WHAT'S NEW?
Loading...

Tentang 21 April, Simbol, Makna dan Atribut



(Sebuah Catatan)

Sewaktu kecil, saya melihat kakak-kakak kelas mengenakan pakaian adat pada 21 April, entah apa makna dan tujuannya.
Jika kehebatan Kartini karena pakaiannya, maka mungkin agar terlutalari tuahnya. Semua mesti pake kebaya.
Setahu saya, sejarah Kartini lebih dikedepankan makna 'pemberontakan' wanita untuk setara dengan pria.



Sisi ini sengaja dikedepankan oleh kawan-kawan Kartini di Eropa.
Mengabaikan sisi relijius Kartini
Seperti kegigihan Kartini mengkaji makna Al Fatihah
Bahkan, entah disadari atau tidak judul kumpulan surat Kartini merujuk pada ayat Al Quran Surat Al Baqarah 257, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).
Dalam bahasa belanda, "Door Duisternis tot Licht"
Kemudian dengan sentuhan puitis Amrin Pane mengubahnya menjadi
"Habis Gelap Terbitlah Terang"

Mengapa Kartini bukan Cuta Nyak Din, Cut Meutia dan Pahlawan muslimah lainnya yang juga berjuang sejajar dengan kaum laki-laki?
Mereka juga mengajar bahkan terjun ke medan perang
Mengapa harus kebaya? Ada banyak alasan bagi kaum penjajah menjadikan Kartini sebagai ikon.

Kartini Dulu, Kini
Seperangkat seragam 'Kartinian' itu tidak murah
Saya membayangkan para siswa yang kurang mampu harus mengusahakannya. Berapa ongkos sewa, betapa repotnya harus mondar-mandir ke sini- ke sana.
Perlu dipahami bahwa tidak semua orang tua 'care' dengan kegiatan semacam ini. Sehingga sang anak harus berupaya sendiri.
Pelaksanaan Kartinian tahun ini lebih dramatis
Di kala nilai TPM edisi terakhir yang turun
Saat kelas 3 persiapan UN, semestinya ini pekan tenang
Belum lagi persiapan Aksioma yang segera menjelang
Ah.....

Semoga saja para siswa (murid) bisa membagi waktu, energi dan konsentrasi.
Meneladani intisari semangat Kartini,
tidak sekedar atribut yang berwarna-warni.
Merdeka!


*catatan seseorang yang sedang berusaha mencari pakaian adat jawa J

0 comments:

Post a Comment