WHAT'S NEW?
Loading...

Menikmati Kemacetan Yogya di Akhir Pekan

Yogya macet? Tidak macet-cet sih sebetulnya. Masih bisa jalan tapi teramat pelan, hanya di beberapa ruas jalan saja terkadang saya dipaksa menginjakkan kaki untuk bertumpu. Sabtu – Ahad, entah mengapa lalu-lintas Yogya bertambah padat berlipat.


Dulu seorang Dosen Fiqih lulusan Al Azhar Mesir, menuturkan keheranannya akan jalanan Yogya yang seakan ‘berkembang’ karena bertahun-tahu ia di Yogya tak merasakan macet, padahal jumlah kendaraan terus bertambah.

Namun kini, tampaknya harus dikoreksi. Pertambahan luas jalanan Yogya, serta aneka rupa rekayasa lalu lintas nyatanya tak membuat Yogya tambah lancar. Hari demi hari kemacetan terus meluas.

Masih ditambah perilaku pelalu-lintas yang kian tak ramah. Pada akhir pekan, rasakanlah jalanan Yogya.

Jika ingin melihat para pengendara roda empat menyerobot jalur pesepeda motor, datanglah ke ring-road utara. Dari arah barat sebelum bang-jo Jalan Kaliurang, akan Anda jumpai banyak mobil yang tak sabar dan menutupi jalur lambat.

Jika ingin melihat para pelanggar lampu bang-jo yang nyata-nyata nerabas lampu merah di depan pos Polantas, beralihlah ke perempatan Pelem Gurih Gamping (Jalan Wates) di sana akan Anda temui banyak kendaraan dari arah utara melanggar lampu merah persis di hadapan para Polantas. Sudah bertahun-tahun, dan didiamkan saja.

Jika ingin melihat hamparan parkir kendaraan menutupi badan jalan, serta mengganggu kelancaran lalu-lintas, tengoklah jalan KH. Ahmad Dahlan, Jl. Monjali setelah utara Selokan Mataram, Jl. Kapten Tendean selatan Wirobrajan, dan banyak lagi jalan yang jadi lahan parkir dadakan. Anehnya, terus dibiarkan.

Memang masih banyak orang yang mengatakan dan tegas menyebut Yogyakarta Berhati Nyaman, tapi tanpa penataan yang serius maka saya sangat khawatir pelan tapi pasti Yogkarta Berhenti Nyaman.

Dulu Yogya dikenal sebagai Kota Sepeda, sebab banyaknya pelalu-lalang dengan bersepeda. Tapi kini, jalur sepeda yang jelas telah dibuat dengan list kuning pun, masih saja dihadang dengan mobil yang diparkir sembarangan. Di lampu merah, memang ada ruang tunggu untuk pesepeda, tetapi itu saya pikir hanya jadi sekedar pemanis.

Siapakah yang akan serius mengurus Yogya? Tentu akan ada di plakat janji para calon walikota.


_ ditulis penuh cinta, untuk Yogya_

0 comments:

Post a Comment