Tuesday, March 19, 2019

Mencicipi Soto Sutri Purwokerto

Saya tidak termasuk penyuka soto. Sehingga Soto biasanya tidak menjadi pilihan pertama dan utama. Namun karena jajan bareng bersama teman-teman saat ke Purwokerto pada medio Maret lalu, akhirnya saya setuju saja diajak makan di warung soto. Lokasinya cukup ndelik, di pinggir jalan kampung, bahkan kendaraan harus parkir di badan jalan. Tentu saja mengganggu lalu lintas dan merampas hak pengguna lain.

soto sutri purwokerto
Soto Sutri 2, Purwokerto

Soto ini sepertinya cukup terkenal, buktinya ramai pembeli meski harganya bisa dianggap mahal. Satu porsi harganya sekitar Rp 20-25 ribu. Meski begitu, sepadan dengan rasa dan isinya. Kuahnya yang kental, daging sapinya yang banyak, ditambah dengan bumbu yang sedap, cukup menggugah selera.

Soto Sutri namanya, dan saya mampir di warung Soto Sutri 2, katanya memang ada dua warung Soto Sutri. Berbeda dengan soto pada umumnya yang menyajikan nasi. Soto sutri menggunakan lontong sebagai pengganti nasi. Sambelnya pun terbuat dari sambel kacang. Sehingga saya pun sempat merasa heran.

Bagi Anda yang berminat, silakan bisa mampir dan mencicipi. Bisa mencoba lauk dengan sajian telur puyuh, atau peyek. Sambil mencicipi teh atau minuman jeruk hangat.

Wednesday, March 13, 2019

Cara Menggunakan Toilet dan Wastafel Hotel Berbintang
Beberapa hotel memilih menggunakan toilet dan wastafel dengan bentuk dan cara penggunaan yang tidak lazim. Tidak heran bila sebagian merasa kebingungan saat menggunakannya.

cara menghunakan toilet hotel berbintang


Beberapa waktu lalu, saya mengikuti acara di Purwokerto dan menginap di hotel cukup mewah, Java Heritage Hotel. Letaknya cukup strategis, bangunan dan interiornya menurut saya lumayan artistik.

Nah, di sini toiletnya agak berbeda. Karena tombol untuk kran airnya tidak menyatu dengan closed, melainkan tertanam di tembok.



Biasanya secara umum, untuk membedakan jenis aliran airnya dibuat tombol yang berbeda ukuran. Ukuran kecil untuk kucuran air sediktlit dan tombol besar untuk menyentor buang air besar.

Sedangkan wastafel, kran terdiri dari dua kran. Umumnya sebelah kanan untuk air dingin dan sebelah kiri air panas. Air dingin ditandai dengan warna biru, hijau, kuning atau putih. Sedang air panas dengan warna merah.

Apabila lubang pembuangan di wastafel tertutup, cobalah lihat di bawah wastafel biasanya ada semacam tuas kecil untuk mendorong tutup wastafel.

Semoga bermanfaat.

Friday, March 1, 2019

Belajar Ngeblog di Kampung Blogger Magelang

Pernah dengan Kampung Blogger? Kisahnya pernah beberapa kali diangkat menjadi berita di televisi nasional. Keberhasilan kampung ini dalam memanfaatkan internet dan melakukan bisnis secara online telah menginspirasi banyak orang.

Satu di antara tokoh yang turut membesarkan Kampung Blogger ialah Sumbodo Malik. Atas kerja kerasnya, ia diganjar banyak penghargaan. Kini  Kampung Blogger yang terletak di Menowo Kota Magelang terus mengembangkan sayap usaha. Satu di antaranya ialah mengelola Skylight Plaza yang terletak di JalanTentara Pelajar Magelang, tidak jauh dari alun-alun Kota Magelang.



Menurut Mas Tomo, seorang di antara pengelola, Skylight Plaza ini akan disulap menjadi Pasar Seni. Saat ini memang telah buka beberapa gerai semisal Galeri Batik Soemirah, Asto Kriyo Souvenir dan Craft, serta penyedia aksesoris lainnya. Selain itu terdapat warung kuliner mulai Bakso, Sego Pecel, Bakmi dan makanan lainnya.



Dan tentu saja, satu di antaranya merupakan tempat kita bisa belajar Ngeblog. Sehingga kita bisa belajar di sini, sebagai alternatif selain datang langsung ke Menowo.

Belajarlah Pada Ahlinya

Di era ini, untuk belajar pada ahlinya memang tidak begitu sulit. Karena beragam guru, suhu dan master tersedia di jagad maya. Bahkan ahlinya-ahli, intinya-inti, core of the core juga adadi Youtube.

Tidak sedikit orang yang kemudian belajar secara otodidak dan berhasil. Sedangkan saya masih termasuk aliran yang menjadikan kesungguhan usaha sebagai bagian dari keberhasilan. Misalkan kita ingin belajar menjadi blogger. Tutorial di internet tentu banyak dan beragam. Bahkan panduan dalam bentuk e-book juga tersedia secara gratis.

Meski begitu, saya tetep seneng dan butuh guru secara nyata, bukan hanya virtual. Satu di antaranya dengan belajar langsung ke Kampung Blogger Magelang. Memanfaatkan di sela hari kerja. Sehingga mengambil waktu di akhir pekan. Nglaju dari Yogyakarta ke Magelang. Lumayan, dengan sepeda motor perjalanan memakan waktu sekitar satu jam.

Pertemuan pertama, ngobrol banyak seputar dunia online. Dan tampaknya cukup nyambung sebab fokus pada pengembangan blog untuk adsense. Sehingga sesuai dengan yang ingin saya pelajari. Beberapa tahun lalu pernah pula belajar ke teman, tetapi lebih memilih admob, dan saya tidak begitu mampu mengikutinya. Kurang sesuai hobby dan passion saya untuk beraktualisasi.

Di Kampung Blogger cukup unik. Sebab langsung diajari untuk membuat blog dengan konten Bahasa Inggris. Sesuatu yang tidak mudah, tapi bagi saya cukup menantang. Di sinilah beberapa waktu ke depan, insyaAllah saya akan belajar dan mengembangkan diri menjadi Blogger.

Sampai jumpa di cerita berikutnya.


Saturday, February 2, 2019

Daftar Barang dan Hal Dilarang Paspampres

Daftar barang dan hal dilarang Paspampres. Sering lihat orang-orang foto selfie dengan background Presiden atau Wakil Presiden? Kalau saya sepertinya belum pernah meskipun di banyak kesempatan memungkinkan untuk melakukannya.

Dalam setiap kegiatannya Presiden dan Wapres selalu dikawal oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Paspampres dibentuk sejak Proklamasi Kemerdekaan RI untuk mengawal pemimpin negara, namun secara resmi ditetapkan 3 Januari 1946, untuk mengenang operasi penyelamatan pimpinan nasional akibat pendudukan kembali Jakarta oleh Belanda.



Pada tanggal 3 Januari 1946 petang para pemimpin nasional berangkat dari Jakarta menuju Yogyakarta menggunakan kereta api dengan pengamanan ketat TNI dan Polisi. Presiden, Wakil Presiden dan para pemimpin nasional tiba di Yogyakarta pada 4 Januari 1946 dengan selamat. Untuk mengenang peristiwa tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Paspampres.

Nah, untuk mengikuti acara yang menghadirkan Presiden dan Wakil Presiden ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.

Pertama, tepat waktu. Pastikan Anda datang tepat atau lebih awal dari waktu yang tertera di undangan. Apalagi jika acara di dalam gedung atau stadion, telat berarti siap-siap dihadang Paspampres. Biasanya, satu jam sebelum acara dimulai undangan sudah wajib hadir.

Kedua, bawa undangan/ID Card/Co Card dan semacamnya yang resmi dari panitia. Tidak peduli seberapa pentingnya Anda, jika tidak sesuai prosedur pasti akan dilarang masuk. Wartwawan pun harus tunduk pada aturan ini. Tidak cukup dengan kartu pers, karena tetap harus membawa ID Card/Co Card dari panitia kegiatan.



Ketiga, gunakan sepatu jangan memakai sendal dan sesuaikan dresscode, ini berlaku jika acara di dalam ruangan. Memakai sendal dianggap tidak sopan. Jika terlanjur memakai sendal dan tidak membawa sepatu, pastikan saat masuk bersama kerumunan sehingga tidak mudah terlihat oleh Paspampres. Kebiasaan saya memakai sendal, jadi pernah suatu ketika pinjam sepatu ke teman, yang penting bisa melewati Paspampres dulu, kemudian sendal bisa ditukar melalui lubang yang tersedia #ups.


Keempat, jangan mengambil foto sembarangan, apalagi menggunakan blitz. Karena akan dianggap mengganggu dan siap-siap ditegur Paspampres.Pengambilan gambar sudah ditentukan tempatnya, biasanya sudah ada tulisan atau pembatas khusus.

Kelima, saat memasuki lokasi, Anda akan melewati pemeriksaan dan metal detector. ada beberapa barang yang pasti akan disortir dan tidak boleh dibawa masuk, jadi sebaiknya Anda simpan sebelum diambil Paspampres. Beberapa barang yang diambil di antaranya :
Korek api, dengan berbagai jenisnya.

Vapor atau roko elektirk, dengan beragam bentuknya
Gunting/Silet/Pisau dan senjata tajam lainnya, termasuk jarum dan peniti.
Botol parfum dan semacamnya.
Obat-obat tertentu, jadi jika tidak urgen mendingan tidak membawa obat.
Dan lain-lain.

Nah itu tadi beberapa barang dan hal yang perlu diperhatikan jika menghadiri kegiatan yang dihadiri Presiden dan Wakil Presiden. Semoga bermanfaat.

Sunday, January 27, 2019

Berburu Sunrise di Puncak Sikunir Dieng


Di ujung Januari, rupanya kami datang di hari yang tepat. Sejak pertama sampai ke Dieng hujan tidak turun. Padahal menurut cerita para pewisata yang pernah ke sini, hujan dan kabut seperti peneman keseharian dataran tinggi Dieng. Kami menginap di homestay sederhana tidak jauh dari Candi Arjuna. Dengan kapasitas sekitar 30-an orang, tempat ini lumayan recommended. Bersih, rapi, dilengkapi TV dengan antena parabola sehingga siaran yang diterima jernih, meski chanel terbatas. Di kamar mandi pun tersedia pemanas dengan tenaga gas LPG. Unik dan kreatif.





Untuk melihat matahari terbit di Puncak Sikunir kami harus menggunakan kendaraan. Bis kecil berkapasitas sekitar 20 orang mengantar kami berpagi menuju lokasi. Jarum jam masih di angka 03.08 ketika kami berangkat. Menempuh perjalanan dalam gelap dan kabut, dengan kontur jalanan berliku menanjak dan sempit. Tampak beberapa kendaraan lain yang kesulitan menapaki rute. Mungkin belum terbiasa.

Sampai di lokasi, dingin menyergap. Belum lagi angin yang kencang terus menerpa. Jaket dan segala perlengkapan pakaian hangat yang kami kenakan seolah tak mampu menghalau hawa dingin. Di lokasi parkir, tersedia banyak pedagang yang menawarkan perlengkapan, mulai kaos tangan, kaos kaki, syal, jaket dan lainnya. Sehingga cukup membantu, jika memang tidak persiapan dari awal.

Sekitar sepuluh menit menunggu, kami beranjak naik. Melewati deretan warung dengan jalan paving blok. Sebelum akhirnya menaiki undakan berbatu. Satu demi satu. Menurut pemandu jumlah anak tangga yang mesti kami lalui ada sekitar 400 anak tangga. Hanya saja beberapa bagian tidak berundak sehingga untuk sampai di Pos satu cukup menguras energi.

Undakan berbatu yang agak licin di tepi tebing dan penerangan yang minim mengharuskan kami untuk ekstra hati-hati. Sekitar 25 menit kami sampai di pos satu. Di sini, telah antri puluhan orang untuk shalat shubuh di sebuah mushalla yang kecil. Tempat wudhu terbatas, sehingga mesti sabar. Sebagian lain memilih untuk tayamum.

Pos satu juga menjadi pilihan bagi mereka yang tidak sanggup meneruskan perjalanan, di sini ada spot untuk foto-foto sambil menanti matahari terbit. Bagi yang masih kuat, memilih melanjutkan ke Pos dua. Jalan menuju ke sana lebih tidak beraturan, sebagian undakan berbatu, sebagian tanjakan dengan tatanan batu cukup licin, sebagian jalan becek, dan sebagian lagi undakan tanpa alas batu sehingga perlu bantuan tali dan kayu untuk berpegangan.

Rutenya tidak terlalu panjang, sekitar 20 menit kami sudah sampai di pos dua. Agak kebingungan karena ada beberapa spot untuk menunggu sunrise dan tidak ada petunjuk manakah yang menjadi puncak Sikunir. Tersedia musholla, bagi yang belum shubuh di pos satu bisa shalat di sini. Cukup lama kami menunggu matahari terbit. Duduk di atas bebatuan sembari merasakan hembusan hawa dingin.

Setelah sekitar satu jam menunggu, akhirnya matahari menampakan sinarnya dari balik awan dan kabut. Tampak sebentar kemudian hilang. Begitu berulang. Hingga kami putuskan turun, hanya sebentar kami bisa menyaksikan sinar matahari. Perjalanan turun agak mendingan, karena cuaca terang. Hanya tetap butuh kehati-hatian karena jalanan licin dan sebagian undakan tanah belum diperkeras dengan batu.

Sepanjang perjalanan dari bukit Sikunir ke tempat parkir tersedia banyak warung kuliner. Anda bisa mencicipi aneka gorengan, olahan kentang ataupun minuman khas Dieng, Carica dan Purwaceng. Atau memborong hasil pertanian paprica, kentang dan terong belanda. Kami memutuskan untuk mencicipi gorengan ditemani secangkir kopi hitam di deretan warung, seberang telaga Desa Sembungan.

Kelak, kami akan ceritakan tentang Desa Sembungan. Negeri di atas awan yang dijuluki desa tertinggi di Pulau Jawa.

Silakan untuk menikmati foto-foto : Tapak Demi Tapak Menuju Puncak Sikunir

Tapak Demi Tapak Menuju Puncak Sikunir
Sepanjang perjalanan dari bukit Sikunir ke tempat parkir tersedia banyak warung kuliner. Anda bisa mencicipi aneka gorengan, olahan kentang ataupun minuman khas Dieng, Carica dan Purwaceng. Desa Sembungan di kaki Sikunir berketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut. Sehingga puncak Sikunir mungkin di kisaran 2.500-2.600 meter.

































Saturday, August 4, 2018

Mimpi Kota Kopi Menjadi Pusat Literasi

Sepekan di Pontianak lebih dari cukup bagi saya menangkap ‘keganjilan’ yang jarang ditemui di Jawa. Deretan warung kopi yang mendominasi sepanjang sisi jalan. Bahkan di satu tempat, Jalan Gajah Mada, dinamai Gajah Mada Coffe Street. Tampaknya warung kopi memang menjadi andalan kota ini.

Ngopi bersama kawan-kawan di Pontianak

Di malam awal, bersama seorang kawan menyempatkan mencari warung kopi paling jos. Dengan bantuan driver Go Car, ditunjukkanlah warung kopi yang konon pernah disinggahi orang-orang penting di nusantara. Dari banyaknya pengunjung yang datang, mungkin ratusan, menandakan warung ini memang terkenal dan laris. Untuk menikmati satu cangkis kopi saya mesti rela menunggu hampir setengah jam. Langsung bayar, dengan kisaran harga Rp 11 ribu per cangkir.

Ada rasa heran, bukan karena harga, melainkan betapa betahnya para pengunjung duduk berjam-jam ditemani satu cangkir kopi. Sebagian mengobrol, merokok. Sebagian banyak lainnya asyik bermain gadget. Saling membisu meski satu meja dengan kawan.

Kota Kopi Tanpa Kebun
Di hari selanjutnya saya diajak jagongan bersama kawan-kawan. Banyak berasal dari Jawa tetapi lama tinggal di Kalimantan Barat. Ada yang dari Ponorogo, Banyuwangi, Kebumen, dan Gunungkidul. Bercakap akrab, seperti saudara yang lama tidak berjumpa. Di tengah obrolah, seorang kawan menerangkan. Minum kopi (ngopi) telah menjadi kebiasaan banyak warga.

Rumusnya cukup unik. Bagi para pegawai kantoran, umumnya jam masuk kerja telah berada di kantor untuk melakukan presensi pagi. Setelah itu mereka mencari warung kopi untuk jagongan. Lama dan tidaknya tergantung situasi. Apa yang saya lihat seperti menggenapi kebenaran cerita itu. Selama ngopi saya melihat beberapa rombongan pegawai/karyawan dengan seragam mampir mencari makan atau ngopi. Sedang bagi para wirausahawan waktunya lebih fleskibel. Di Pontianak kita bisa menemukan warung kopi yang buka sebelum subuh.

Dari cerita seorang kawan, kopi-kopi itu ternyata tidak dihasilkan dari kebun kopi di sekitar Pontianak. Bahkan kota ini lebih di kenal dengan penghasil tanaman lidah buaya. Katanya, kopi-kopi didatangkan dari Sumatra dan Jawa.

Kopi Inspirasi
Jika membaca sejarah para ilmuwan zaman dulu, kita akan menemukan banyak dari mereka pun menyukai kopi. Bedanya, kopi-kopi itu menjadi teman dalam pembelajaran. Membaca atau menulis buku (kitab). Dalam laman sehatbersamaislam.blogspot.com disebutkan, kopi konon merupakan salah satu minuman yang digemari para ‘ulama, selain susu dan madu. Memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan. Jika dikonsumsi secara teratur dan tidak berlebihan, kopi bisa menjaga kesehatan. Bahkan sebagian ‘ulama zaman dulu juga mengkonsumsi kopi untuk menambah kebugaran mereka saat belajar dan beribadah.

Dalam sebuah syair dilantunkan, “Kopi memang hitam tapi menyalakan semangat, bahkan memancarkan cahaya. Hitamnya kopi membuat hati orang-orang kelas tinggi memutih, sehingga mereka terpuji, melebihi kebanyakan manusia.”

Umat Islam ternyata juga  menjadi bagian dari ditemukannya kopi sebagai minuman yang banyak digemari orang.  Dalam sebuah manuskrip disebutkan, pada abad ke 15 kopi mulai dibawa oleh orang Yaman dari Ethiopia. Di Ethiopia sendiri kopi sudah dikenal sejak 800 sebelum masehi. Mereka mengkonsumsi kopi yang dicampur dengan anggur dan lemak hewan sebagai sumber protein dan energi. Sedangkan ilmuwan muslim Ar Razi dan Ibnu Sina mengungkapkan kopi telah dikenal di kalangan muslim sejak awal abad ke 10.

Kopi sendiri berasal dari bahasa Arab yakni qahwah yang berarti kekuatan, sebab memang kopi diyakini sebagai sumber energi. Kata qahwah berganti menjadi kahveh (Turki) dan koffie (Belanda). Ini yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kopi.

Saya kemudian membayangkan, jika para penikmat kopi di sini menyeruput kopi sambal mengakrabi buku atau menuliskan ide-ide inspiratif mereka dalam lembaran kertas. Saya percaya, puluhan judul buku akan lahir di setiap harinya. Dan kota ini layak dipuji sebagai kota literasi.

Pontianak, 4 Agustus 2018


Wednesday, November 22, 2017

Merasakan Konsep Minimalis POP! Hotel BSD City
Malam mendekati larut saat saya sampai di POP! Hotel BSD City. Perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta menjelang magrib membuat mobil yang saya tumpangi harus relas berbagi ruas jalan dengan para pekerja pulang kantor. Hasilnya, bisa ditebak: macet. Usaha untuk melalui jalur alternatif tak banyak membantu, sebab umumnya kondisi jalanan ibukota dan sekitarnya selalu begitu.

Rencana awal dari Bandara Soetta saya langsung ke POP! Hotel, sekedar meletakkan bawaan dan mandi. Nyatanya waktu tempuh yang diperkirakan maksimal 90 menit molor menjadi lebih dari dua jam. Jadilah saya bersama rombongan langsung menuju lokasi acara di Indonesia Convention Exibhition (ICE) BSD City. Untungnya kami menyewa mobil di Parkir lantai empat Bandara untuk berlima, padahal semula ingin pesen Go Car, sehingga lebih fleksibel dalam mengubah-ubah tujuan. Dengan tariff Rp 200 ribu, sudah termasuk parkir, sebanding dengan layanan yang kami terima. Jika menggunakan Go Car, jarak Soetta sampai BSD sekitar Rp 108 di luar biaya parkir dan tol.






Usai acara kami bergegas ke Hotel. Sekitar jam sepuluh kami sampai di Hotel, setelah cek in dan masuk ke ruangan, kesan minimalis sangat terasa. Tampak dari ketiadaan almari, tidak ada meja, serta wastafel yang ada di pojok ruangan mengesankan memang ada konsep minimalis. Belum lagi ketiadaan sandal hotel yang biasanya tersedia. Tetapi yang paling unik adalah kamar mandi yang menurut saya semi portable, karena serupa tabung dengan setengah lingkaran yang terbuat dari bahan seperti plastik. Dengan diameter sekitar 1,5 meter, sehingga hanya cukup untuk menempatkan closet duduk serta shower.

Menikmati Nasi Uduk

Sarapan pagi, kami disuguhi nasi dengan bungkus daun pisang. Alas makan tidak menggunakan piring kaca melainkan terbuat dari anyaman bamboo serupa dengan yang sering kita jumpai di warung lesehan pinggir jalan. Menu yang disajikan cukup sederhana, nasi uduk, secuil telur goreng, bala-bala dengan sayur kentang pedas. Tersedia juga kerupuk dan sambal. Mungkin ada juga semacam sup atau sejenis. Tersedia juga roti tawar dengan pilihan selai aneka rasa.

Untuk sarapan, kami harus mengatri. Karena tempat yang terbatas, belum lagi banyak di antara tamu yang asyik mengobrol seusai sarapan. Seperti enggan beranjak dari ruang sarapan, padahal banyak tamu yang kebingungan mencari tempat duduk untuk makan.
Untuk ukuran orang dewasa, mungkin porsi yang disajikan kurang mengenyangkan. Tapi cukup untuk mengganjal perut, sampai menemukan warung makan. Bagi saya sendiri, menu yang disajikan menggiring memori ke 2001 silam, saat menjadi buruh pabrik di bilangan Cibitung Bekasi. Pasalnya, nasi uduk dan bala-bala menjadi menu wajib setiap pagi.







POP! Bisa Menjadi Alternatif


Meski jaringan POP! Hotel telah meluas di berbagai kota, tapi baru kali ini saya menginap di POP! Hotel. Dengan konsep minimalis, POP! Hotel menjadi alternatif sebanding dengan harga yang ditawarkan. Bila kita cari di google, harga POP! Hotel BSD di kisaran 350-an ribu. Dengan tarif itu, kita bisa menikmati layanan hotel yang cukup baik. Lokasi hotel pun dekat dengan beberapa Mall di BSD. 

Thursday, March 16, 2017

Sebelum Yogya Berhenti Nyaman

Malioboro dengan segala sisi uniknya seperti magnet yang menarik wisatawan dari penjuru Nusantara untuk menapakinya. Tak kurang dari puluhan lagi tercipta dari sebuah jalan yang tak terlalu panjang ini. Mulai dari lagu renyah khas Doel Sumbang sampai dengan langgam campursari ala Didi Kempot. Doel Sumbang, penyanyi kelahiran Bandung menawarkan irama ceria dalam lagunya, Malioboro, berduet dengan Nini Carlina.




Sementara Didi Kempot, mengabadikan kisah di Malioboro lewat tembang, Bangjo Malioboro, sebuah tembang yang sempat memenuhi request radio-radio di seputaran Yogya, Jateng dan sekitarnya. Selain itu sederetan musisi juga berkarya terinspirasi oleh Malioboro. Ini sebagian lirik tembang Mas Didi Kempot,

Lampu bangjo ing prapatan Malioboro
Nganti wengi aku dewekan nok kono
Lalu lintas pating sliwer maniko warno
Do rak ngerti rasane ati ing dodo

Maliboro seksono lelakonku
Nganti saki tresnaku ro sliramu
Tansah tak siram tetesing eluhku
Nganti suk kapan sliramu eling aku....

Hanya saja saya masih bingung dengan maksud Mas Didi Kempot dengan bangjo (traffic light) di perempatan Malioboro. Mungkinkah yang dia maksud adalah titik nol kilometer alias perempatan kantor pos? Entahlah.

Dan.... yang pengen saya bahas sejatinya bukan tentang Malioboro, melainkan jalan lain menuju Malioboro. Sejak beberapa bulan terakhir kita tidak bisa sembarangan parkir kendaraan bermotor di Malioboro. Trotoar difungsikan semaksimal mungkin untuk para pejalan kaki. Langkah yang menurut saya tepat. Bahkan konon para karyawan di seputaran Malioboro pun mesti cari alternatif tempat parkir lain, di antaranya dengan sewa halaman rumah di kampung seputaran Malioboro. Tarifnya sekira 50 ribuan untuk satu bulan.

Untuk Anda yang bersepeda motor bisa diparkir di area parkir Abu Bakar Ali (ujung utara Malioboro, timur Stasiun Tugu), parkir selatan Pasar Beringharjo, atau di timur Taman Pintar. Sedangkan mobil bisa di Selatan Pasar. Nah yang jadi soal adalah Bus Pariwisata, jika beruntung maka bisa diparkir di dekat Bank Indonesia. Hanya saja lahan parkir di sini terbatas. Maka biasanya Bis diarahkan ke taman parkir Ngabean yang jauhnya sekira 1 km dari Malioboro.

Bisa Anda bayangkan para wisatawan harus berjalan sekira satu kilometer dari lokasi parkir? Penderitaan mereka belum usai, karena trotoar yang harus mereka lalui bukan trotoar biasa, melainkan trotoar serbaguna. Sebagian menjadi lahan parkir, sebagian menjadi emperan toko, sebagian tertutup warung makan, sebagian lainnya menyempit akibat bangunan yang menjorok ke badan trotoar. Intinya tidak nyaman blas (sama sekali_red).

Belum lagi, jalan antara tempat parkir Ngabean dengan Malioboro yang dinamai jalan KH. Ahmad Dahlan, memiliki fungsi ganda sebagai lokasi parkir kendaraan di badan jalan. Tak tanggung-tanggung terkadang kanan-kiri jalan dipakai untuk parkir mobil. Maka semakin semrawutlah jalan KH. Ahmad Dahlan. Terkadang saya berpikir di mana letak kenyamanannya?

Untuk itu monggo kepada Pak Walikota yang baru saja terpilih, jika tidak mampu membuat nyaman seluruh trotoar di Yogya yang memang mengenaskan, paling tidak ada prioritas untuk membenahi trotoar  yang paling banyak dibutuhkan. Satu di antaranya adalah trotoar di sepanjang KH. Ahmad Dahlan (antara Pakir Ngabean – Malioboro).


Kita telah kehilangan gelar sebagai kota sepeda, meskipun di jalanan kita buatkan jalur sepeda dengan batas warna kuning. Selain sudah jarang pesepeda toh jalur itu pun sukses untuk ruang parkir mobil dan motor. Jalur alternatif dan ruang tunggu sepeda juga tidak membantu, karena kita telah kehilangan para pesepeda. Jangan sampai kita juga kehilangan julukan ‘ Yogyakarta berhati nyaman’. 

Monday, November 30, 2015

Bunga Amarilis dalam Serbuan Generasi Narsis




Kebun Bunga Amarilis di Patuk Gunung Kidul tetiba menjadi tersohor. Peran media sosial terbukti ampuh menjadi ajang promosi. Puspa Patuk demikian kemudian dikenal. Tidak ada yang istimewa dengan bungan amarilis. Apalagi jenis bunga ini banyak ditanam orang awam. Hanya saja jika jumlah ribuan dan ditanam di lahan luas, maka musim bermekarannya menjadi istimewa. Begitu juga yang terjadi di Patuk Gunung Kidul.

 
sumber: www.angkisland.com

Sayangnya bunga yang hanya bemekaran di musim penghujan itu tak berusia panjang. Semestinya bisa bertahan satu sampai dengan dua pekan dalam kondisi normal. Namun, injakan kaki kaum narsis telah mempercepat ajalnya. Bunga-bunga tak berdosa itu terinjak-injak dan sengaja diinjak demi memuaskan kaum narsis untuk berselfie ria. Lalu mengupload ke media sosial dengan bangga. “Lihatlah aku!”

Kondisi ini hampir serupa dengan maraknya pendakian gunung di seantero jawa. Mereka yang semula dan bahkan tak tertarik sedikitpun dengan pendakian mendadak turut serupa pecinta alam yang sedang menikmati keagungan Tuhan. Tapi dasarnya narsis, sehingga yang mereka ambil gambar dan foto-foto personal dengan meninggalkan persoalan lingkungan. Sampah mereka buang sembarangan, bara api ditinggal begitu saja sehingga memicu kebakaran hutan.

Kisah para pendaki dadakan dan tragisnya nasib bunga amarilis menjadi cermin. Belum dewasanya kita dalam menikmati alam sebagai salah satu tanda keagungan Tuhan.