pupus lebih cepat karena manajer investasinya saya lihat tidak berkembang dengan baik. Begitupun membernya banyak yang tidak mengunakan produk, lebih banyak ngajak member.

Menurut saya MLM sebuah metode yang bagus untuk pemberdayaan. Sayangnya metode ini lebih banyak dimanfaatkan orang pinter untuk membodohi member lainnya. Bayangkan, produk yang mereka jual jarang mereka pakai, tetapi lebih agresif mengajak member baru. Lalu dari mana perusahaan dapat pemasukan?

Bonus dan Reward Mewah Sebagai Pemikat

Mobil, rumah mewah, perjalanan ke luar negeri dan lainnya selalu menjadi daya pikat orang mengajak gabung member ke MLM (ada pula bisnis serupa MLM dan persis tapi tidak mau dinamai MLM), lebih banyak menawarkan mimpi ketimbang edukasi untuk penggunaan produk dan pejualan produk.

Meski tertarik dengan MLM, saya lebih tertarik dengan produk. Ketika produknya tidak layak digunakan dan tidak masuk akan dalam harga, maka akan saya tinggalkan. Bonus tidak menjadi satu-satunya daya tarik. Maka, ketika teman-teman yang menjadi member melalui saya banyak yang berbonus puluhan hingga ratusan juta per bulan saya tetep 'ayem' menikmati peran dengan sewajarnya.

Di HNI-HPAI, dari data yang bisa saya akses sudah puluhan member yang melalui saya beromzet ratusan juta, memiliki toko dan pusat agency. Mereka besar sesuai dengan usaha yang telah ditempuh. Ada keadilan. Meski saya berposisi sebagai upline namun karena saya hanya menggunakan produk tidak agresif dalam pemasaran, bonusnya tidak begitu banyak. Sekitar satu jutaan setiap bulan.

Di HNI-HPAI, kami memulai menggunakan produknya untuk kebutuhan harian. Demikian juga kepada rekan member, saya mengajak untuk menggunakan produknya, sehingga menjadi contoh bagi yang lain. Menggunakan alternatif produk muslim, lokal yang berkualitas dan halal.

HNI memiliki pabrik sendiri, yang berkembang dari skala home industri menjadi pabrik modern. Dikelola dengan menjaga nilai-nilai Islam.

Untuk Informasi lebih lanjut silakan kontak kami

SMS/WA ke 085 743 141 977


Untuk menjadi member silakan kunjungi DAFTAR MEMBER 

Barat || 7 September 2019

Profil PT Herba Emas Wahidatama



Thursday, September 5, 2019

Tiga Rahasia Kematian
Seorang kawan bercerita. Sepasang suami istri hidup berdua. Sang istri telah lama sakit dan harus dirawat sang suami. Kemudian takdir telah ditetapkan, ajal sang suami lebih dahulu ketimbang sang istri yang selama ini sakit.



Pertengahan Mei, beberapa tahun lalu. Ketika sedang bersantap malam, sebuah panggilan datang dari seorang kawan. Meminta tolong untuk dicarikan ambulan, karena ada sepasang suami-istri yang meninggal hampir bersamaan. Keduanya mualaf.
_______
Ada tiga rahasia dalam kematian. Dengan kerahasiaan itu, Sang Khaliq mungkin sedang menyisipkan kepada setiap insan untuk selalu berjaga dalam amalan terbaik. Dengan kerahasiaan itu, Sang Pencipta mungkin ingin setiap manusia selalu menyimpan asa.
Sebab, manusia tidak mengetahui kapan ia mati, di tempat manakah ia mati, dan dengan cara apa ia akan mati.
________
Teriring Doa untuk teman almarhumah Mbak Tari
(Rekan kerja yang meninggal hari ini, Ahad 090619)
Semoga husnul khatimah