Thursday, January 9, 2020

Garis Tangan Penulis

Pada sebuah semester ketika kuliah, saya memutuskan untuk nekat magang menjadi reporter di surat kabar harian di Solo. Di sisi lain tetap mengambil kuliah alias tidak cuti. Bisa dibayangkan bagaimana cara kuliahnya? Untung, saya sudah punya sedikit pengalaman untuk mengatur waktu antara masuk dan tidak masuk kuliah



(Baca catatan: Setengan Kuliah)

Di Solo, saya benar-benar mendapat tempaan yang lumayan. Job desk pertama adalah liputan urusan politik. Maka pada hari pertama ditugaskan untuk nongkrong di Balaikota. Dengan penuh semangat, naik bus sambil tanya-tanya jalur. Ketika sampai di Balaikota masih sepi. Dan akan terus sepi karena itu hari libur!

Maka saya isi hari itu dengan mengobrol dengan tukang becak di depan Balai Kota.
------
Terjun kedua kerja kembali menemukan jalan untuk menulis. Tepatnya tujuh tahun setelah bergelut dengan berbagai aplikasi. Mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang jurnalistik, bersama kawan-kawan dari 34 provinsi se-Indonesia.

Di akhir sesi, ada reward menarik. Lima atau tujuh peserta terbaik mendapat peluang untuk belajar langsung di Tempo Institut dan Alhamdulillah bisa masuk di dalamnya.

Maka selama beberapa hari mendapatkan ilmu langsung tentang jurnalistik dan pengelolaan media dari Kantor Tempo. Padahal Majalah Tempo adalah termasuk yang garis kebijakan redaksinya tidak saya senangi. Setelah tahu sedikit pengelolaan di dalamnya, akhirnya bisa paham kenapa mereka memilih jalan itu.

Seperti sebuah adagium yang saya susun sendiri: Wartawan boleh idealis, tetapi di atas wartawan masih ada redaktur, di atas redaktur masih ada pimred, di atas pimred masih ada pemodal. Tinggal di tingkat mana idealisme itu akan tertawan.

Barat || 7 Januari 2020
Sebelumnya
Berikutnya

Penulis:

0 comments: