Ekonomi Seret, Banyak Orang Terjebak Bisnis Monyet

Cerita tentang bisnis monyet ini saya baca di FP Mas Saptuari. Sebetulnya sudah beberapa kali mendengar ungkapan bisnis monyet tetap belum begitu 'ngeh'.


Jenderal Besar Soeharto konon pernah berpesan agar jangan sampai menjadi orang yang kagetan dan gumunan. Pesan ini ternyata sangat penting. Apalagi dalam era banjir informasi seperti saat ini.

Investasi Bodong (pixabay.com)


Membuat orang mudah mengakses berbagai informasi termasuk dalam hal investasi. Tawaran bisnis mudah dengan hasil melimpah membuat sebagian orang kalap. Tanpa berpikir panjang untuk menanamkan uangnya sebagai investasi. Padahal belum memiliki pengalaman dan wawasan yang memadai.


Orang cepat tergiur dengan sesuatu yang serba wah. Dulu sempat booming tanaman gelombang cinta. Hingga satu tanaman bisa dihargai ratusan juta. Maka orang berlomba-lomba menginvestasikan uang untuk membeli, dan berharap dapat menjual kembali dengan harga tinggi 


Tapi apa dikata. Sejurus kemudian harganya anjlok. Nyaris tak berharga.


Begitu pula dengan aneka satwa, burung, tokek, kalajengking dan sebagainya. Semua diolah oleh media sebagai sesuatu yang menakjubkan. Untuk kemudian hilang entah kemana 


Mirip dengan cerita bisnis monyet. Suatu ketika ada orang kota datang ke desa. Ia bersedia membeli seekor monyet dengan harga, sebutlah Rp100 ribu. Maka berbondong orang menangkapi monyet di hutan.


Baca Juga : Cak Nun : Dalam Konsep Allah, Kita Semua adalah Saudagar


Monyet semakin sedikit. Hingga sebagian orang malas berburu. Orang kota datang lagi dan siap membeli monyet seharga Rp200ribu.


Orang kembali bergairah berburu ke hutan.


Semakin lama, populasi monyet kian terbatas. Orang kota lantas memberikan kabar, harga monyet siap naik menjadi Rp500ribu per ekor.


Meski harga naik, namun jumlah monyet nyaris habis.

Kemudian datanglah orang kota lainnya. Ia menawarkan kepada warga desa monyet dengan harga Rp200ribu untuk setiap ekor.


Ia pun memberikan penjelasan kemungkinan monyet tersebut bisa dijual lagi dengan harga Rp500ribu kepada orang kota sebelumnya.


Berbondonglah warga desa membeli monyet, dengan harapan menangguk untung ketika dijual lagi dengan harga Rp500ribu.


Sehari, dua hari, tiga hari. Sampai berpekan-pekan. Ternyata orang kota yang siap membeli kera tidak lagi datang.


Di kemudian hari mereka tahu, kedua orang kota yang pernah datang kepada mereka adalah satu komplotan.


Kisah warga desa itu kemudian lazim disebut monkey business. Bisnis monyet.


Sabun Alvava Center || 1 Juni 2022

Tidak ada komentar untuk " Ekonomi Seret, Banyak Orang Terjebak Bisnis Monyet"