Saturday, September 7, 2019

MLM : Multi Level Misteri
Beranda media sosial saya semakin sering terlintasi iklan MLM alias Multi Level Marketing. Dengan saya pikat masing-masing. Menawarkan keunggulang produk, keunggulan sistem, kesesuaian dengan aturan agama hingga reward aneka barang mewah yang akan didapatkan dan sebagainya.

Produk HNI
Secara pribadi, saya termasuk yang tertarik dengan sistem pemasaran langsung ala MLM. Kenapa? Karena sistem ini memungkinkan secara personal orang bisa menjadi pemasar produk tanpa harus berbelit dalam urusan rantai distribusi. Anda ambil barang dan pasarkan ke konsumen.

Saya juga terkesan dengan semangat para member MLM dalam bersemangat untuk menjalankan usahanya atau mereka sering sebut BISNIS. Sejak tahun 2000-an beragam MLM saya ikuti, sehingga cukup untuk melihat beragam geliat para member MLM dan sistem yang mereka gunakan.

Berikut MLM yang pernah saya ikuti bahkan beberapa sampai posisi 'penting'. Awal ikut pemasar langsung produk dari malaysia, produk utamanya berupa kopi. Lalu pernah ikut sebuah MLM yang memasarkan produk kesehatan dari China, tidak aktif hanya menggunakan produk saja hingga bintang dua. Selanjutnya produk hampir mirip, suplemen kesehatan Mil****, harganya mahal tapi beberapa orang terlanjur fanatik sehingga tetap beli.

Lanjut perusahaan yang dibangun anak muda, sempat masuk acara talkshaw terkenal di tivi, dan didaulat sebagai pengusaha muda sukses, jualan pulsa. Namun nyatanya lebih banyak dan dominan cari member ketimbang jualan produk. Saya coba cari info, usaha ini sekarang dah gak jalan.

Lanjut gabung perusahaan pemasar pupuk. Produknya bagus dan sudah teruji. Namun menthok karena upline tidak jalan dan pengambila barang jauh. Padahal produk-produknya sangat bermanfaat.

Lanjut ikut bisnisnya seorang ustadz terkenal. Tertarik karena ada investasi di bursa saham. Hanya saja pupus lebih cepat karena manajer investasinya saya lihat tidak berkembang dengan baik. Begitupun membernya banyak yang tidak mengunakan produk, lebih banyak ngajak member.

Menurut saya MLM sebuah metode yang bagus untuk pemberdayaan. Sayangnya metode ini lebih banyak dimanfaatkan orang pinter untuk membodohi member lainnya. Bayangkan, produk yang mereka jual jarang mereka pakai, tetapi lebih agresif mengajak member baru. Lalu dari mana perusahaan dapat pemasukan?

Bonus dan Reward Mewah Sebagai Pemikat

Mobil, rumah mewah, perjalanan ke luar negeri dan lainnya selalu menjadi daya pikat orang mengajak gabung member ke MLM (ada pula bisnis serupa MLM dan persis tapi tidak mau dinamai MLM), lebih banyak menawarkan mimpi ketimbang edukasi untuk penggunaan produk dan pejualan produk.

Meski tertarik dengan MLM, saya lebih tertarik dengan produk. Ketika produknya tidak layak digunakan dan tidak masuk akan dalam harga, maka akan saya tinggalkan. Bonus tidak menjadi satu-satunya daya tarik. Maka, ketika teman-teman yang menjadi member melalui saya banyak yang berbonus puluhan hingga ratusan juta per bulan saya tetep 'ayem' menikmati peran dengan sewajarnya.

Di HNI-HPAI, dari data yang bisa saya akses sudah puluhan member yang melalui saya beromzet ratusan juta, memiliki toko dan pusat agency. Mereka besar sesuai dengan usaha yang telah ditempuh. Ada keadilan. Meski saya berposisi sebagai upline namun karena saya hanya menggunakan produk tidak agresif dalam pemasaran, bonusnya tidak begitu banyak. Sekitar satu jutaan setiap bulan.

Di HNI-HPAI, kami memulai menggunakan produknya untuk kebutuhan harian. Demikian juga kepada rekan member, saya mengajak untuk menggunakan produknya, sehingga menjadi contoh bagi yang lain. Menggunakan alternatif produk muslim, lokal yang berkualitas dan halal.

HNI memiliki pabrik sendiri, yang berkembang dari skala home industri menjadi pabrik modern. Dikelola dengan menjaga nilai-nilai Islam.

Untuk Informasi lebih lanjut silakan kontak kami

SMS/WA ke 085 743 141 977


Untuk menjadi member silakan kunjungi DAFTAR MEMBER 

Barat || 7 September 2019

Profil PT Herba Emas Wahidatama



Thursday, September 5, 2019

Tiga Rahasia Kematian
Seorang kawan bercerita. Sepasang suami istri hidup berdua. Sang istri telah lama sakit dan harus dirawat sang suami. Kemudian takdir telah ditetapkan, ajal sang suami lebih dahulu ketimbang sang istri yang selama ini sakit.



Pertengahan Mei, beberapa tahun lalu. Ketika sedang bersantap malam, sebuah panggilan datang dari seorang kawan. Meminta tolong untuk dicarikan ambulan, karena ada sepasang suami-istri yang meninggal hampir bersamaan. Keduanya mualaf.
_______
Ada tiga rahasia dalam kematian. Dengan kerahasiaan itu, Sang Khaliq mungkin sedang menyisipkan kepada setiap insan untuk selalu berjaga dalam amalan terbaik. Dengan kerahasiaan itu, Sang Pencipta mungkin ingin setiap manusia selalu menyimpan asa.
Sebab, manusia tidak mengetahui kapan ia mati, di tempat manakah ia mati, dan dengan cara apa ia akan mati.
________
Teriring Doa untuk teman almarhumah Mbak Tari
(Rekan kerja yang meninggal hari ini, Ahad 090619)
Semoga husnul khatimah
Aku dan Buku
Dahsyatnya media online. Orang tidak tergerak bisa jadi karena tidak tahu. Orang tidak peduli mungkin karena kurang informasi. Maka sangat penting untuk mengabarkan sebuah kebaikan.



Usai membaca postingan Kang Iwan KC Setiawan di WA. Tertarik dengan tema diskusi buku yang digelar Yayasan AR Baswedan. Mengupas kapitalisme di dunia barat dan dunia Islam. Pembicaranya cukup kredibel, karena background akademik dan secara riil di lapangan bergerak menangani bidang ekonomi. Akhirnya mendaftar dan ikut. Sebuah diskusi seru dengan materi dan pemateri berbobot.

Selesai Diskusi langsung meluncur ke Penerbit Proumedia Full karena dah janji ambil lima eksemplar buku HAMKA, Ulama Umat Teladan Rakyat. Sampai penerbit sudah magrib, akahirnya berkesempatan shalat berjamaah di Masjid Jogokaryan.

Perjalanan pulang, sambil mengantar buku ke pemesan, di bilangan Godean. Bapaknya ternyata yang gemar membaca, koleksi bukunya banyak. Berbincang tentang HAMKA dan koleksi bukunya. Berbicara tentang buku, kadang menjadi lupa waktu.
Pamitan, saya sambil tanya, "Bapak tahu buku ini dari mana?" Ia menjawab, "Dari sebuah website yang menulis tentang HAMKA."
Kemudian saya paham, media online ternyata bisa menggerakan orang untuk membeli buku tentang HAMKA.

Bersiap menghidupkan mesin motor, dapat pertanyaan. "Kerja di mana?" Saya jawab mengabdi di sebuah instansi. Ternyata Bapaknya menyahut, "Saya kerja di KUA ... "
Nah, gara-gara buku bisa bertemu dan berbincang dengan teman seperjuangan 
Barat || 21 Juni 2019
Ketika Diam Bermakna Dusta
Kediaman kita ternyata bisa dimaknai sebagai dusta. Mirisnya, bukan hanya dusta atas sebuah informasi atau fakta, melainkan dusta terhadap agama. Kredibilitas pengungkap hal ini pun tidak tanggung-tanggung, penguasa alam semesta. Seperti tercantum dalam Surat Al Maun, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin…” (QS 107 ayat 1-3)



Ketika ada saudara, tetangga, atau orang di sekitar kita yang mengalami kelaparan sedangkan kita mendiamkan saja, tidak memberikan makan, atau mengajak orang lain memberikan makan, ternyata bisa menjadi sebab masuk ke dalam golongan pendusta agama.

Jika kerabat telah jelas adanya. Maka ada tataran berikutnya berupa tetangga. Dalam literature Islam disebutkan beberapa batasan siapa saja yang termasuk tetangga. Jika menilik pendapat Al Uza’i, ada empat puluh rumah dari setiap arah. Artinya ada 40 rumah di utara, 40 rumah di timur, 40 rumah di selatan dan 40 rumah di barat. Total 160 rumah.

Sedang bila mengacu kepada pendapat Ali bin Abi Thalib ‘Siapa saja yang mendengar panggilan, maka dia adalah tetangga masjid’.

Kepada mereka ini diperintahkan untuk berbuat baik, termasuk menganjurkan memberi makan kepada mereka yang miskin. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya-mu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (An-Nisaa [4] : 36)

Jika terdapat 160 rumah, yang harus kita pastikan mereka tidak menderita kelaparan akibat kemiskinannya tentu tidak akan pernah ketemu jika kita tidak pernah bergaul dengan mereka. Melanjutkan tahap ta’aruf menuju tafahum kemudian berta’awun, saling menolong.

Saat peradaban mulai bergeser dengan interaksi melalu media sosial, sebetulnya menganjurkan memberi makan kepada orang-orang miskin bisa terbantu. Memanfaatkan media sosial untuk membentuk komunitas yang peduli sesama, mencari kawan berjiwa relawan dan dermawan. Atau sekedar mengabarkan kondisi tetangga yang butuh untuk dibantu.

Jangan sampai, saat diberi kemampuan membantu, kita tidak memberi makan orang miskin, tidak menganjurkan memberi makan kepada mereka namun justru rajin berbagi aneka foto sedang bersantap bersama keluarga di berbagai warung makan ternama. Mungkin ada kepuasan, tetapi perlu mawas diri agar ‘kediaman’ kita kepada fakir miskin tidak menjadi tiket masuk ke dalam golongan pendusta agama.

Barat || 24 Juni 2019

Wednesday, August 21, 2019

Kisah Bawang Putih : Pancasila dan Impor Bawang Putih
__ saya Pancasila dan saya tidak impor bawang putih __

Sudah beberapa kali, setiap hendak tidur, Azizah minta dibacakan buku. Satu yang ia suka kisah tentang Bawang Putih dan Bawang Merah. Kisah dua saudara tiri yang berbeda perangai diri. Tapi kisah berikut bukan tentang mereka.


Tetiba kita disodori kabar tak sedap, kolaborasi jahat antara impor dan korupsi. Maka sebuah janji untuk berdikari semakin jauh panggang dari api. Sejak kecil Bapak/Ibu Guru mengajarkan sebuah negara yang dijuluki agraris karena sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani.

Rumus mudahnya: Jika sebuah negara mayoritas petani, maka menyejahterakan petani sama artinya menyejahterakan mayoritas rakyat. Namun, ternyata baru saya mengerti sebagian mereka bukan petani, lebih tepatnya hanya sebagai buruh tani.

Seperti berpijak di tumpuan labil. Tidak banyak kebijakan yang mendukung agar para petani berkembang. Mulai dari ongkos produksi hingga harga jual komoditas yang tidak stabil. Hari ini bisa jadi cabe mencapai harga enam puluh ribu, esok mungkin terjun bebas tak berharga. Padahal menurut penuturan petani, jika harga stabil di kisaran sepuluh ribu, mereka sudah bisa untung sepanjang tahun. Dan tentu konsumen tidak akan merasa terlalu mahal.

Tapi itu tak terjadi. Mayoritas petani merasakan keuntungan berlipat untuk sekejap, kemudian harga kembali ambruk. Belum lagi soal pupuk yang mahal. Maka menjadi ironi tak terperi, ketika masa panen tiba, keran impor justru dibuka.
Luar biasanya, sudah impor masih diwarnai tindak korupsi. Sebuah ironi di negeri para petani.

Apakah lalu kita menyerah? Jangan. Berita tentang impor yang menjadi lahan para koruptor tentu hanya sedikit yang tersingkap. Lalu apa yang mesti diperbuat, agar setidaknya tidak ikut memperkaya wong licik.

Pertama, pilih produk lokal. Buah, sayur, atau bahan makanan lainnya.
Kedua, coba menanam sendiri dengan memanfaatkan pekarangan yang ada.
Ketiga, bersinergi dengan startup lokal yang peduli kepada nasib para petani. Satu di antaranya adalah igrow. Info lengkap bisa dilihat di igrow.asia.

Semoga dengan langkah kecil, kita bisa bersama-sama memberikan dukungan kepada petani lokal. Tanpa harus bermimpi menyejahterakan mereka.

Barat || 13 Agustus 2019
Penikmat bawang putih

Wednesday, August 14, 2019

Inspira, Sekolah Wirausaha di Yogya, Siap Mencetak Pebisnis Handal Bermoral

Korupsi impor bawang putih yang memanipulasi uang puluhan milyar tentu tidak mengagetkan kita semua. Sebab perilaku demikian lumrah dilakukan para pelaku bisnis yang tidak menjunjung tinggi etika dan moral dalam berbisnis.

Perilaku bisnis yang demikian bisa jadi cepat mendatangkan keuntungan dan kekayaan. Namun biasanya hanya akan dinikmati segelintir orang, atau kelompoknya saja. Mengabaikan kepentingan orang lain. Bahkan tak peduli dengan kesusahan yang dialami rakyat akibat ulahnya.



Perilaku bisnis yang menyimpang dari etika, moral dan nilai kebaikan universal sangat mungkin lahir dari pembelajaran dan lingkungan yang mendidiknya. Kepintaran yang tidak disertai dengan pembangunan karakter. Atau lebih keren disebut, akhlak.

Kini di Yogyakarta, kota sepeda yang telah berganti menjadi kota sepeda motor. Terdapat sekolah keren, yang siap mendidik para pebisnis agar handal dan bermoral. Saya mengetahui sekolah ini dari postingan di laman media sosial Facebook.

Sekolah Scale Up Inspira, demikian mereka menamakan diri. Terbukti telah berhasil membangun beberapa unit usaha yang dalam waktu singkat melampaui zona UMKM. Mereka juga memiliki lini usaha yang mampu unggul dalam setiap bidangnya.

Para Trainer Sekolah Scale Up Inspira merupakan praktisi dan pemimpin langsung di berbagai perusahaan. Sehingga ilmu dan pengalaman mereka tidak diragukan lagi. Berbagai materi akan disampaikan, mulai dari pengembangan diri sebagai leader sampai teknis dalam promosi melalui media sosial. Peserta bebas memilih materi yang diminati.

Di laman https://scaleup.inspiraspace.com disebutkan biaya yang dibutuhkan berkisar antara 1 juta hingga 12 juta rupiah. Tinggal pilih sesuai dengan potensi yang diinginkan. Semoga sekolah semacam ini terus berkembang, dan melahirkan pebisnis handal sekaligus bermoral. Salam wirausaha dari Yogya.



Kisah Dermawan yang Memilih Perdagangan Abadi


_ada kalanya engkau membeli tapi kau pergunakan sebentar saja, lalu terlewati. meski mungkin hakikatnya engkau menjaja, menjual keabadian untuk yang sebentar saja__ (terinspirasi dari puisi Zainal Arifin Thoha)

Hari ini membaca peristiwa di Pesantren Hamalatul Quran, tempat saudara saya Dhesy Anang mengabdikan diri. Seorang dermawan yang menginfakka uang satu milyar untuk membangun pesantren. Antara haru dan iri.

Gambar Pondok Pesantren Wirausaha Minggir
yang saat ini dalam tahap pembangunan

Memori peristiwa beberapa tahun lalu seperti hadir kembali. Ketika banyak orang yang tidak saya kenal sebelumnya tiba-tiba ikhlas mewakafkan dan meminjamkan uangnya untuk digunakan membeli sebidang tanah sebagai pusat pergerakan.

Seorang pengusaha komputer di Gamping meminjamkan 10 juta kemudian akhirnya diwakafkan, seorang PNS di Gejayan menghubungi saya dan meminta nomor rekening, transfer 10 juta untuk dana talangan, seorang pengusaha bahan bangunan mewakaftkan 10 juta. Kami bertamu ke seorang juragan kayu, tanpa ragu ia wakafkan 20 juta cash! Dan banyak lagi tangan-tangan dermawan yang dengan ringan menitipkan hartanya untuk tabungan akhirat.
____
Dalam perjalanan ke barat, seorang pegawai pertamina di perumahan elit mewakafkan 20 juta. Kemudian, Allah menggerakan seorang dermawan mewakafkan satu rumah! Ya, satu rumah lengkap dengan segala isinya. Subhanallah, terbuat dari apakah hati mereka?

Suatu siang, seorang datang. Saya tidak mengenal beliau sebelumnya. Beliau kemudian menceritakan maksud kedatangannya. "Mas, tadi saya ke sini membawa emas warisan dari mertua. Kemudian kami mampir toko emas dan menjual seluruhnya kami wakafkan...."
Barisan kata yang membuat mata saya berkaca-kaca. Kami hitung total nilainya sekitar 42 juta. Allahu Akbar.

Kemudian, ratusan orang yang tidak kami kenal. Bahkan yang dalam pandangan awam tidak mungkin berderma, nyatanya hatinya tergerak.

Peristiwa ini memberikan kesadaran kepada saya, bahwa banyak orang Islam yang kaya. Banyak orang Islam yang siap bersedekah, berwakaf dan bersinergi dalam gerakan dakwah. Hanya bagaimana kita bersama melangkah, bersyarikat sehingga bisa memaksimalkan potensi umat.

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS Faathir [35]: 29)

Akan selalu ada, mereka yang meletakkan harta di tangan agar mudah didermakan dan tidak menutupi hati.

Barat || 11 Agustus 2019
Berkenan terhubung dengan twitter? Silakan via @ekosangpencerah

Tuesday, May 14, 2019

Buka Rakor Kehumasan, Sekjen Ingatkan Humas Tidak Lagi Monologis

Depok – Sekjen Kemenag Nur Kholis Setiawan membuka Rapat Koordinasi Kehumasan Bidang Pengawasan Tingkat Kanwil yang berlangsung di Hotel Santika Depok, Senin-Rabu (13-15/5). Dalam pengarahannya Sekjen menyampaikan progrm strategis Kementerian Agama Tahun 2019.



Pada kesempatan tersebut Nur Kholis juga menyebut, fungsi kehumasan memiliki peran penting dalam mensukseskan program Kementerian Agama. Menurutnya saat ini peran media cetak dan media online tergerus dengan hadirnya media sosial. “Media sosial hadir sebagai kekuatan baru yang sulit dikontrol,” terangnya.






Untuk itu, penting untuk menyiapkan konten dan kemasan, agar pesan yang disampaikan efektif. Jangan sampai pesan yang disampaikan justru menimbulkan kesalahpahaman, karena di era media sosial berita yang beredar dengan mudah dipelintir. “Perlu membenahi konten untuk meminimalkan terjadinya salah persepsi,” tutur Sekjen.





Selain memperbaiki konten dan kemasan, tidak kalah penting untuk memiliki paradigma baru di bidang kehumasan. Humas tidak lagi hanya bersifat monologis, sekadar menyampaikan pesan satu arah. Melainkan kini harus bertransformasi menjadi peran dialogis untuk menerima input dari publik.

Rakor Kehumasan ini diikuti oleh seluruh Kepala Subbag Informasi dan Humas Kanwil Se-Indonesia serta beberapa unit kerja Pusat. [eko]

File: Undangan Rakor Kehumasan Bidang Pengawasan 2019

Saturday, April 27, 2019

Yogyakarta, Bukan Lagi Ibukota Kata-kata?

Saya teringat sebuah catatan dari Pak Musthofa W Hasyim, beliau menyebut Yogyakarta sebagai ibukota Kata-kata. Sastrawan yang produktif menulis puisi dan novel tersebut setidaknya punya beberapa alasan.

Sejak awal Kemerdekaan banyak cendekiawan lahir atau besar di Yogyakarta. Mereka menghasilkan tulisan dan karya yang mampu menginspirasi bangsa.

Yogyakarta, Bukan Lagi Ibukota Kata-kata?


Pada zamannya, Malioboro selalu ramai berkumpul para seniman, budayawan dan sastrawan. Jagongan sambil bertukar wawasan, menjadi modal untuk menelurkan karya. Tidak sedikit sastrawan alumni Malioboro yang terus berkiprah hingga kini, satu di antaranya adalah Emha Ainun Najib (Cak Nun).

Lainnya cukup banyak untuk disebut semisal Motinggo Busye, Idrus Ismail, Umbu Landu Paranggi dan tentu saja maestro musik kegemaran saya : Ebiet G. Ade. Pada tahun 1960, Malioboro menyimpan pesoan bagi mereka untuk datang berdiskusi dan berkarya.

Konon, Cak Nun, rela membolos puluhan kali dalam satu semester demi menghadiri jagongan di Malioboro. Untung Ebiet G. Ade, teman se-almamaternya di Muhi tidak se-mbeling Cak Nun.

Yogyakarta, Ibukota kata-kata. Ayat pertama dalam Al Quran yang diturunkan berisi perintah membaca. Iqra', demikian perintahnya. Bacalah! Beruntung, ada sosok KH. As'ad Humam yang mengkaji dan menemukan sebuah metode belajar membaca Alquran dengan mudah dan cepat. Metode ini terbukti efektif hingga kini. Dikenal dengan Metode Iqra' dari Kota Gede Yogyakarta.

Meski hanya belajar sampai tingkat SMP, KH. As'ad Humam berjasa besar karena dengan wasilah temuannya, bisa membantu membebaskan jutaan orang dari buta huruf Alquran di penjuru dunia. Dari Asia hingga Afrika.

Yogyakarta, Ibukota Kata-kata. Shoping, dulu muncul kesan ke shoping ya mencari buku. Baik buku baru maupun loakan. Pengunjungnya dari orang awam hingga dosen. Dari pelajar SD hingga mahasiswa.

Lalu, apakah Yogyakarta masih layak dijuluki Ibukota Kata-kata? Malioboro ramai dengan para pewisata. Shoping tak lagi ramai orang mencari bahan pustaka. Perpustakaan? Seperti tak menjadi daya tarik lagi bagi kaum muda. Minat baca? Bisa diteliti berapa kuat minat baca. Jika sebagai kota pendidikan saja minat baca rendah, bagaimana mungkin menghasilkan generasi emas yang akan membanggakan bangsa.

Butuh kerja besar, untuk menjaga marwah Yogyakarta. Sebelum Handphone dan segala perangkat serupa merenggut segalanya.

Barat || 27 April 2019

Friday, April 5, 2019

Seneng Resensi Buku Pertama Dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat

Resensi Buku Pertama Dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat. Sejak masih belajar di salah satu universitas di Yogyakarta, saya tertarik dan penasaran dengan rubrik Resensi Koran. Karena coba mengirim tetapi tetap saja tidak dimuat. Waktu itu, seorang teman rajin menulis resensi dan sering dimuat. Selain dapat honor dari media massa, ia juga mendapat kiriman buku dari penerbit. Dan biasanya di akhir semester ia akan menukarkan bukti pemuatan tulisannya ke Fakultas untuk mendapatkan sejumlah reward.

Resensi Buku di Koran
Resensi Buku di Koran

Selang beberapa tahun, saya ingin menulis lagi resensi buku. Kalau dulu mengirim resensi harus diketik, dicetak kemudian dikirim langsung atau via pos. Kini lebih mudah karena cukup dengan mengirimkan melalui email. Hemat dan cepat. Kali ini saya pilih satu buku tentang HAMKA, yang ditulis kurator buku-buku lawas keislaman, Yusuf Maulana.

Untuk menulis resensi di koran atau majalah, perlu memperhatikan beberapa hal agar diterima redaksi dan layak muat di media massa.

Perhatikan jenis buku yang biasa dimuat di media massa.
Ikuti batasan karakter minmal dan maksimal yang dipersyaratkan, terkadang ada media yang membatasi resensi cukup 500 kata dan sebagainya.

Kalau Anda ingin mengirimkan ke Kedaulatan Rakyat, Kirimkan naskah disertai foto cover buku, foto daftar isi, dan foto data penerbitan buku.

Sertakan foto identitas diri, rekening bank dan NPWP alias nomor pokok wajib pajak.
Umumnya batas waktu pemuatan dua sampai empat pekan, apabila sudah lebih sebulan resensi tidak dimuat kemungkinan besar naskah tidak akan dimuat dan bisa dikirimkan ke media massa lain.

Dan hasilnya, pada Februari lalu resensi saya berhasil dimuat. Selain mendapatkan uang sebesar Rp 75.000 potong pajak, dengan mengirimkan bukti pemuatan resensi ke penerbit saya pun mendapatkan dua buah buku. Tentu bisa dijadikan bahan resensi selanjutnya. Begitu seterusnya kalau sempat J

Untuk mencari media massa mana saja yang menyediakan rubrik resensi Anda bisa browsing di Google. Setiap media memiliki kebijakan berbeda untuk pemuatan resensi, tidak semuanya menyediakan honor. [.]

Tuesday, March 19, 2019

Tips Cara Aman Transaksi di ATM BRI

Anjungan Tunai Mandiri (ATM) BRI termasuk yang paling mudah dijumpai. Bahkan sampai ke pelosok pedesaan. Hampir di setiap kecamatan ada ATM BRI. Termasuk di minimarket, POM Bensin, maupun instansi pemerintah. Ini tentu memudahkan bagi para nasabah dan masyarakat umum untuk melakukan transaksi.

cara transaksi aman di ATM BRI


Apalagi di era pembayaran non tunai seperti saat ini, keberadaan ATM sangat membantu. Tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar Anda tetap bisa melakukan transaksi secara aman menggunakan ATM BRI. Berikut, catatan yang biasa ada dan ditempel di ATM BRI.

Cara aman transaksi dengan ATM BRI
1.    Jaga kerahasiaan PIN Anda, jangan beritahukan meski kepada petugas bank
2.    Lakukan penggantian PIN secara berkala
3.    Segera lakukan penggantian jika PIN diketahui orang lain
4.    Tutup dengan tangan ketika menekan nomor PIN, untuk menghindari rekaman CCTV
5.    Pastikan kebenaran PIN sebelum melakukan transaksi
6.    Jika dua kali salah input PIN, Anda hanya punya kesempatan sekali lagi, jika PIN salah input tiga kali, maka kartu Anda akan diblokir.
7.    Memastikan saldo mencukupi sebelum melakukan transaksi (cek saldo)
8.    Teliti kembali, pastikan uang dan kartu ATM sudah Anda ambil sebelum meninggalkan ATM.
9.    Jika ada kendala hubungi call center resmi BRI 14017
10. Hindari mengontak nomor tidak resmi, biasanya pelaku kejahatan menempel nomor sembarang untuk mengelabuhi korban.
11. Jika ada kesulitan Anda bisa menanyakan langsung ke pegawai atau security BRI.

Semoga bermanfaat.


Friday, March 15, 2019

Rokok, Haram atau Halal? Ini Cara Lain Sebagai Pertimbangan
Status rokok termasuk barang haram atau halal telah lama diperdebatkan. Ada sebagian ahli agama yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan. Sebagian lagi memilih untuk bersikap 'moderat' dengan menyatakan makruh. Masing-masing pendapat memiliki dalil dan argumentasi yang menjadi pegangan.

dilarang merokok
Tulisan larangan merokok
di Pondok Pesantren terkemuka di Yogyakarta


Lalu kepada siapa umat merujuk? Ketiga pendapat tersebut tentu tidak bisa dijalankan secara bersamaan dalam satu kesempatan. Jika tetep ngotot berpegang kepada ulama, maka ketiganya mungkin berada pada posisi yang sama. Maka menurut pendapat penulis ada unsur lain yang perlu digunakan untuk menelaah fatwa yang ada.

Dari mana pendapat itu? Kita gunakan hati dan pikiran yang telah dianugrahkan kepada kita. Sehingga menjadi tambahan wawasan untuk mengambil sebuah sikap dari ketiga fatwa tentang rokok tersebut.

Pertama, dari sisi kesehatan. Coba perhatikan, perbandingan jumlah dokter yang merokok dengan jumlah dokter yang tidak merokok. Dokter selama ini kita anggap sebagai orang yang lebih paham soal kesehatan. Maka pilihan mereka untuk tidak merokok pun kemungkinan di antaranya berdasar kepada alasan kesehatan. Dengan tidak merokok, hidup lebih sehat.

Kedua, dari sisi kemanusiaan. Tentu ada orang tua yang nyaman saja merokok di dekat istrinya yang sedang hamil atau anaknya yang masih balita. Tetapi rata-rata, seorang Bapak 'tidak rela' jika asap rokok masuk dan terhirup ke tubuh anak bayi atau istrinya yang sedang hamil. Karena alasan apa? Kemungkinan besar, alam bawah sadar mereka mengatakan 'rokok berbahaya'

Ketiga, meskipun di beberapa pesantren para pengasuhnya merokok, dan memperbolehkan para santri merokok. Tetapi penulis mengamati, di beberapa pesantren tertera tulisan 'Dilarang Merokok' untuk para santri. Apalagi di jam belajar. Ini bisa menandakan bahwa sebenarnya para pengasuh sadar, bahwa rokok itu 'tidak baik.'

Keempat, Kementerian yang terkait dengan kesehatan, memiliki program kampanye untuk mengurangi konsumsi rokok. Ini menjadi bukti pendukung, institusi resmi pun sebetulnya melakukan 'perang' terhadap rokok.

Kelima, secara ekonomi jelas rokok merupakan sebuah pemborosan. Banyak penelitian yang sudah menyajikan datanya.

Seorang bintang iklan rokok dari Amerika pernah merasa heran ketika menyaksikan para karyawan pabrik rokok tidak merokok. Lalu apa jawab sang eksekutif perusahaan? "Kami tidak mengkonsumsi barang hina itu. Kami hanya memiliki hak menjual kepada para pemuda, orang miskin, berkulit hitam dan orang bodoh," ujar sang eksekutif perusahaan rokok.


Sunday, February 17, 2019

Cara Menarik Investasi dari Reksadana Paytren Yusuf Mansur

Cara mengambil kembali investasi dari Paytren Aset Manajemen Yusuf Mansur sangatlah mudah. Anda bisa mengambil semua uang Anda dengan satu langkah, tanpa perlu ribet. Ini peluang bagus, untuk menarik investasi Anda sekarang.



Pengalaman saya, setelah invetsasi di reksadana Paytren, jumlah modal justru berkurang dan tidak bisa kembali ke modal awal meskipun sudah menunggu sampai satu tahun. Maka saya putuskan untuk menarik investasi tersebut semuanya.

Langkah untuk mengambil uang dari Paytren Yusuf Mansur bisa Anda lakukan dengan cara berikut :
1.    Silakan masuk ke website Paytren Aset Manajemen https://paytren-am.co.id
Jika kesulitan, silakan ketikan di Google : Paytren Aset Manajemen, maka website tersebut akan berada di halaman pertama.

unisntall paytren yusuf mansur


2.    Masukan user dan kata sandi. User berupa alamat email yang digunakan waktu mendaftar. Jika lupa kata kunci, silakan klik Lupa Kata Kunci, maka akan dikirimkan kode ke email Anda, untuk mengganti kata kunci.
3.    Setelah berhasil Login, pilih Dashboard
4.    Pilih produk yang dulu Anda beli, di bagian bawah ada menu JUAL. Silakan klik.



5.    Akan terbuka halaman baru, Anda diminta mengisi sejumlah data.
6.    Jangan lupa pilih nominal yang ingin dijual, jika ingin mengambil seluruh investasi dilakan klik Penjualan Kembali (Redemption) Unit Penyertaan Semua Unit yang Dimiliki.


7.    Isikan Bank Tujuan Transfer. Jika waktu mendaftar Anda telah memasukan nomor rekening, tinggal klik saja Bank Tujuan Transfer dan otomatis akan muncul.
8.    Untuk melanjutkan transaksi, Anda akan diminta mengisikan Kode Verifikasi, maka silakan klik Kirim Kode Verifikasi, kode akan dikirim ke email Anda.
9.    Copy Paste kode di tempat yang disediakan, kemudian centang tanda Saya telah membaca persyaratan ….
10. Bila menu Submit sudah aktif hijau, dan data sudah benar, silakan klik SUBMIT.
11. Jika transaksi berhasil maka akan muncul notifikasi Transaksi Anda berhasil diterima sistme Payor.


12. Anda tinggal menunggu proses transfer dana ke rekening Anda

Semoga bermanfaat.


Jangan lupa, jika Anda ingin berinvestasi di bidang pertanian dengan sistem yang resmi diawasi OJK, dijalankan secara amanah, memberdayakan banyak petani dan dengan bagi hasil sangat menguntungkan. Silakan bergabung dengan startup iGrow