Sunday, January 27, 2019

Berburu Sunrise di Puncak Sikunir Dieng



Di ujung Januari, rupanya kami datang di hari yang tepat. Sejak pertama sampai ke Dieng hujan tidak turun. Padahal menurut cerita para pewisata yang pernah ke sini, hujan dan kabut seperti peneman keseharian dataran tinggi Dieng. Kami menginap di homestay sederhana tidak jauh dari Candi Arjuna. Dengan kapasitas sekitar 30-an orang, tempat ini lumayan recommended. Bersih, rapi, dilengkapi TV dengan antena parabola sehingga siaran yang diterima jernih, meski chanel terbatas. Di kamar mandi pun tersedia pemanas dengan tenaga gas LPG. Unik dan kreatif.





Untuk melihat matahari terbit di Puncak Sikunir kami harus menggunakan kendaraan. Bis kecil berkapasitas sekitar 20 orang mengantar kami berpagi menuju lokasi. Jarum jam masih di angka 03.08 ketika kami berangkat. Menempuh perjalanan dalam gelap dan kabut, dengan kontur jalanan berliku menanjak dan sempit. Tampak beberapa kendaraan lain yang kesulitan menapaki rute. Mungkin belum terbiasa.

Sampai di lokasi, dingin menyergap. Belum lagi angin yang kencang terus menerpa. Jaket dan segala perlengkapan pakaian hangat yang kami kenakan seolah tak mampu menghalau hawa dingin. Di lokasi parkir, tersedia banyak pedagang yang menawarkan perlengkapan, mulai kaos tangan, kaos kaki, syal, jaket dan lainnya. Sehingga cukup membantu, jika memang tidak persiapan dari awal.

Sekitar sepuluh menit menunggu, kami beranjak naik. Melewati deretan warung dengan jalan paving blok. Sebelum akhirnya menaiki undakan berbatu. Satu demi satu. Menurut pemandu jumlah anak tangga yang mesti kami lalui ada sekitar 400 anak tangga. Hanya saja beberapa bagian tidak berundak sehingga untuk sampai di Pos satu cukup menguras energi.

Undakan berbatu yang agak licin di tepi tebing dan penerangan yang minim mengharuskan kami untuk ekstra hati-hati. Sekitar 25 menit kami sampai di pos satu. Di sini, telah antri puluhan orang untuk shalat shubuh di sebuah mushalla yang kecil. Tempat wudhu terbatas, sehingga mesti sabar. Sebagian lain memilih untuk tayamum.

Pos satu juga menjadi pilihan bagi mereka yang tidak sanggup meneruskan perjalanan, di sini ada spot untuk foto-foto sambil menanti matahari terbit. Bagi yang masih kuat, memilih melanjutkan ke Pos dua. Jalan menuju ke sana lebih tidak beraturan, sebagian undakan berbatu, sebagian tanjakan dengan tatanan batu cukup licin, sebagian jalan becek, dan sebagian lagi undakan tanpa alas batu sehingga perlu bantuan tali dan kayu untuk berpegangan.

Rutenya tidak terlalu panjang, sekitar 20 menit kami sudah sampai di pos dua. Agak kebingungan karena ada beberapa spot untuk menunggu sunrise dan tidak ada petunjuk manakah yang menjadi puncak Sikunir. Tersedia musholla, bagi yang belum shubuh di pos satu bisa shalat di sini. Cukup lama kami menunggu matahari terbit. Duduk di atas bebatuan sembari merasakan hembusan hawa dingin.

Setelah sekitar satu jam menunggu, akhirnya matahari menampakan sinarnya dari balik awan dan kabut. Tampak sebentar kemudian hilang. Begitu berulang. Hingga kami putuskan turun, hanya sebentar kami bisa menyaksikan sinar matahari. Perjalanan turun agak mendingan, karena cuaca terang. Hanya tetap butuh kehati-hatian karena jalanan licin dan sebagian undakan tanah belum diperkeras dengan batu.

Sepanjang perjalanan dari bukit Sikunir ke tempat parkir tersedia banyak warung kuliner. Anda bisa mencicipi aneka gorengan, olahan kentang ataupun minuman khas Dieng, Carica dan Purwaceng. Atau memborong hasil pertanian paprica, kentang dan terong belanda. Kami memutuskan untuk mencicipi gorengan ditemani secangkir kopi hitam di deretan warung, seberang telaga Desa Sembungan.

Kelak, kami akan ceritakan tentang Desa Sembungan. Negeri di atas awan yang dijuluki desa tertinggi di Pulau Jawa.

Silakan untuk menikmati foto-foto : Tapak Demi Tapak Menuju Puncak Sikunir

Sebelumnya
Berikutnya

Penulis:

0 comments: