Monday, September 23, 2019

Nasib Perih Pahlawan-pahlawan Muhammadiyah

Oleh: @ekosangpencerah

Yogyakarta identik dengan ibukota Muhammadiyah. Di sini gerakan pencerahan tersebut lahir dan tumbuh hingga tersebar ke penjuru Nusantara bahkan dunia. Dengan tiga gagasan utama Pendidikan, Kesehatan dan Kepedulian Sosial, Muhammadiyah secara nyata diterima di seluruh Indonesia. 



Bahkan di Papua dan NTT, kehadiran lembaga pendidikan Muhammadiyah baik sekolah maupun perguruan tinggi, dirasakan manfaatnya oleh masyarakat muslim dan non-muslim.

Mengelilingi Yogya, selaksa melihat suar-suar kemajuan Muhammadiyah. Di selatan, Kampus dan Islamic Center UAD begitu megah, di barat ada UMY dan UNISA berdiri dengan gagah mendidikan ribuan kader bangsa. Rumah sakit, sekolah, dan amal usaha Muhammadiyah. Bukti Muhammadiyah terus bergerak meski dalam senyap. Berkontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa tanpa harus mengaku paling Pancasila.

Tapi…
____
Suatu saat saya dapat cerita dari pemilik usaha fotokopi. Katanya, beberapa sekolah Muhammadiyah biasa harus ‘nge-bond’ alias hutang biaya fotokopi hingga ratusan ribu. Seorang Kepala SMK bercerita dana bantuan tidak lagi didapat karena jumlah murid tidak mencapai batas minimal.


Lalu, sebuah kabar datang, tentang tiga bulan gaji guru honorer tidak terbayarkan karena ketiadaan dana yang dimiliki sekolah. Jika saja, KH Ahmad Dahlan mengetahui ini, mungkin beliau akan menangis…

Para pendidik tunas bangsa, para pahlawan dari persyarikatan Muhammadiyah. Dengan kisaran gaji tidak sampai setengah juta, pun harus terhutang hingga berbulan-bulan. Dosa siapa? Ini Dosa Siapa?

Lalu, apakah akan berbangga dengan kemegahan segala amal usaha? Puas dengan segala suar gemerlap acara yang mengundang decak kagum semesta? Sementara mereka, sanga pahlawan mesti menahan perih dalam perjuangan dan terabaikan.

Ini hanya sekelumit ‘kezaliman’ terhadap para pejuang di sekolah Muhammadiyah. Belum lagi, mereka berjibaku mencari murid sekedar agar bisa mempertahankan sekolahan mereka. Kita sodorkan calon murid dari berbagai latar belakang sosial-ekonomi dengan kapasitas pendukung tak memadai.

Sementara putra-putri para kader dan warga Muhammadiyah justru sekolah di sekolah Islam Terpadu, Sekolah Negeri atau Sekolah Swasta ternama. Kemudian menuntut syarat agar sekolah Muhammadiyah maju dan berkembang, sehingga kelak layak menjadi tempat pendidikan anak-anak mereka. Sungguh jauh dari sebuah sikap ksatria.

Tapi…
Meratap saja tidak akan pernah membuat kekurangan menjadi lengkap. Menangis bisa jadi hanya akan mengundang tatapan sinis. Saatnya para pahlawan bangkit, sebab ada jaminan pasti dari Sang Pemilik Langit. “Barang siapa yang menyelamatkan orang dari kesusahan, maka Allah ta’ala akan menyelamatkannya dari kesusahan pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Beberapa langkah yang bisa ditempuh:
Pertama, sekolah tetap menerapkan infaq rutin yang dikelola oleh Komite atau paguyuban orang tua murid. Karena beberapa sekolah Muhammadiyah membebaskan sama sekali kewajiban infak, meniru sekolah negeri.

Kedua, membangun unit produktif yang bisa menjadi sumber dana. Membangun kios untuk disewakan, atau menanam tanaman perkebunan semisal kakao, pisang dan sejenisnya memanfaatkan tanah wakaf. Karena selama ini banyak tanah wakaf milik Muhammadiyah yang ditelantarkan.

Ketiga, Gerakan Koin Pendidikan (GKP) dari warga Muhammadiyah untuk mendukung pendidikan dan peningkatan kualitas sekolah Muhammadiyah.

Keempat, bekerjasama dengan amal usaha lain. Misal dengan perguruan tinggi, atau amal usaha lain.

Kelima, pengelolaan sekolah dengan sistem subsidi silang. Ini perlu dipikirkan oleh PP Muhammadiyah, agar kualitas pendidikan dan jaminan kelayakan upah guru Muhammadiyah bisa terpantau dan terjamin.

Berharap, sekolah Muhammadiyah dan para pahlawan persyarikatan bisa segera menemukan momentum kebangkitan. [esp]
Sebelumnya
Berikutnya

Penulis:

0 comments: