Wednesday, February 12, 2020

Cara Menggunakan Google Keyword Planner untuk Riset Kata Kunci 2020
Cara Menggunakan Google Keyword Planner untuk Riset Kata Kunci tahun 2020. Secara garis besar penggunaan Google Keyword Planner tidak banyak berubah. Hanya saja menu awal yang harus dipilih terus mengalami penyempurnaan.

Jika dulu kita tinggal cari di Google, kemudian masuk ke menu utama. Kita agak berbeda dalam menggunakan Google Keyword Planner. Berikut caranya :

1. Silakan klik ads.google.com
2. Silakan Login dengan akun gmail Anda jika belum punya bisa membuat, mudah.


3. Klik Mulai Sekarang
4. Pilih Alat dan Setelan
5. Pilih Keyword Planner




6. Pilih Kata Kunci Baru
7. Silakan masukkan perkiraan kata kunci
8. Klik dapatkan hasil
9. Jika ingin terlihat semua, klik Download Kata Kunci

Manfaat Google Keyword Planner

Memudahkan kita dalam membuat postingan yang sesuai dengan pencarian di situs google. Sehingga postingan yang kita tulis lebih memungkinkan banyak dicari orang.


Semoga bermanfaat.

Wednesday, January 29, 2020

Ketika yang Dua Telah Menjadi Satu

Beberapa waktu lalu ada tetangga menikah, tapi saya tak mendapat undangan. Undangan justru datang dari sahabat organisasi yang rumahnya relatif lebih jauh, dia juga menikah di hari yang sama. Melihat mempelai yang bersanding di atas pelaminan, sesungguhnya kita sedang menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang begitu nyata. Begitu dekat.


Pernikahan adalah ikatan suci, satu-satunya jalan yang dilegalkan Islam untuk menjalin kasih sayang insan berlainan jenis. Dorongan batin yang ada, tidak akan pernah terpuaskan hanya dengan membangun hubungan atas nama 'pacaran'.

Jika pengusung modernitas (media cetak, elektronik, radio, tv) membangun konspirasi destruktif atas nama valentine untuk melegalkan seks bebas. Maka sudah selayaknya kita melawan. Membentengi generasi muslim dengan kesadaran, bahwa menikah itu mudah, indah, murah dan penuh berkah.

Saat kita putuskan memasuki gerbang pernikahan. Sesungguhnya kita telah melayarkan sebuah bahtera menuju laut lepas. Maka sejak awal sepantasnya kita telah mengetahui tujuan yang hendak dicapai. Di mana bahtera itu kelak akan bersandar. Menyadari bahwa di laut ada banyak rintangan. Karang yang kokoh dan runcing siap menghadang. Gelombang yang ganas siap menghempaskan bahtera kita. Hujan dan badai siap mengoyak layar. Rasa lapar dan haus memestikan kita memiliki persediaan bekal yang cukup.

Meskipun demikian ombak dan badai yang mengiringi tidak selalu buruk. Terkadang ombak yang kuat justru akan semakin menghempaskan bahtera kita cepat sampai ke tujuan. Terkadang badai yang kencang, akan meniupkan layar kita agar cepat sampai ke pelabuhan harapan. Begitulah seterusnya. Tinggal bagaimana kokohnya bahtera yang kita bangun. Bagaimana kepiawaian nahkoda dalam mengemudi. Bagaimana awak kapal membantu mengatasi setiap persoalan.

Bagi saudaraku yang baru saja menikah. Semoga mendapat keberkahan dari Allah. Sekarang kalian tak lagi dua melainkan satu. Satu pasangan yang memang telah dijaminkan oleh Allah.

"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (Yaasiin [36]: 36)

Tuesday, January 28, 2020

Diduga Investasi Bodong, Terpikat Janji Manis Memiles
Saya mendapat informasi tentang MeMiles sekitar tiga atau empat bulan lalu. Seorang kawan mengirimkan pesan melalui Whatsapp akan digelarnya acara perkenalan Memiles di Yogyakarta.


Dengan segala iming-iming yang luar biasa itu, saya lantas curiga. Ada yang tidak beres dalam 'investasi' ini. Saya pun lantas mengecek daftar investasi ilegal versi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan ternyata perusahaan yang digunakan Memiles tercantum di sana.

Saya lantas menyampaikan itu kepada teman saya, yang ternyata sudah ikut berinvetasi alias ikut top up. Katanya, pertama ia top up barang berupa emas batangan. Hanya dengan sekian ratus ribu dijanjikan akan mendapatkan emas batangan.

Baca Juga : Pemulung Sayang, Pemulung Malang

Konon, ia yakin karena dalam sebuah acara ia ditunjukkan langsung emas tersebut oleh orang-orang yang sudah berhasil meraihnya. Sistemnya, pada posisi omzet nasional mencapai jumlah tertentu, maka ia akan mendapatkannya.

Teman saya itu masih beberapa kali datang ke rumah. Meski awalnya berbincang tentang soal lain, ujung-ujungnya ke Memiles juga. Dan saya katakan, saya tidak tertarik karena sangat tidak masuk akal.

Di luar dugaan, dia justru semakin bersemangat. Ia bercerita sudah top up lagi (padahal top up yang pertama belum dapat). Kali ini berupa mobil, angka top-up nya sekitar tujuh jutaan dan dijanjikan tidak ada setahun bisa dapat mobil. Ini semakin tidak masuk akal.

Baca Juga : Rahasia-rahasia Alam yang Mengagumkan

Kemudian saya tanya dari mana asal uang perusahaan untuk memberikan barang-barang itu. Ia jawab dari hasil iklan Google! Karena setiap hari ribuan member Memiles diminta buka aplikasi yang ada iklan dari google, dan google yang akan membayar.

Ini semakin tidak masuk akal, karena saya tahu periklanan google (google adsense) tidak memungkinkan perilaku semacam ini. Sengaja klik iklan pasti akan dibanned oleh google.

Hanya saja karena banyak para member terhipnotis dengan kata-kata yang mencatut nama periklanan Google sehingga mereka percaya. Kini terbukti dengan diungkapnya investasi Memiles oleh pihak kepolisian ada yang tidak beres dengan investasi ini.

Sayangnya telah jatuh banyak korban hingga puluhan ribu dengan uang ratusan milyar. Padahal seharusnya sejak awal bisa terdeteksi ada yang tidak beres di Memiles.

Pernah dimuat di Kompasiana
Menyemai Senyum dengan Uang Seribu

Idul Adha lalu sengaja saya dan keluarga silaturahim ke kampung halaman istri, di Bantul Yogyakarta. Mengikuti shalat Idul Adha di lapangan samping pabrik gula Madukismo. Sekitar satu kilometer selatan makam keluarga pendiri pondok pesantren Al Munawwir Krapyak.


Ada beberapa hal yang bisa saya lihat perbedaan pelaksanaan shalat di sana, dibanding dengan shalat di desa sendiri. Pertama, panitia menggunakan semacam tanda panitia (id card/co card). Kedua, infak ditarik sebelum pelaksanaan shalat, begitu shaf telah penuh dan rapi, para petugas langsung mengedarkan kantong tempat infak. Ketiga, sebagian besar jamaah datang ke lapangan dengan jalan kaki, sehingga parkiran motor/mobil tidak begitu banyak. Keempat, ada pelaporan keuangan penggunaan infak idul fitri/adha, sehingga jamaah tahu jumlah infak idul fitri lalu dan saldo yang ada.

Hanya saja saya sempat kaget ketika shalat selesai dan khutbah dimulai banyak jamaah yang langsung berdiri dan meninggalkan lapangan. Termasuk beberapa orang di samping saya. Pihak panitia sebelumnya telah menghimbau agar jamaah menghormati khatib, tetapi tidak diterangkan bahwa mendengarkan khatib merupakan rangkaian dari ibadah shalat idul adha.

SENYUM SIMBAH

Usai shalat, putriku Azizah minta dibelikan makanan. Akhirnya kami belikan satu, Rencana mau beli beberapa sekalian untuk dibawa pulang, tapi ternyata harga per satuannya Rp 5.000. Kami pun hanya beli satu. Di samping penjual makanan itu, saya melihat simbah-simbah yang berjualan mainan tradisional. Usianya sudah sepuh (tua). Maka saya minta istri untuk membeli salah satu mainan di sana, meski putriku tak memintanya.

Dari kejauhan istri memberikan isyarat dengan mengacungkan jari telunjuk. Hendak mengabarkan harga. Sepuluh ribu, pikir saya. Saya pun mengizinkannya membeli mainan itu. Setelah saya dekati, ternyata harga mainan itu hanya seribu! Istri saya membeli dua buah, dengan uang lima ribuan. Dan meminta simbah itu untuk tidak usah memberikan kembaliannya. Saya tidak menyangka, mainan sebagus itu dan memerlukan kreatifitas dalam membuatnya ternyata harganya cuma seribu.

Lebih dari itu, yang membuat saya lega adalah senyum simbah itu. Saya senang melihat simbah itu gembira karena dagangannya laku. Berbagi tidak harus dengan memberi, tapi bisa juga dengan membeli. Adakah yang tertarik?

Pernah dimuat di Dakwatuna.com

Antara Pakistan dan Qom Madrasah Shici dan Jaringan Transnasional Baru

Mariam Abou Zahab dalam tulisan tersebut mengulas dampak revolusi Iran terhadap pendidikan madrasah yang ada di Pakistan. Penulis mengulas kondisi Pakistan sebagai wilayah yang dihuni penganut syiah, bahkan diperkirakan saat ini jumlahnya mencapai 15 hingga 20 persen. Sebagian besar merupakan penganut Syiah dua belas. Jika ditelisik dari sejarah, syiah masuk ke Pakistan pasca tragedi terbunuhnya Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.



Tetapi, mayoritas Syiah di Pakistan berasal dari Hindu. Mereka menganut Syiah setelah islamisai yang dilakukan para dai. Dalam bidang pendidikan, terjadinya revolusi di Iran telah mengubah cara pandang pendidikan madrasah di Pakistan menjadi lebih maju dan moderat. Hak-hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan semakin terbuka. Ulama-ulama perempuan Pakistan telah mencoba melakukan pembaharuan melalui dunia pendidikan.

Kondisi ini menyebabkan kalangan konservatif merasa terancam karena gerakan modernisasi semacam itu dapat menggerus kekhasan budaya Syiah. Maka gerakan para ulama perempuan tersebut mendapatkan halangan, seperti yang terjadi pada tahun 2005 ketika seorang ulama modernis dari Kenya diusir karena mengkritik tradisi local di hadapan 400 perempuan.

Namun seiring waktu kemajuan madrasah di Pakistan tidak bisa lagi dibendung. Madrasah perempuan Pakistan telah menjalin kerjasama ilmiah dengan Qom di Iran yang dipandang sebagai pusat penting Syiah. Kebijakan Iran yang berusaha mengekspor ideologinya ke berbagai Negara, termasuk Pakistan telah menciptakan kemajuan bagi madrasah perempuan. Tetapi juga menimbulkan dampak negatif berupa ketegangan antara Sunni dengan Syiah di Pakistan.

Kedekatan Syiah Pakistan dengan Iran juga dibuktikan dengan dikirimnya para siswa madrasah untuk melanjutkan studi mereka di Qom atau di Najaf sebagai kota penting bagi penganut Syiah seluruh dunia. Dalam tulisannya, Mariam Abou Zahab juga menguraikan karakteristik beberapa madrasah yang berbeda dalam silabus dan metode pengajarannya.
Misal Jamiat Al Mumtazar di Lahore yang mernjadi madrasah Syiah paling bergengsi di Pakistan. Mereka merekrut kalangan perkotaan dan terasa kuat pengaruh Iran di Madrasah ini. Mereka berpakaian secara modern dan menerapkan silabus yang mirip dengan madrasah di Qom, Iran.

Dalam tulisan ini, penulis meneliti tentang pendidikan madrasah syiah di Pakistan yang mendapat pengaruh kuat dari Iran. Madrasah-madrasah didirikan untuk menanamkan ideologi syiah dan menyiapkan para ulama Syiah. Beberapa madrasah yang diteliti merupakan madrasah dengan siswa perempuan.

Antara madrasah yang satu dengan yang lain memiliki kekhususan dalam pendidikan dan kurikulumnya. Hal tersebut sesuai dengan output yang diinginkan. Terdapat madrasah yang mengkaji ilmu-ilmu keagamaan dan hafidz Alquran, tetapi ada pula madrasah yang dibangun untuk mendidik para ilmuan modern.

Melalui madrasah inilah, ideologi Syiah secara perlahan mampu dikembangkan ke berbagai kalangan. Hal ini tidak terlepas dari upaya Iran untuk menyebarluaskan ideologi mereka. Sehingga secara intens memantau langsung dan menjalin kerjasama dengan madrasah di Pakistan.

Para siswa yang dianggap berpretasi dan layak, diberi kesempatan belajar di Qom dan Najaf di Iran. Mereka yang bisa belajar ke Iran dipandang sebagai siswa yang beruntung, karena tidak banyak yang bisa lolos. Sehingga tujuan Iran menjadikan Syiah sebagai ideologi transnasional secara efektif bisa disalurkan melalui dunia pendidikan.

Meski demikian terdapat penolakan dari para ulama konservatif yang merasa kekhasan budaya mereka bisa terancam. Akibatnya tidak jarang terjadi penolakan secara fisik terhadap ulama modernis. Meski demikian madrasah menjadi sarana yang efektif bagi perempuan di Pakistan untuk mendapatkan kesempatan maju dan berpengetahuan.

Penulis mencoba menguraikan aspek pendidikan yang mampu menjadi alat efektif untuk melakukan infiltrasi ideologi Syiah ke masyarakat di Pakistan. Selain itu, madrasah juga menjadi tempat yang efektif untuk melindungi idiologi Syiah agar terus berkembang dengan mendidik para kader baru yang akan menyebarkan idiologi Syiah di Pakistan.

Argumen dan temuan penulis, Revolusi Iran telah mempengaruhi pola pikir dan sikap Pakistan. Antara lain dengan terbukanya kesempatan perempuan untuk mendapatkan pendidikan di Madrasah. Perempuan di Pakistan memiliki kebebasan untuk mengenyam pendidikan di madrasah sesuai dengan yang diinginkan. Bahkan mereka memiliki kesempatan belajar sampai ke Iran.

Mereka yang telah menempuh pendidikan di Iran kemudian kembali ke Pakistan dan mendirikan madrasah sendiri atau setidaknya menjadi guru. Jarang yang kembali ke Pakistan dan khusus menjadi ibu rumah tangga. Mereka mendapat posisi bergengsi dalam masyarakat. Strategi infiltrasi paham Syiah melalui pendidikan ini terbukti lebih berhasil ketimbang kebijakan sebelumnya yang bersifat seporadis dan mendapat pertentangan keras dari masyarakat Pakistan.

Perubahan kebijakan Iran beralih dengan upaya menciptakan kalangan elit Syiah transnasional di madrasah Qom. Mereka berasal dari berbagai Negara, pada saat yang sama Iran berusaha menciptakan jaringan internasional melalui lulusan yang mereka hasilkan. Perempuan Pakistan yang lulus dari Iran merupakan bagian dari elit tersebut. Mereka kembali ke negaranya dengan membawa pemikiran dan budaya baru yang kental dengan Iran. Sampai tingkatan tertentu bahkan cara berpakaian mereka juga meniru gaya perpakaian khas Iran.

Ini menunjukan upaya perluasan Syiah melalui pendidikan lebih efektif ketimbang propaganda secara terbuka. Karena cenderung mendapatkan penentangan secara fisik. Bahkan mengakibatkan terjadinya bentrokan dan pengusiran. Karena kalangan modernis dianggap sebagai pesaing yang bisa menggusur kebudayaan lama dan pengaruh para tokohnya.

Penelitian yang dilakukan Mariam Abou Zahab menemukan pengaruh nyata Syiah dalam masyarakat di Pakistan terutama melalui bidang pendidikan. Hal ini juga menunjukkan keberhasilan Iran dalam mengekspor ideologinya ke berbagai Negara. Tawaran kebebasan untuk maju dan kesempatan belajar bagi siswa perempuan menjadi daya tarik tersendiri, sehingga madrasah-madrasah Syiah banyak diminati. Jika sebelumnya perempuan hanya dipandang sebagai warga kelas dua, melalui madrasah mereka bisa belajar bahkan hingga ke luar negeri.

Meski demikian kemajuan tersebut tidak selalu berjalan mulus, karena kalangan konservatif tidak ingin kebudayaan dan pengaruh mereka terdegradasi. Maka tidak heran bila terjadi penolakan bahkan bentrokan. Dalam konteks Indonesia, kejadian serupa mirip dengan gagasan KH. Ahmad Dahlan ketika mengadopsi sekolah Belanda dalam proses pembelajarannya. Para murid belajar menggunakan kursi dan meja, berbeda dengan kalangan santri yang sebelumnya belajar dengan sistem lesehan atau belajar dengan duduk di lantai.

Selain mengenalkan pembelajaran mirip Belanda, KH. Ahmad Dahlan juga mengenalkan music, khususnya biola. Pembaruan ini mendapat reaksi keras dari kalangan Kyai pesantren. Karena dianggap pembelajaran yang dilakukan menyerupai orang kafir dan tidak pembelajaran KH Ahmad Dahlan tidak layak disebut pesantren. Meski demikian metode tersebut terus berkembang dan berhasil mendirikan ribuan lembaga pendidikan di seluruh Indonesia.

Dalam beberapa kesempatan, kalangan modernis yang kemudian dikenal dengan Muhammadiyah ini seringkali dicap sebagai wahabi. Karena tegas mengkriktik berbagai kebiasaan masyarakat yang dipandang tidak sesuai dengan Alquran dan Sunnah. Muhammadiyah juga banyak berkembang di area perkotaan ketimbang di pedesaan. Maka pada awal perkembangannya, Muhammadiyah diterima dengan baik di wilayah yang sudah cukup maju khususnya dalam bidang perdagangan semisal di Pekalongan, Banyuwangi, dan Surabaya. [e]



Monday, January 27, 2020

Ajakan Shalat Azizah

Nama lengkapnya Azizah Nurul Azkia, lahir pada bulan juli dua tahun yang lalu. Tinggal di desa dengan lingkungan yang masih asri dan sepi membuat interaksi dengan tetangga bisa terjalin dengan baik. Azizah juga senang karena ada teman sebaya yang bisa diajak bermain. Sedang pada pagi hari sengaja kami memasukkannya ke taman bermain. Sedang pada malam hari, dia tetap bisa bersosialisasi dengan kawannya sewaktu di masjid/mushalla. Sosialisasi dengan lingkungan menjadi salah satu yang menurut kami penting, apalagi hidup di daerah pedesaan. Meskipun kadang tidak mudah.


Pernah suatu malam ba’da shalat Maghrib Azizah pipis di mushalla. Saat itu Azizah tidak memakai pampers. Jadilah malam-malam saya mengepel lantai mushalla. Sempat muncul rasa kesel juga, apalagi beberapa ibu-ibu kontan menyalahkan saya dengan nada minor. Tapi kejadian itu tidak menyurutkan saya untuk tetap mengajak Azizah ke mushalla di hari berikutnya.

Ya. Sejak ramadhan lalu usia Azizah telah genap dua tahun. Saya sengaja mulai mengenalkannya dengan masjid dengan mengajaknya shalat berjamaah, termasuk tarawih. Bahkan Azizah kuat menahan kantuk hingga usai tadarus. Memang sebagian orang tua ada yang enggan mengajak putra-putrinya yang masih balita dengan alasan takut membuat gaduh dan mengganggu orang yang sedang shalat.

Untuk menghindari hal ini, saya mencoba menjauhkan Azizah dari kawan akrabnya ketika di masjid. Terkadang saya ajak dia untuk shalat di masjid yang lain, di mana tempat itu masih terasa asing baginya. Cara ini ternyata cukup efektif membuat Azizah untuk tetap tenang dan tidak lari kesana kemari.

Usai ramadhan, ada hal menarik yang saya dapati. Setiap terdengar suara azan terutama Maghrib dan Isya’, Aziah akan segera berceloteh, “Ayah Shalat...”. Terkadang ketika diajak bertamu ke rumah orang, begitu terdengar azan, ia akan segera mengajak shalat, mencari dari mana arah suara azan.

Bukan itu saja. Sejak sering diajak ke masjid, Azizah pelan-pelan mulai hafal Surat Al Fatihah, ia sering mengejanya dengan terbata-bata. Jika melihat siaran azan di televisi dengan lucunya ia akan bersujud, menirukan orang yang shalat. Selain itu, Azizah juga telah mengenal beberapa kosakata baru: wudhu, adzan, sujud, sajadah, masjid, jilbab, dan pampers.

Azizah kini jadi pengingat. Saat rasa malas menghampiri berpadu dengan kondisi badan yang capek. Azan tak juga menggerakkan saya untuk melangkah ke masjid/mushalla. Maka si cantik Azizah akan segera datang menghampiri dengan suara renyahnya, “Ayah shalat ....” Mengajak shalat ke masjid/mushalla terdekat. Rabbi habli minasholihiin

Pernah dimuat di Harian Republika