Wednesday, January 15, 2020

Relativitas Waktu, Memperpanjang Usia


“Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Asr: 1-3)

 Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ‘waktu’, hingga Allah bersumpah demi ‘waktu’? Sejak lama para ilmuwan dan filsuf (ahli filsafat) mencoba memecahkan misteri tentang ‘waktu’. Hal itu disebabkan karena ‘waktu’ merupakan persoalan penting dalam kehidupan manusia. Zeno, adalah filsuf pertama yang membicarakan ‘waktu’ dikaitkan dengan ruang dan gerak.

Para tokoh berbeda pendapat dalam memandang ‘waktu’, namun secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, pendapat yang menganggap waktu adalah obyektif (tetap) dan merupakan realitas riil. Tokoh yang berpendapat demikian diantaranya adalah Descartes. Sedang Leibniz, dan Augustinus Comte menyatakan bahwa ‘waktu’ merupakan hal yang subyektif (tergantung individu yang menilainya).

Dari dua teori tersebut, nampaknya teori kedualah yang banyak diterima dan diikuti saat ini. Augustinus Comte dalam Confessiones-nya mengatakan bahwa ‘waktu’ bersifat subyektif. Menurutnya setiap orang mempunyai pengertian sendiri-sendiri tentang ‘waktu’. Meskipun benar menurut satu orang namun belum tentu benar menurut orang lain.

Ini berarti ‘waktu’ yang kadarnya kita tentukan dengan jam, hari, minggu, bulan atau pun tahun, hanyalah merupakan istilah-istilah yang menggambarkan gerakan Bumi mengelilingi Matahari dan bukan merupakan pengertian ‘waktu’ sesungguhnya.

Pemakaian jam yang kita gunakan saat ini, sebenarnya telah disesuaikan dengan peredaran sistem Matahari dan itu akan berbeda ketika kita berada di Venus yang berotasi selama 225 hari. Sehingga tepat apa yang dikatakan L. Barnet mengutip pernyataan Einstein, bahwa ‘waktu’ tidak dapat diukur. Karena ‘waktu’ hanya merupakan perpindahan simbolik menurut tempat.

Misalnya satu jam di Bumi adalah peredaran Bumi mengelilingi porosnya sejauh 15 derajat. Karena Bumi berupa lingkaran yang mempunyai sudut 360 derajat, maka dalam sehari semalam (satu kali putaran) sama dengan 24 jam. Jadi yang dimaksud satu jam di Bumi adalah gerakan Bumi sejauh 15 derajat.
Dari sebuah pernyataan berikut mungkin kita bisa memahami bahwa ‘waktu’ bersifat relatif.
“Satu jam saat seorang menanti kekasih akan terasa berbeda dengan satu jam ketika ia akan dihukum gantung.”

Lalu mungkin kita bertanya berapa kadar ‘waktu’ yang sebenarnya ? Sampai saat ini belum ada ketetapan yang disepakati para ahli tentang kadar ‘waktu’. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman,

“Dan Dia mengatur urusan dari langit ke Bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Q.S. As-Sajdah: 5)

Dari ayat tersebut jelas sekali perbedaan antara 1 hari yang dimaksud Allah dengan satu hari menurut perhitungan manusia. Satu hari berbanding seribu tahun. Subhanallah !

Semua itu bukan hal yang mustahil, sebagaimana dikemukakan Einstein dalam teori relativitasnya bahwa semakin cepat suatu objek bergerak, maka ‘waktu’ yang dicatatnya semakin pendek dibanding dengan objek yang diam relatif (karena para ahli percaya tidak ada diam yang sebenarnya, semua bersifat relatif).

Perbedaan itu akan semakin terlihat jelas apabila sebuah objek bergerak dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Contoh mudah, misalkan kita akan mengikuti ekspidisi ke tata surya lain yang jaraknya sangat jauh. Kita hanya mampu mencapainya dengan menggunakan pesawat luar angkasa yang mempunyai kecepatan re-lativistik (mendekati kecepatan cahaya). Perlu diketahui bahwa kecepatan cahaya mampu mendekati kebenaran dan independen karena tidak terpengaruh oleh zat perantara. Albert Michelson dan William Moerely (AS) pada tahun 1887 mengatakan bahwa kecepatan cahaya di mana-mana sama.

Misalkan pesawat yang kita gunakan itu berkecepatan 900.000.000 km/jam, mendekati kecepatan cahaya yang bergerak dengan kecepatan 1.080.000.000 km/jam. Maka ‘waktu’ yang ada di pesawat kita akan berjalan lebih lambat dibanding dengan ‘waktu’ di Bumi.

Tidak heran saat kembali ke Bumi ternyata usia kita lebih muda dari usia yang sebenarnya. Kecepatan re-lativistik telah membuat ‘waktu’ dalam pesawat itu ‘memuai’. Einstein dalam teori relativitas khusus-nya (1905) mengatakan, gerak berpengaruh terhadap perputaran ‘waktu’ dan masa suatu benda. Sehingga ‘waktu’ dalam pesawat luar angkasa tersebut lebih lambat dari ‘waktu’ di Bumi. Benarkah begitu ? Wallahua'lam.

Sebelumnya
Berikutnya

Penulis:

0 comments: