Friday, January 17, 2020

Bahagianya Menjadi Bunda

            Jahimah As Salami mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin mengikuti peperangan.” Nabi bertanya, “Apakah ibumu masih ada?” Ia menjawab, “Ya” Rasulullah berkata, “Layanilah ia karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.” (HR. An Nasai)
            Hadits tersebut menunjukan bagaimana mulianya kedudukan seorang ibu. Seorang anak diperintahkan untuk berbakti kepada ibunya. Tanpa itu, mustahil surga akan teraih.
            Inti dari hadits itu juga senada dengan perintah penghormatan anak kepada ibunya sebanyak tiga kali lipat sebelum penghormatan kepada seorang ayah. Karena ibu memiliki peran penting dalam kehidupan seorang anak. Sejak di dalam kandungan hingga beranjak dewasa seorang anak memiliki ketergantungan akan peran ibu. Hingga biasanya anak memiliki kedekatan emosional lebih besar kepada ibunya ketimbang kepada ayahnya.



            Peran penting ibu tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan anak. Mewarnai perilaku dan pembangunan karakter anak. Pada masa selanjutnya semua itu akan mendukung kemampuan untuk meraih keberhasilan. Di sinilah seorang ibu memiliki tanggungjawab untuk mendidik anak-anaknya dengan baik.
            Al Quran telah menyajikan dua kisah tentang peran penting seorang ibu dalam mendidik anak.
Pertama, adalah kisah Nabi Musa as. yang semenjak bayi diasuh oleh Asiyah yang merupakan istri Fir’aun, seorang raja yang sangat ingkar kepada Allah. Musa tumbuh dalam lingkungan keluarga kerajaan yang dipenuhi kekafiran. Meski demikian ia dididik langsung oleh Asiyah, wanita yang salehah dan beriman. Pengaruh Asiyah lebih mewarnai perkembangan Musa, ketimbang pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Pada akhirnya nanti Musa menjadi seorang mukmin yang tetap beriman meskipun tumbuh dalam keluarga Fira’un.
Kedua, adalah kisah Kan’an yang tidak lain merupakan putra Nabi Nuh as. Kan’an tumbuh dalam didikan seorang ibu yang kafir. Durhaka kepada Allah dan durhaka kepada suami. Sifat Kan’an pun tidak jauh dari ibunya. Ia membangkang terhadap ajakan Nabi Nuh as. yang menyeru kepada keselamatan. Akhirnya Allah menenggelamkan Kan’an dengan air bah yang meluap melampaui bukit-bukit.
Dua kisah tersebut menjadi gambaran pentingnya peranan seorang ibu untuk mengantar anak-anaknya menjadi pribadi yang beriman, berakhlak baik serta mampu meraih keberhasilan di masa depan.
Terlihat pula bahwa faktor ibu lebih dominan ketimbang ayah dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Sudah semestinya setiap ibu menyadari akan hal ini. Membekali diri dengan keimanan dan akhlak terpuji karena nanti semua itu akan menjadi contoh bagi sang buah hati.
            Sebagai balasan atas semua jerih payah itu, Allah telah menyerukan kepada manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu.
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya.” (Al 'Ankabuut [29]: 8)
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman [31]: 14)
            Rasulullah juga mengingatkan. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, “Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
           

Wednesday, January 15, 2020

Relativitas Waktu, Memperpanjang Usia

“Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Asr: 1-3)

 Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ‘waktu’, hingga Allah bersumpah demi ‘waktu’? Sejak lama para ilmuwan dan filsuf (ahli filsafat) mencoba memecahkan misteri tentang ‘waktu’. Hal itu disebabkan karena ‘waktu’ merupakan persoalan penting dalam kehidupan manusia. Zeno, adalah filsuf pertama yang membicarakan ‘waktu’ dikaitkan dengan ruang dan gerak.

Para tokoh berbeda pendapat dalam memandang ‘waktu’, namun secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, pendapat yang menganggap waktu adalah obyektif (tetap) dan merupakan realitas riil. Tokoh yang berpendapat demikian diantaranya adalah Descartes. Sedang Leibniz, dan Augustinus Comte menyatakan bahwa ‘waktu’ merupakan hal yang subyektif (tergantung individu yang menilainya).

Dari dua teori tersebut, nampaknya teori kedualah yang banyak diterima dan diikuti saat ini. Augustinus Comte dalam Confessiones-nya mengatakan bahwa ‘waktu’ bersifat subyektif. Menurutnya setiap orang mempunyai pengertian sendiri-sendiri tentang ‘waktu’. Meskipun benar menurut satu orang namun belum tentu benar menurut orang lain.

Ini berarti ‘waktu’ yang kadarnya kita tentukan dengan jam, hari, minggu, bulan atau pun tahun, hanyalah merupakan istilah-istilah yang menggambarkan gerakan Bumi mengelilingi Matahari dan bukan merupakan pengertian ‘waktu’ sesungguhnya.

Pemakaian jam yang kita gunakan saat ini, sebenarnya telah disesuaikan dengan peredaran sistem Matahari dan itu akan berbeda ketika kita berada di Venus yang berotasi selama 225 hari. Sehingga tepat apa yang dikatakan L. Barnet mengutip pernyataan Einstein, bahwa ‘waktu’ tidak dapat diukur. Karena ‘waktu’ hanya merupakan perpindahan simbolik menurut tempat.

Misalnya satu jam di Bumi adalah peredaran Bumi mengelilingi porosnya sejauh 15 derajat. Karena Bumi berupa lingkaran yang mempunyai sudut 360 derajat, maka dalam sehari semalam (satu kali putaran) sama dengan 24 jam. Jadi yang dimaksud satu jam di Bumi adalah gerakan Bumi sejauh 15 derajat.
Dari sebuah pernyataan berikut mungkin kita bisa memahami bahwa ‘waktu’ bersifat relatif.
“Satu jam saat seorang menanti kekasih akan terasa berbeda dengan satu jam ketika ia akan dihukum gantung.”

Lalu mungkin kita bertanya berapa kadar ‘waktu’ yang sebenarnya ? Sampai saat ini belum ada ketetapan yang disepakati para ahli tentang kadar ‘waktu’. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman,

“Dan Dia mengatur urusan dari langit ke Bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Q.S. As-Sajdah: 5)

Dari ayat tersebut jelas sekali perbedaan antara 1 hari yang dimaksud Allah dengan satu hari menurut perhitungan manusia. Satu hari berbanding seribu tahun. Subhanallah !

Semua itu bukan hal yang mustahil, sebagaimana dikemukakan Einstein dalam teori relativitasnya bahwa semakin cepat suatu objek bergerak, maka ‘waktu’ yang dicatatnya semakin pendek dibanding dengan objek yang diam relatif (karena para ahli percaya tidak ada diam yang sebenarnya, semua bersifat relatif).

Perbedaan itu akan semakin terlihat jelas apabila sebuah objek bergerak dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Contoh mudah, misalkan kita akan mengikuti ekspidisi ke tata surya lain yang jaraknya sangat jauh. Kita hanya mampu mencapainya dengan menggunakan pesawat luar angkasa yang mempunyai kecepatan re-lativistik (mendekati kecepatan cahaya). Perlu diketahui bahwa kecepatan cahaya mampu mendekati kebenaran dan independen karena tidak terpengaruh oleh zat perantara. Albert Michelson dan William Moerely (AS) pada tahun 1887 mengatakan bahwa kecepatan cahaya di mana-mana sama.

Misalkan pesawat yang kita gunakan itu berkecepatan 900.000.000 km/jam, mendekati kecepatan cahaya yang bergerak dengan kecepatan 1.080.000.000 km/jam. Maka ‘waktu’ yang ada di pesawat kita akan berjalan lebih lambat dibanding dengan ‘waktu’ di Bumi.

Tidak heran saat kembali ke Bumi ternyata usia kita lebih muda dari usia yang sebenarnya. Kecepatan re-lativistik telah membuat ‘waktu’ dalam pesawat itu ‘memuai’. Einstein dalam teori relativitas khusus-nya (1905) mengatakan, gerak berpengaruh terhadap perputaran ‘waktu’ dan masa suatu benda. Sehingga ‘waktu’ dalam pesawat luar angkasa tersebut lebih lambat dari ‘waktu’ di Bumi. Benarkah begitu ? Wallahua'lam.

Tulislah Sejarah
Ada rentang masa yang hilang ketika belajar sejarah sewaktu di SMP. Mempelajari imperium Romawi - Yunani, kemudian loncat ke renaisans peradaban barat. Lalu di mana posisi peradaban Islam yang bertahan hingga lebih sepuluh abad?

Maka tulislah sejarah, bukan untuk menghibur diri mengenang peradaban gemilang, namun mengabarkan bahwa umat ini pernah berada pada puncak kejayaan. Rasanya benar sebuah ungkapan: Sejarah ditulis sejalan dengan pikiran penulisnya.
Hilangnya episode kejayaan Islam, seolah menafikan peran penting ilmuwan-ilmuwan bertalenta yang pernah dimiliki Islam. Sebutlah Ibnu Sina, yang di Eropa dikenal sebagai Avicena. Tokoh kedokteran yang hingga kini warisan pengetahuannya masih menjadi rujukan.
Jangan lupakan juga Abbas Ibnu Firnas, seorang fisikawan, kimiawan dan teknisi. Dalam dirinya juga mengalir darah seni sebagai penyair dan musisi. Ilmuwan dari Andalusia (Spanyol) ini merupakan perancang pesawat pertama di dunia.
Kemudian, kita bisa berpikir bagaimana seorang Michael Hart, seorang penulis barat yang meranking tokoh-tokoh paling berpengaruh di dunia. Dan menempatkan Nabi Muhammad di posisi pertama. Ia menyebut "Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama."
Atau mencoba menganalisa pendapat Sir George Bernard Shaw, "Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa, beberapa ratus tahun dari sekarang, Islamlah agama tersebut."
Maka, tulislah sejarah. Sebagai pelajaran tentang kisah di masa lalu. Sebagai sumber pengetahuan yang bisa jadi memantik semangat untuk menghadirkan kembali kejayaan.
Barat || 11 Januari 2020
Bisnis Pendidikan
Ramadhan lalu sempat mendapat tugas dari kantor untuk mengikuti kegiatan di Depok Jawa Barat. Saya menginap di Hotel Santika. Beberapa hari di sana, sempat bertemu dengan anak-anak SMA yang juga menginap di lokasi yang sama. Kebetulan waktu itu masa liburan sekolah.
Seleksi Dewan Pendidikan Kabupaten Sleman

Jarang sekali bercakap dengan orang yang belum dikenal di dalam lift. Hanya saja karena lantai yang dituju berada di lantai 20-an lumayan cukup waktu untuk membuka pembicaraan, apalagi jika shalat tarawih juga bareng.
Dari pembicaraan itu, mereka mengaku siswa SMA yang sedang mengikuti les privat selama beberapa hari di hotel. Rupanya, ada lembaga bimbingan belajar yang membidik kalangan kaya semacam mereka dengan membuat paket privat di hotel berbintang. Bagi orang tua kaya dan tidak punya cukup waktu mendampingi anaknya, mungkin program semacam ini menarik. Kami juga berbincang dengan para pengajar, yang masih merupakan mahasiswa.
Bisnis pendidikan memang menarik. Kadang unik. Bagaimana orang tua rela membayar jutaan rupiah agar anaknya bisa belajar di lembaga bimbingan belajar yang hanya satu-dua jam setiap hari. Sementara mereka ingin gratis biaya sekolah!
Atau tradisi study tour, yang terkadang hanya tournya saja yang utama. Study-nya entah. Dulu dalam bayangan saya, ketika study tour memang benar-benar ada hasil pembelajaran yang dicapai oleh siswa. Tetapi tampaknya, itu bukan menjadi prioritas.
Buku. Pendidikan tidak lepas dari buku. Dan buku menjadi ladang tersendiri untuk bisnis. Ketika saya SD, masih ingat buku kami bisa bergantian dengan kakak kelas. Jadi digunakan turun-temurun. Sekarang, bahkan setiap semester buku pun bisa berganti, dan bukan hanya satu!
Sekarang, kita akan melihat seperti apa arah pendidikan ke depan. Wacana dihapuskannya Ujian Nasional, apakah akan nyata atau sekedar retorika seperti lazimnya kebijakan selama ini.
Secara pribadi, sekarang mulai tertarik dengan pembelajaran ala Kuttab Al Fatih. Murid tidak dibebani berbagai macam pelajaran dan tidak sampai seharian di sekolah. Tetapi mereka dibekali modal dasar keimanan dan ilmu pengetahuan yang bisa dikembangkan. Berharap, semoga Kuttab tak terjebak dalam Bisnis Pendidikan.

Barat || 11 Januari 2020

Thursday, January 9, 2020

Garis Tangan Penulis
Pada sebuah semester ketika kuliah, saya memutuskan untuk nekat magang menjadi reporter di surat kabar harian di Solo. Di sisi lain tetap mengambil kuliah alias tidak cuti. Bisa dibayangkan bagaimana cara kuliahnya? Untung, saya sudah punya sedikit pengalaman untuk mengatur waktu antara masuk dan tidak masuk kuliah



(Baca catatan: Setengan Kuliah)

Di Solo, saya benar-benar mendapat tempaan yang lumayan. Job desk pertama adalah liputan urusan politik. Maka pada hari pertama ditugaskan untuk nongkrong di Balaikota. Dengan penuh semangat, naik bus sambil tanya-tanya jalur. Ketika sampai di Balaikota masih sepi. Dan akan terus sepi karena itu hari libur!

Maka saya isi hari itu dengan mengobrol dengan tukang becak di depan Balai Kota.
------
Terjun kedua kerja kembali menemukan jalan untuk menulis. Tepatnya tujuh tahun setelah bergelut dengan berbagai aplikasi. Mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang jurnalistik, bersama kawan-kawan dari 34 provinsi se-Indonesia.

Di akhir sesi, ada reward menarik. Lima atau tujuh peserta terbaik mendapat peluang untuk belajar langsung di Tempo Institut dan Alhamdulillah bisa masuk di dalamnya.

Maka selama beberapa hari mendapatkan ilmu langsung tentang jurnalistik dan pengelolaan media dari Kantor Tempo. Padahal Majalah Tempo adalah termasuk yang garis kebijakan redaksinya tidak saya senangi. Setelah tahu sedikit pengelolaan di dalamnya, akhirnya bisa paham kenapa mereka memilih jalan itu.

Seperti sebuah adagium yang saya susun sendiri: Wartawan boleh idealis, tetapi di atas wartawan masih ada redaktur, di atas redaktur masih ada pimred, di atas pimred masih ada pemodal. Tinggal di tingkat mana idealisme itu akan tertawan.

Barat || 7 Januari 2020

Thursday, January 2, 2020

Mencintai Buku-buku


Awal kecintaan saya dengan buku tidak dimulai dengan mudah. Sebenarnya saya tidak suka membaca, lebih tepatnya malas. Dalam pikiran, yang namanya belajar itu adalah mempersiapkan buku sesuai jadwal untuk esok hari. Tidak lebih. Begitu sejak SD hingga SMA.

Hingga setelah kelulusan sebuah jalan harus dipilih. Minat sewaktu di SMA ingin melanjutkan kuliah menjadi guru. Tujuannya meneruskan di UNY. Namun di detik-detik akhir kelulusan keinginan itu berubah.
"Kuliah itu biayanya mahal, kalau menjadi polisi itu cepak," begitu kira-kira nasihat Bapak. Cepak artinya cepat dapat kerja yang jelas dan berpenghasilan.
Saran yang tidak masuk dalam hitungan.
Bapak adalah sosok sederhana yang memilih jalan sebagai petani. Meski sebagian besar teman SD nya banyak yang berhasil di sektor formal. Yang tentu saja mendapat penghormatan lebih ketimbang profesi sebagai buruh tani.
-------
Akhirnya lulus SMA, tidak langsung kuliah. Lagi-lagi karena faktor keterbatasan biaya. Sebagai 'balas dendam' harus mencari sumber ilmu lain, bukan dari bangku kuliah. Maka, puluhan buku menjadi 'bahan lalapan', dari buku motivasi hingga undang-undang sekalipun.
Saya masih ingat, ke kondangan pun saya bawa buku kecil tentang Undang-undang!
Orang mungkin melihat ada yang tak lazim, tapi tekad saya kegagalan masuk perguruan tinggi harus ditebus dengan mencari sumber ilmu lain.
Di pagi dingin, saya sempatkan belajar mengaji 'iqra' di AMM Kota Gede. 05.30 dari rumah, karena pelajaran dimulai jam 06.00 dan biasanya jam 07.00 sudah selesai.
Siang (kalau sempat) atau malam mencoba menulis dengan tulisan tangan dan kadang dengan mesik ketik, pinjam punya tempat Oom saya. Sempat mengirimkan tulisan ke media cetak tapi tak dimuat.
(Pada akhirnya, meski terlambat sempat kuliah, baca di sini : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10214587773709633&set=pob.1280443829&type=3&theater)
------
Rentang 2007-2008 sempat mengajar di sekolah swasta dengan honor tidak genap seperempat Upah Minimum Regional (UMR). Pada tahun 2008, kebetulan mendapat tugas mengawasi ujian Nasional di SMP tempat dulu saya sekolah. Pada selembar kertas, sambil mengawasi para murid saya tulis sederet angka imajiner yang terdiri dari : tahun lahir; bulan lahir; tanggal lahir; tahun; bulan; kode jenis kelamin; kode urutan.
Sebuah deret yang searti dengan nomor induk pegawai alias NIP. Setahun kemudian doa dan harapan tersebut dikabulkan Allah Swt. deret angka yang saya tulis bisa sama persis!
-----
Wong bodo kalah karo wong pinter, wong pinter kalah karo wong beja. Ungkapan tersebut mungkin terkadang benar. Tetapi bagi saya wong beja masih bisa dikalahkan oleh orang yang pinter dan beja!
Sekitar tahun 2010 mulai bertugas, sebagai anak baru masih harus beradaptasi. Maka kemudian banyak waktu longgar, Kesempatan ini saya manfaatkan untuk belajar: membaca dan menulis buku. Hasilnya sebuah buku pada 2011 diterbitkan oleh Pro-U Media Yogyakarta.
Termasuk cukup cepat prosesnya. Bahkan sempat dipanggil dan ditanyai oleh editor kenamaan Mas Yusuf Maulana, dengan pertanyaan selidik: "Ini benar karya Anda sendiri?"
Rupanya Mas Yusuf, ingin memastikan karya itu tulisan saya sendiri. Selanjutnya ia mengungkap, "Tulisan ini sudah matang, tidak seperti tulisan seorang pemula."
Itu adalah awal transformasi saya ke dunia buku. Dari gemar membaca ke gemar menulis. Menerbitkan buku melalui penerbit mayor cukup rumit. Apalagi sekelas penerbit Pro-U Media yang sangat selektif. Bayangkan, untuk satu bulan saja maksimal hanya menerbitkan dua buku! Sebab mereka memang benar-benar mengusung misi: Menerbitkan Gagasan dan Cita-cita.
Beberapa tahun tinggal di negeri 'asing' karena tidak dalam 'habitat' semestinya. Hingga atasan saya Bu Dwika Ika menyarankan untuk meminta kejelasan. Apakah saya akan ditempatkan di habitat semestinya atau di lembaga pendidikan. Pada tahun itu pula saya mendapat kejelasan untuk tetap tinggal di lembaga pendidikan. Ini sama artinya, keahlian dan ijazah saya tidak banyak berguna sebab berbeda mahzab.
(Khusus bab ini bisa disambung lain waktu)
Kini di rumah, terdapat ratusan buku berbaris agak rapi di rak. Sebagai rintisan Taman Bacaan Masyarakat yang saya kelola: Pustaka Rumah Dunia. (silakan bisa di-searching di Google)
Begitulah, bagaimana saya mencintai buku-buku.

Barat || 02/01/2020
Ketika dingin menyapa

Foto: Bendel Majalah Panji Masyarakat yang terbit di tahun 70-80-an. Pemberian dari Bapak Mertua.