Wednesday, October 23, 2019

Setengah Kuliah

Ada siasat yang biasa saya gunakan sewaktu kuliah. Dari lima atau enam hari efektif, dua atau tiga di antaranya saya manfaatkan untuk jualan. Menjadi sales kerupuk keliling. Ini adalah konsekuensi dari sebuah pilihan. Opsi menjadi 'alumni banyubiru' saya tepikan. Padahal jalan ke sana terbuka lebar, dari empat serangkai yang bersama-sama maju hanya saya yang akhirnya mandeg. Sebetulnya, beragam usaha bisa ditempuh untuk mewujudkan keinginan ibu-bapak.


Masih terngiang, sewaktu pertama pengecekan fisik dan nilai akademik. Petugas langsung nyeletuk "Nah ini calon bintara" Lalu memberikan serentetan pertanyaan, sampai akhirnya tahu seorang di antara punggawa Panitia Seleksi merupakan tetangga.
--------
Beberapa tawaran datang, namun tidak kami terima.
--------
Pilihan jatuh untuk melanjutkan pendidikan, ibu-bapak mewanti, jika ingin kuliah silakan cari biaya, ibu-bapak tidak kuasa. Sebuah restu yang saya sambut dengan gembira. Setahun, saya gunakan untuk menempa diri. Menjadi buruh pabrik di Bekasi, kemudian menjadi buruh Pabrik di selatan Merapi sambil mengikuti serangkaian seleksi masuk perguruan tinggi.
--------
UGM menjadi lokasi pertama untuk ikut ujian. Hanya saja ketika melihat antrian orang mendaftarkan diri, saya tidak cukup bersabar. Saya abaikan dan memilih pulang. Ketika waktu pendaftaran terakhir, berangkat pagi berharap tidak mengantri. Karena terlalu pagi, Oom saya mengajak untuk melihat perguruan tinggi keagamaan.
Sepi karena hari masih pagi. Alhamdulillah beberapa mahasiswa senior cukup responsif karena langsung menghampiri dan menjelaskan banyak hal. Pikiran lantas berubah, 'Kuliah bisa di mana saja, yang penting bisa belajar mencari ilmu' Jadilah, selama enam tahun menjadi mahasiswa perguruan berjas almamater hijau daun, yang sampai lulus saya tidak pernah membelinya dan memilikinya.
--------
Sesuai restu ibu-bapak, sebelum kuliah efektif saya harus punya penghasilan. Peluang datang, menjadi sales kerupuk keliling. Tetangga ada yang usaha pengemasan makanan kerupuk singkong. Maka dalam sepekan saya atur jadwal, pada hari-hari tertentu saya bolong kuliah, dengan bergiliran mata kuliah, sehingga bisa jualan dengan tingkat kehadiran (ketidakhadiran) wajar.
Dua tahun berjalan, alhamdulillah dari hasil jualan bisa membantu biaya kuliah dan harian. Sebelum akhirnya beralih ke usaha lain, jualan buku, sambil sesekali menulis di media massa dan berkongsi dengan teman membuka counter HP.
Larut dalam dunia jualan, hingga kuliah genap enam tahun. Untuk mengurangi waktu efektif, tidak pernah mengulangi mata kuliah, kecuali satu mata kuliah yang sebetulnya untuk semester atas yang akhirnya saya batalkan. Tidak mengulang mata kuliah bukan karena nilai baik, melainkan untuk meminimalkan waktu dan biaya yang terbuang percuma.
Ketika akan mencetak nilai transkrip, petugas bertanya. "Mas ini ada nilai D, tidak diulang?" "Tidak, silakan dicetak saja." Jadilah lembaran transkrip saya termasuk yang nyata-nyata mengakui keberagaman karena dari A, B, C, D ada semua.
Maka bisa disebut, selama enam tahun saya menjalani setengah kuliah di kampus. Setengahnya lagi kuliah di lapangan. Jualan!
Dalam sebuah kesempatan, Soichiro Honda, pendiri Honda mengungkapkan. "Orang-orang hanya Melihat 1% kesuksesan saya. Mereka tidak melihat 99% kegagalan saya."
Barat || 19 Oktober 2019
Sebelumnya
Berikutnya

Penulis:

0 comments: