Tuesday, November 26, 2019

Gagasan Memerdekakan Pikiran untuk Kaum Perempuan


“Bocah-bocah dimerdekakke pikire” (Anak-anak dimerdekakan pikirannya). Sepenggal kalimat itu dilontarkan tokoh Muhammadiyah dalam sebuah kongres pada tahun 1925. Demikian menurut tulisan Mitsuo Nakamura, profesor asal Jepang yang banyak mengulas gerakan Islam modern di Indonesia. Gagasan tersebut diejawantahkan dalam sistem pendidikan di Sekolah Muhammadiyah pada tahun 1930-an sehingga mampu melahirkan kader-kader bangsa yang melek huruf, nasionalis, teguh beriman, dapat berdaptasi dengan kemajuan dan mahir dalam organisasi.


Tidak terbatas menyasar kaum laki-laki, Muhammadiyah sejak awal juga memperhatikan pendidikan untuk perempuan. Pada 1918 berdiri Standard School Muhammadiyah setingkat dengan sekolah dasar lima tahun. Setahun kemudian dengan dorongan Somodirdjo, seorang aktifis Muhammadiyah, sebagian siswi sekolah tersebut membentuk kelompok Siswa Praya Wanita (SPW) yang pada akhirnya mengilhami berdirinya Nasyiatul Aisyiah, satu di antara organisasi otonom Muhammadiyah. Sebelumnya, pada 1914 dengan dukungan Kiai Ahmad Dahlan dan Siti Walidah terbentuk Sapa Tresna, yang lingkup gerakannya tidak terbatas kepada para siswi, melainkan untuk perempuan umum.

Diilhami oleh Surat An Nahl ayat 97, yang menyuratkan setiap diri memiliki tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya, tidak peduli ia lelaki maupun perempuan. Kiai Ahmad Dahlan memandang perlunya memberi pendidikan agama kepada kaum perempuan.

Langkah awal yang dilakukannya bersama istri, ialah mengundang keluarga dan tetangga dekat mengajak diskusi tentang ayat tersebut. Setelah ada pemahaman yang sama, Muhammadiyah secara terbuka mengimbau kepada warganya untuk memberi kesempatan para istri dan anak perempuan mengakses pendidikan agama.

Baca Juga : Umat Islam Bangkit, Darimana Harus Memulai?

Dalam literatur Jawa, yang kemudian menjadi panduan sebagian masyarakat seperti Serat Baratayuda, Gatholoco, Wedatama, Pantisastra, Candrarini dan Centhini, menyebutkan perempuan lebih diarahkan kepada peran domestik melayani suami, mengurus rumah dan anak-anak. Bahkan dalam pepatah Jawa dikatakan, ‘Wadon iku suwarga nunut, neraka katut’ dengan makna seorang perempuan dapat masuk surga atau terjerumus ke neraka tergantung perbuatan suaminya. Kepatuhan terhadap suami menjadi ajaran pokok yang harus dijalankan seorang perempuan.

Gerakan memerdekakan pikiran yang dilakukan Muhammadiyah berhasil memberikan ruang bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan dan melakukan peran kemasyarakatan. Termasuk aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan. Ketika Gunung Kelud meletus pada 1918 yanng menyebabkan jatuhnya banyak korban dan mengakibatkan penderitaan banyak orang. Perempuan Muhammadiyah ikut terlibat dalam inisiatif pembentukan lembaga Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang memberikan bantuan kepada para korban.

Baca Juga : Kemakmuran yang Mewujud dalam Dua Tahun Lima Bulan

Anggota Sapa Tresna dan Sapa Priya Wanita (SPW) aktif mengurusi dan merawat anak yatim-piatu, atau berorang tua tunggal. Mereka diberi makan, tempat tinggal, dan pendidikan. Sapa Tresna dan SPW jugar merangkul kelompok perempuan lain untuk bersama-sama menjalankan misi kemanusiaan. Hingga kini, kiprah memerdekakan pikiran yang dilakukan Sapa Tresna (‘Aisyiah) dan SPW (Nasyiatul ‘Aisyiah) terus dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.

Deliar Noer mencatat, pada 1925 Muhammadiyah telah berhasil mendirikan 32 standard school, sekolah dasar lima tahun untuk bumiputra, 14 madrasah, 1 schakelschool, sekolah lanjutan lima tahun, bagi lulusan standard school, 1 kweekschool, sekolah tinggi guru, dan 8 Hollands-Inlandse school (HIS), sekolah dasar tujuh tahun dengan mengadopsi kurikulum Belanda.

Tidak berlebihan jika Mendikbud Nadiem Makarim menaruh hormat kepada Muhammadiyah, “Inilah satu hal yang saya hormati mengenai organisasi ini, banyak sekali pemimpin-pemimpin yang hanya berbicara mengenai berbagai macam impian dan berbagai macam isi, tetapi  Muhammadiyah telah menujukkan bahwa dengan kelakuan dengan tindakan yang riil dia berhasil menciptakan bakti sosial.” (Mendikbud Nadiem Makarim, dalam Resepsi Milad Muhammadiyah 107, 18 November 2019 di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). [e]

Referensi :
Pergolakan Putri Islam, Perkembangan Wacana Jender dalam Nasyiatul ‘Aisyiah 1965-2005; Siti Syamsiyatun, M.A. Ph.D., Yogyakarta, Suara Muhammadiyah, Cetakan I, Agustus 2016;
Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta, Pustaka LP3ES, Cetakan kedelapan, Mei 1996)

Sebelumnya
Berikutnya

Penulis:

0 comments: