WHAT'S NEW?
Loading...

Keikhlasan Seharga 50 ribu



Terkisah di sebuah negara yang konon mengedepankan keikhlasan dalam bekerja dan beramal. Para pekerja berkarya dengan derajat masing-masing. Ada yang benar-benar bekerja sesuai amanah yang diberikan sebagai bentuk pengabdian kepada negara dan rakyat yang menggaji mereka. Ada pula yang sekedar menghabiskan waktu, sembari beranjangsana menunggu waktu ‘berbuka’.




Tersebut, seorang yang biasa mendapat antrian limpahan dari mahaguru untuk berbagai hal yang tak sejalan dengan ‘tupoksi’-nya. Semua itu dikerjakan dengan sepenuh kemampuan dan keluangan waktu yang ada. Ada yang datang dengan senyum dan berlalu dengan ungkapan terima kasih. Ada yang tak sabar dan terbiasa mendikte. Ada pula yang memerintah seperti sang majikan. Aneka warna, aneka rupa. Seperti merasa tak bersalah. Tak berdosa.

Terhimpun, dalam satu masa, ketika datang musim panen, atas nama profesi, atas nama keprofesionalan mereka diberi imbal. Sebagai seorang saudara, ingin membagi bahagia dengan saudara yang lainnya. Maksud dan niat yang sungguh mulia. Lalu mengalirlah rupiah, tersimpan dalam amplop putih. Terbagi rata. Adil dan merata, seperti semboyan negara kita.

Terganga, dalam balutan rasa penuh tanda tanya. Kemana harga sang penunggu antrian kerjaan? Berapakah? Tentu menanti penuh tanya. Akankah ia mendapatkan sepadan dengan apa yang dilakukan? Lima ratus ribukah? Bukan! Dua ratus ribukah? Tidak! Seratus lima puluh ribukah? Salah! Seratus ribukah? Bukan! Tujuh puluh lima ribukah? Salah!

Tetapi, keihklasan itu hanya seharga lima puluh ribu rupiah! Selembar uang dengan kertas warna biru.

Tertegun, begitu remehnya. Sejak saat itu, sang penunggu antrian pekerjaan itu tak pernah mengharap. Seperti sedia kala ia tak pernah berharap. Tetapi mahaguru itu, mereka masih selalu datang entah sampai kapan...


*) sang penunggu itu tak pernah menyimpan harap, tak diberipun tak akan mengiba, tetapi ketika lembaran 50 ribu itu selalu datang, ia seperti tertampar. Harga pengabdiannya begitu rendah ditawar.

0 comments:

Post a Comment