Sunday, April 14, 2013

Surat untuk Pak Mendikbud : Menggantung Cita-cita di Kaki Langit



Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Hari ini saya membaca running text di televisi sebelas provinsi terpaksa menunda UN untuk SMA gara-gara soal UN belum siap.

Pak Menteri yang bijaksana...
Saya tahu ini bukan karena Bapak sedang keasyikan ngurusi kurikulum 2013, sehingga UN yang bisa dipersiapkan jauh hari ternyata tidak beres. Saya tahu ini juga bukan langkah politis atau untuk pencitraan meskipun konon tahun ini disinyalir sebagai tahun politik. Saya percaya ini bukan merupakan konspirasi untuk menjatuhkan satu orang atau golongan tertentu. Saya menyangka ini hanya persiapan yang tidak sesuai jadwal. Meskipun sayangnya jadwal yang diselisihi adalah UN!

Pak Menteri yang bijaksana...
Tahukah Bapak,  butuh waktu tiga tahun para murid (sebutan ini lebih punya makna ketimbang kata ‘siswa’) untuk menanti datangnya UN.
Tahukah Bapak, sekitar sepekan lalu para murid telah melakukan doa bersama untuk terakhir kali dengan mengharu-biru bercucuran air mata dengan satu harap: Lulus. Meskipun saya tahu nilai kelulusan sekarang tak melulu berdasar nilai UN, melainkan memperhitungkan nilai dari semester 1 hingga semester 5, dan tidak sedikit sekolah yang rela mengubah nilai rapor para muridnya. Ironis.

Bapak Menteri yang bijaksana...
Sekarang seorang ‘penjahat’ sekalipun bisa lulus asalkan nilainya memenuhi batas minimal kelulusan. Seorang yang berkhlak bobrok sekalipun bisa lulus asalkan sesuai kriteria yang ditentukan satu-satunya dengan angka! Lalu dimanakah letak manfaat pendidikan karakter itu? Pendidikan karakter yang konon pencetusnya sendiri adalah seorang yang mengalami depresi?

Oh ya, dengar-dengar bantuan siswa miskin (BSM) untuk tahun ini dipotong ya? Padahal itu bantuan untuk siswa miskin kok ya tega-teganya dipotong.

Saya teringat sebuah dasar dari pendidikan yang akan berhasil ialah jika orang yang belajar kemudian bertambah ketakwaannya. Ilmu bertambah, kedekatan kepada Sang Pencipta juga bertambah bukan sebaliknya. Maka dalam Al Quran diabadikan sebuah rumus khusus untuk memperbaiki kualitas seorang manusia.

...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat... (Surat Al Mujadilah ayat 11)

Jelaslah bahwa iman didahulukan baru kemudian ilmu pengetahuan. Saya bukan pakar pendidikan, guru profesional, atau ahli. Saya hanyalah seorang warga negara yang ikut prihatin dengan kondisi pendidikan di negeri ini. Harus ada revolusi total. Harus ada keteladanan, karena pembelajaran yang efektif adalah melalui keteladanan. Jika guru-guru belum layak diteladani, bagaimana murid akan menjadi baik?

Puluhan juta anak Indonesia sedang menyabung masa depannya di lembaga pendidikan. Mereka sekolah dengan harapan bisa menjadi modal penghidupannya kelak. Di atas jerih payah orang tua yang banting tulang membiayai ongkos pendidikan mereka. Ada yang terpaksa hutang sana-sini demi pendidikan anaknya.

Apakah kita akan memaksa mereka menggantungkan cita-cita setinggi langit? Sedang pendidikan kita masih carut-marut?

Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Sleman, 14/4/2013
#Surat untuk Bapak Presiden (1) : Ketika Allah Menegur Kita



Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Nabi dan Rasul terakhir telah turun, tak akan ada lagi risalah pengganti selain Al Quran dan Al Hadits
Nabi itu bernama Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diabadikan menjadi nama salah satu surat dalam Al Quran. Tepatnya surat ke empat puluh tujuh. Muhammad juga disebut Ahmad, yang jelas lahir di Makkah bukan di tempat lain.

Bapak Presiden yang baik...
Saya tidak bermaksud mengirimkan surat ini langsung kepada Anda, sebab saya tahu tumpukan kertas kerja di meja Bapak tentu telah cukup menyita waktu dan pikiran Bapak. Saya tidak ingin menambah tumpukan itu dengan celotehan tak berarti ini. Sebagai salah satu yang memilih Bapak dalam pemilu lalu, tentu saya ikut punya rasa tanggungjawab akan kepemimpinan Bapak.

Jika Khalifah ‘Umar  pernah menasehati gubernurnya dengan mengirim tulang yang digores dengan pedang, hingga pesan itu membuat sang gubernur gemetar. Ijinkan saya mengirimkan coretan ini lewat dunia maya, semaya harapan saya akan kondisi Indonesia yang lebih baik namun belum juga terwujud.

Bapak Presiden yang baik ...
Hari ini saya membaca berita, tentang seorang anak berusia 12 tahun di daerah Jawa Tengah (Banyumas) yang harus menanggung beban menghidupi ketiga adiknya. Saya juga sering melihat kondisi anak-anak yang harus menempuh puluhan kilometer dan menyeberangi sungai untuk bisa sampai ke sekolah mereka. Kemanakah anggaran pendidikan yang konon 20% itu? Apakah hanya habis untuk membiayai hal-hal tak penting dan tak tepat sasaran?

Ketika saya melewati daerah-daerah di sepanjang jalur pantura arah ke timur, atau jalur selatan arah ke barat. Saya melihat terjadinya kesenjangan yang di luar kewajaran kondisi rumah penduduk yang mampu dan yang tidak mampu. Saya juga miris ketika tahu bahwa jatah beras bantuang pemerintah (raskin) dibagikan kepada mereka yang sebetulnya tak layak mendapatkannya. Kemudian mereka menjualnya dengan alasan kualitas beras yang tidak baik. Regulasi pemerintah harus dikawal sampai ke akar rumput agar tepat sasaran.

Bapak Presiden yang baik ...
Saya mendengar negara kesulitan menanggung beban subsidi BBM, sebagai rakyat kecil saya setuju jika BBM dinaikkan, toh pada praktiknya penikmat  subsidi BBM justru orang berada. Logikanya mudah, orang miskin tak punya kendaraan (mereka naik kendaraan umum, jadi subsidi untuk kendaraan umum saja yang dipertahankan). Lalu untuk apa mereka diberi subsidi BBM? Kompensasi bantuan langsung tunai juga tak tepat sasaran dan tak mendidik. Mereka tak butuh dikasihani, mereka tetap lebih bangga bisa mencari nafkah sendiri. Bekerja dan berkeringat. Jadi lebih baik jika membantu mereka mendapatkan pekerjaan yang layak. Bukan uang tunai.

Bapak Presiden yang baik ...
Saya teringat nasihat Khursid Ahmad yang senada dengan pesan KH. Ahmad Dahlan, “Kegagalan memenuhi kebutuhan kaum fakir miskin, sama dengan mendustakan agama dan hari akhir.”

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Surat Al Maa’uun [107] : ayat 1- 7)