Saturday, October 5, 2019

Pemasok Lele yang Menjadi Pengembang Property

Saya mengenalnya saat belajar di Pesantren Property. Penuturannya kalem dan mudah dicerna saat menjelaskan lika-liku dunia property. Ia tumbuh dari tempaan pengalaman hidup yang sarat.
Sempat menjalani profesi sebagai pemasok ikan lele ke warung-warung pecel lele. Katanya, sehari mampu menjual sekitar 20-30 kg lele. Misal, dengan keuntungan Rp1000/kg, maka pendapatannya maksimal Rp30.000.


Dengan kondisi ini, ia bercerita harus lebih berhemat dalam memenuhi kebutuhan harian.
.....
Namun, sebagai seorang yang memiliki impian, ia tidak berhenti begitu saja. Ia mencoba mencari peluang lain yang dianggap lebih menjanjikan. Sembari mengantar ikan lele, ia rajin menyimak iklan peluang usaha di koran yang biasa di tempel di papan pengumuman kampung. Begitu juga ia rajin membaca spanduk, baliho, poster dan semacamnya. Mencari peluang usaha yang dirasa lebih baik.
Sampai suatu ketika, ia melihat informasi tentang pengenalan wirausaha di bidang property. Inilah yang kemudian menjadi jalan baginya meniti kesuksesan di bidang property.
.....
Selepas dari Pesantren Property, saya ikut kelas khusus yang digelar di kantornya. Tidak banyak yang ikut, hanya beberapa saja. Dari sanalah kemudian saya tahu, bagaimana ia mengembangkan usaha, nyaris tanpa modal uang!
Dalam membangun rumah, ia bermodalkan gambar saja. Untuk tanah yang akan ditempati, ia mencari tanah yang akan dijual kemudian bernegosiasi dengan pemilik. "Jika boleh saya bangun rumah di atasnya lalu dijual, dan hasilnya kita bagi bersama. Ini lebih menguntungkan," sekira begitu bahasa diplomasinya.
Teriring doa, negosiasi semacam itu terus berhasil. Hingga ia berhasil membangun puluhan unit rumah di beragam tempat. Nyaris tanpa modal besar.
Dari mana uang untuk membangun? Ia menawarkan desain dan gambar rumah kepada konsumen. Jika deal, konsumen wajib membayar DP 30%, dari DP inilah kemudian untuk membangun rumah, secara bertahap hingga selesai. Bernegosiasi dengan pembeli, untuk melakukan pembayaran secara termin.
Dengan usahanya yang tekun dan amanah dalam menjaga kepercayaan. Kini beberapa unit rumah yang ia jual sudah di atas nilai 1 Milyar.
Meski terbilang sukses, ia tidak enggan membagikan ilmu yang ia dapatkan. Bahkan ia berusaha menularkan pengalamannya dengan memberi kesempatan para santri untuk magang langsung di berbagai proyeknya.
Satu semangat yang selalu diingat para santri pesantren property ialah "tolong menolong".
Barat || 3 Oktober 2019
Sebelumnya
Berikutnya

Penulis:

0 comments: