Saturday, April 27, 2019

Yogyakarta, Bukan Lagi Ibukota Kata-kata?

Saya teringat sebuah catatan dari Pak Musthofa W Hasyim, beliau menyebut Yogyakarta sebagai ibukota Kata-kata. Sastrawan yang produktif menulis puisi dan novel tersebut setidaknya punya beberapa alasan.

Sejak awal Kemerdekaan banyak cendekiawan lahir atau besar di Yogyakarta. Mereka menghasilkan tulisan dan karya yang mampu menginspirasi bangsa.

Yogyakarta, Bukan Lagi Ibukota Kata-kata?


Pada zamannya, Malioboro selalu ramai berkumpul para seniman, budayawan dan sastrawan. Jagongan sambil bertukar wawasan, menjadi modal untuk menelurkan karya. Tidak sedikit sastrawan alumni Malioboro yang terus berkiprah hingga kini, satu di antaranya adalah Emha Ainun Najib (Cak Nun).

Lainnya cukup banyak untuk disebut semisal Motinggo Busye, Idrus Ismail, Umbu Landu Paranggi dan tentu saja maestro musik kegemaran saya : Ebiet G. Ade. Pada tahun 1960, Malioboro menyimpan pesoan bagi mereka untuk datang berdiskusi dan berkarya.

Konon, Cak Nun, rela membolos puluhan kali dalam satu semester demi menghadiri jagongan di Malioboro. Untung Ebiet G. Ade, teman se-almamaternya di Muhi tidak se-mbeling Cak Nun.

Yogyakarta, Ibukota kata-kata. Ayat pertama dalam Al Quran yang diturunkan berisi perintah membaca. Iqra', demikian perintahnya. Bacalah! Beruntung, ada sosok KH. As'ad Humam yang mengkaji dan menemukan sebuah metode belajar membaca Alquran dengan mudah dan cepat. Metode ini terbukti efektif hingga kini. Dikenal dengan Metode Iqra' dari Kota Gede Yogyakarta.

Meski hanya belajar sampai tingkat SMP, KH. As'ad Humam berjasa besar karena dengan wasilah temuannya, bisa membantu membebaskan jutaan orang dari buta huruf Alquran di penjuru dunia. Dari Asia hingga Afrika.

Yogyakarta, Ibukota Kata-kata. Shoping, dulu muncul kesan ke shoping ya mencari buku. Baik buku baru maupun loakan. Pengunjungnya dari orang awam hingga dosen. Dari pelajar SD hingga mahasiswa.

Lalu, apakah Yogyakarta masih layak dijuluki Ibukota Kata-kata? Malioboro ramai dengan para pewisata. Shoping tak lagi ramai orang mencari bahan pustaka. Perpustakaan? Seperti tak menjadi daya tarik lagi bagi kaum muda. Minat baca? Bisa diteliti berapa kuat minat baca. Jika sebagai kota pendidikan saja minat baca rendah, bagaimana mungkin menghasilkan generasi emas yang akan membanggakan bangsa.

Butuh kerja besar, untuk menjaga marwah Yogyakarta. Sebelum Handphone dan segala perangkat serupa merenggut segalanya.

Barat || 27 April 2019

Monday, September 7, 2015

September to Remember
untuk: El Jasmine



Apa yang paling kau ingat tentang September?
Adalah runtuhnya dua gedung kokoh WTC
Setelah dihantam pemiliknya sendiri dengan pesawat
Kala itu hari pertama bekerja sebagai perantauan
Di Bekasi, kota yang datang dan pergi tanpa permisi

Apa yang paling kau ingat tentang September?
Tentang hujan, ketika kembang-kembang durian
Satu pe satu mulai bermekaran, kuncupnya indah sekali
Serupa rangkaian kelopak yang bertandan-tandan
Kala itu ibu sering berpesan, selalulah berjalan dalam titian

Apa yang paling kau ingat tentang September?
Tanyamu kala itu, saat langit mulai redup
Dan semilir angin mengalun sayup
Ada tatap mata yang seperti ingin
Mengarahkan alam pikiranku ke momen itu
Lewat perjanjian kokoh dua hati terjalin

Apa yang paling kau ingat tentang September?
Entahlah, tapi aku selalu ingat kamu
Tidak hanya di bulan September

Tuesday, August 18, 2015

Berguru Pada Hujan


Bergurulah pada hujan
Rintiknya membasah
Bila berpadu sinar surya
Menjelma pelangi indah

Bergurulah pada hujan
Derasnya menghunjam
Serupa ribuan jarum menusuk dedaunan
Tapi ia tak menyisakan kehancuran

Bergurulah pada hujan
Berbulan kemarau kerontang
Rekahan sawah ladang
Dihapusnya dalam sekejap

Nduk....
Tapi tujuan akhir hujan bukanlah
Pelangi yang tergelar indah
Atau tanah yang coklat membasah
Melainkan datangnya berkah....
Semoga engkau pun demikian

.:“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat [41] : 39). :.

__ 1 Juli __ tepat ketika sudut kamar itu riuh dengan tangismu

Monday, December 22, 2014

Ibu dan Ilalang


Itukah engkau ibu
Merenungi kisah hujan semalam
Yang tak sempat mengairi
Rekahan kemarau sawah kita
Sementara ilalang kian tegak
Menantang badai
Paras sayu serta alunan do’amu
Mengeraskan kepalaku

Lupa janji bakti yang semestinya aku penuhi.

Thursday, December 11, 2014

Menikmati Kabut di Suplawan





Hari beranjak siang ketika itu
Saat kaki mulai letih sebab jauhnya perjalanan
Di puncak sebuah bukit kami saksikan
Panorama indah nan menawan
Waduk sermo yang berkelpk di antara pegunungan
Tersaji sempurna dalam pandangan


Malam sebelumnya, saat hari mulai gelap
Kami serombongan baru saja tiba
Dalam satu wilayah yang asing dan sepi
Jalan menanjak dan naik turun
Bahkan kendaraan kami terpaksa parkir di sebuah SD
Untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki
Menyusuri setapak di antara tebing dan jurang
Nyaris gelap, dalam senyap
Hanya temaram lampu senter jadi pemandu

Langkah kaki terus berjalan
Puas menikmati eloknya waduk sermo
Kami bergerak ke bukit lain
Menuju gua Suplawan
Konon muka gua ini di Kabupaten Kulon Progo
Sedang ujungnya di Kabupaten Purwarejo
Di ujung gua kami tak menemukan jalan, hanya sebuah lubang


Saya jadi teringat ketika kecil
Bapak sering bercerita tentang petualangannya
Bersama kawan-kawan
Berjalan puluhan kilometer untuk sampai ke Suplawan
Sekarang aku bisa menikmati rupanya
Tak hanya gua yang menawan
Puncak Suplawan tak kalah eloknya
Di pucuk tebing kita bisa melihat hamparan panorama
Tersaji indah bak nirwana
Ditemani hembusan angin kencang
Serta kabut yang kuat menyaput
Suplawan memang menawan!


Tuesday, September 24, 2013

Air Mata untuk Indonesia


Keabuan tanah vulkanik
Kecoklatan humus berbalut daun kering
Menyembulkan aneka rupa pala
Nutrisi bagi generasi bangsa
Jika saja api kerakusan tak menghanguskan

Di laut, ikan menari-nari berkelompok
Rumputnya, hijau berayun
Sebagian bening mengkristal
Garam pun siap dipanen sepanjang tahun
Anugrah luar biasa untuk rakyat
Jika saja hati para wakilnya sedang tidak sekarat

Di hutan, pohon kokoh menjulang
Aneka satwa berirama ceria
Melengkapi kekayaan bumi khatulistiwa
Modal mensejahterakan warga
Jika saja tidak banyak pejabat yang ‘lupa’

Di Papua, gunung emas dikeruk setiap hari
Di angkut ke luar negeri
Di Kalimantan, kayu ditebang
Di bawa kabur ke negeri seberang
Di Sumatra, ada yang tega menjual tanah airnya
Untuk memperluas tanah air negeri lain
Di Nusa tenggara, mereka menghabisi tembaga
Tanpa ampun entah di bawa ke mana
Semua terus saja berjalan seperti tanpa ada masalah
Sebab di Jawa,
Para penggedhe lebih hafal jumlah halaman kertas kerja
Ketimbang apa yang seharusnya mereka kerjakan
Ruang gerak terasa sempit dan terus menyempit
Akibat rapat dan terus merapat
Semoga mereka segera siuman dan bertaubat!


[puisi untuk Sinar, gadis cilik nan tangguh]

Saturday, June 29, 2013

Menjaga Akuntabilitas Cinta


Ketika neraca rasa tak lagi berimbang
Adakah yang perlu direvisi?
Terkadang memang cinta perlu didebet
Lain waktu mungkin perlu dikredit

Akun-akun selalu menawarkan ruang
Untuk kita menaruh harap pada tempatnya
Salah berarti menyelisihi bagan akun standar
Tentu saja tertolak


Malam terakhir dari 20 hari di lantai 4 Ros-In Hotel Yogya

Tuesday, May 21, 2013

Kesejatian Cinta



                Jika cintaku karena rupa
                Lenyaplah ia bersama kecantikan yang sementara
                Jika cintaku tersebab harta
                Luruhlah ia bersama kekayaan yang fana
                Jika cintaku karena nafsu
                Hilanglah ia bersama jasad yang merenta
                Jika cintaku tersebab nasab
                Pergilah ia bersama silsilah yang bertabur duga
                Jika cintaku karena tahta
                Sirnalah ia bersama nasib yang tak tentu masa
                Jika cintaku karena manusia
                Hapuslah ia bersama cacian yang hadir menyapa
                Jika cintaku karena Illahi
                Semoga penuh keceriaan hakiki
                Jika cintaku karena Ar Rahman
                Semoga teriring senyum kebahagiaan
                Jika cintaku karena Ar Rahim
                Semoga berkah selalu terkirim
                Jika cintaku karena Al Maliik
                Semoga dilimpahkan titah terbaik
                Jika cintaku karena Al Qudus
                Semoga rahmat tak pernah putus
                Jika cintaku karena Al Aziz
                Semoga segala rencana berakhir manis
                Jika cintaku karena Al Jabbar
                Semoga dalam duka ada sabar
                Jika cintaku karena Al Latif
                Semoga ada ampun dari semua dhaif
                Jika cintaku karena Allah semata
                Semoga kita terhimpun di taman surga

Tuesday, April 23, 2013

Sajak Bali #1



Barisan sajak urung kutulis di sini, Bali
Detak rasa penasaranku kau sambut dengan arca,
Aroma dupa dan bunga aneka warna
Lalu elokmu termakan rentetan kendaraan
Seperti  patung tak bisa apa-apa
Pasrah dalam kepadatan lalu lintas tak kenal ampun
Kukira elokmu bak panorama di tivi
Sawah, gunung, dan laut silih berganti
Tapi kini bayangku buyar oleh pendar suasana
Yang tertangkap buram mata
Atau hanya aku sendiri yang tak bisa
Menikmati rupamu dalam tafsir berbeda
Bali, pada suatu hari
Untuk Sebuah Keabadian


Monday, March 29, 2010 at 7:54 pm

relakan yang sebentar untuk yang abadi
menunda yang sementara untuk yang kekal
sebab sesal di akhir nanti tiada guna
bagai kelopak ingin menguncup lagi

harga sebuah bahagia hakiki memang mahal
tak tertebus oleh harta, raga dan nyawa
tak terbeli oleh kilauan permata
hanya rahmatNya sebagai harapan

ambil yang banyak sisihkan yang sedikit
raih yang baqa' abaikan yang fana
karena keduanya sulit bersama
dalam satu hati saling setia

untuk sebuah keabadian
tak pantas berlaku permainan
bermalas diri dengan berbagai alasan
menunda-nunda berbuat kebaikan

untuk sebuah kebadian
mesti menjaga ritme iman
agar senantiasa dalam batas kewajaran
tak serendah hewan dalam kehinaan

untuk sebuah keabadian
bertetap hati menggenggam tauhid
berakhir hidup dalam syahid
lalu memetik janji surga-Nya

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (At Taubah [9]: 111)
Harapanku


Dalam senja yang kian merona...
Aku inginkan satu kenangan yang indah...
Dalam dekap gema adzan yang menyahut di muka bumi...
yang mungkin terdengar sampai langit ke tujuh...
Aku kian mengerti...diri ini hanya sebuah daging...
yang sampai waktunya nanti...Kau akan mintakan kesaksian...

Satu demi satu aku merasakan nikmat yang tiada terputus...
Dari-Mu...Oleh-Mu...Untuk-Mu...
Doa dan harapan akan selalu ku panjatkan...
Robbi...Ya Dzal jalali wal ikram....

Puisi Istriku: Sulistri el Jasmine

Thursday, April 18, 2013

Senja di Dermaga



Untuk kesekian senja
Di tepi dermaga ini
Masih saja kumengeja
Menduga makna kata setia
Sementara bahteramu semakin jauh
Diantarai jarak tak tertempuh
Dan bayangmu tenggelam perlahan
Tertelan gelombang samudra.
Tertahun 2003
Karena Ketidakmungkinan Itu Indah



semua mungkin bisa terjadi
tapi aku tidak tahu pasti
mana yang mungkin untukku
mana yang tidak mungkin untukku

karenanya kujalani hidup penuh harap
harapan hanya kepada-Mu
harapan yang tidak menyisakan luka
kecewa apalagi air mata

semua mungkin bisa terjadi
tapi mungkin juga tidak
maka ku pilih satu takdirMu
lalu bertawakal penuh kepada-Mu

karena pengetahuanku tak sanggup menjangkau
rahasia yang telah Engkau siapkan
tetapi aku yakin itulah yang terbaik
dalam pandangan dan rencanaMu

semua mungkin bisa terjadi
tapi mungkin juga tidak
maka kukirimkan untaian doa
dalam relung hati menggema
meminta yang terbaik hanya padaMu
sebab bagi-Mu tiada yang tidak mungkin
'kun fa yakuun'

Monday, March 22, 2010 at 8:33 pm
Kembang Sepatu Depan Rumahku



Usai hujan semusim
Tunas baru meranting
Rimbun daun menghijau
Berkuncup-kuncup

Kuncup itu kini tlah mekar
Bertangkai hijau
berkelopak Pink
Indah, indah sekali

Ingin kupetik setangkai
Kupersembahkan untukmu

untukmu yang berwajah ayu
untukmu yang melahirkan rindu
untukmu yang membuat aku terpaku

Dengan senyum kau tawan aku
Dengan luhur budi kau pikat aku
Dengan lembut sapa kau jerat aku

Tapi aku tahu kau tidak suka pink
"Aku lebih suka biru" itu katamu.
Perjumpaan Cinta



Gemetar yang meluruh itu
Bermula dari sepasang mata
Biarpun kita gamang memaknainya
Namun pertemuan demi pertemuan
Tlah terlintas memaknai cinta
Rasa yang Tertahan


Jalan itu tetap becek berlumpur
Seperti setahun berlalu
Menguak harap yang terkubur
Di bawah rimbun rumpun bambu

Langkahmu tak jauh beda
Beriringan senyum dan tawa kecil
Memberi sesak ruang dada
Bak kuntum mekar tak hasil

Ceritamu masih itu juga
Episode yang sulit kumengerti
Sekuat rasa menduga
Apa yang kau simpan di hati

Esok ketika jalan tlah mengering
Berdebu, keras membatu
Dalam suasana sedikit hening
Kan kuungkap lagu rinduku

Wednesday, April 17, 2013

Menunggu Jawab



Di remang mentari senja
Terbungkam tak berkata
Renungi galau jiwa
Menakar rasa di dalam dada

Lewat sepucuk surat
Rasa hati tlah kuungkap
Tinggal kini menunggu jawab
Bersama ragu yang penuh harap

Yang Tersisa Sehabis Puasa


Adalah bedug bertalu-talu
Yang membangun kesadaran
Akan ramadhan yang berlalu
Masihkah ada harapan di tahun depan?

Adalah takbir gema-menggema
Yang menyurutkan diri
Penuh tanda dan tanya
Benarkah kita kembali fitri?

Adalah puasa yang melatih
Agar tajam kepekaan bathin
Kepada mereka kaum mustad'afin
Yang diam-diam memendam perih
                  
Adalah syawwal menjadi awal
Memulai langkah perbaikan
Agar tak menjadi batal
Kemenangan yang baru saja dirayakan


Tuesday, April 16, 2013

Kesangsian



Apakah kau masih sangsi
Pada keabadian
Sedang usia terus melukis
Garis antara hidup dan mati

Apakah kau masih ragu
Sebuah perjalanan panjang
Tergelar di pelataran senja
Ketika waktu kian purba